Catatan Hazairin Sitepu

Sedih dan Menangis di Sholeh Iskandar

Hati saya memang sangat sedih. Tetapi ratusan burung mungkin saja menangis. Ratusan ribu serangga dan jutaan mahluk di bawah permukaan tanah terancam mati.

Mereka kehilangan kehidupannya setelah ratusan pohon rindang di Jalan Sholeh Iskandar (Sholis) dimusnahkan oleh proyek jalan bebas hambatan di jalur itu. Air hujan akan semakin membanjiri jalan raya. Polusi di wilayah itu pun akan semakin mengancam kehidupan.

Penebangan dan penghancuran ratusan pohon di Jalan Sholis itu rupanya sudah sejak beberapa hari lalu. Saya baru melihatnya kemarin setelah seminggu terakhir sibuk di luar Bogor.

Pepohonan yang hijau nan rindang di median jalan sejauh kurang-lebih dua kilometer itu petang kemarin kira-kira tinggal 30 persennya saja yang masih berdiri. Lainnya sudah rata dengan tanah.

Pohon berjumlah kurang-lebih 500 itu rata-rata berusia di atas lima tahun. Ada pula di atas 10 tahun.

Sebagian besarnya ditanam atas prakarsa Kolonel Doni Monardo ketika menjabat Danrem 061 Suryakancana enam tahun yang lalu. Saat ini Doni adalah Pangdam Pattimura dengan pangkat mayor jenderal.

“Saya mau tanam pohon trambesi,” kata Doni ketika bertemu saya di Graha Pena kala itu. Berarti Jenderal Donni pun sangat sedih bila tau musibah ini.

Sebagai pegiat lingkungan sejak 2002, membuat gerakan menanam 10 juta pohon di Bogor, lalu menginisiasi gerakan 5 juta Lubang Resapan Biopori, bersama sahabat Bobats membuat gerakan Bogorku Bersih, dll, saya mohon walilota supaya tidak mengizinkan dulu proyek itu dilanjutkan sebelum semua pohon di Sholis benar-benar dipindahkan dan ditanam kembali dengan baik di lokasi lain.

Sholis adalah salah satu lokasi di mana kami membuat 500 sampai 600 Lubang Resapan Biopori. Dan semua lubang biopori di depan Universitas Ibnu Khaldun Bogor sudah dihancurkan.

Membangun jalan tol di jalur itu memang penting. Lagi pula Sholis adalah salah satu jalur ekonomi utama di Bogor. Bila sudah selesai, jalan tol dapat saja mereduksi kemacetan yang sepanjang hari terjadi di poros itu. Tetapi tidak harus menghancurkan pelestari kehidupan.

Pemberi izin tahu bahwa menanam dan membesarkan pohon sebanyak itu sangatlah sulit. Tahu bahwa membuat lubang resapan biopori dengan sukarela itu sangatlah sulit.

Tahu bahwa menebang dan menghancurkan pohon-pohon di Sholis itu memberi cermin buruk kepada anak-anak yang tiap hari diajarkan oleh orangtua di rumah dan guru-gurunya di sekolah bahwa lingkungan itu wajib dilestarikan bukan dirusak.

Tahu bahwa anak-anak akan bertanya kepada orang tuanya, kepada gurunya tentang mengapa pohon-pohon itu ditebang dan dihancurkan begitu saja.

Mohon, pohon yang tinggal sedikit itu jangan lagi ditebang, jangan lagi dirusak. Tapi diangkat, dipindahkan. Biarlah anak-anak yang lewat di Sholis dapat melihat proses itu. Bila perlu ajak anak-anak melihat prosesnya sambil menjelaskan kepada mereka mengapa harus demikian. **

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close