SUKABUMI – Nama Geopark Ciletuh boleh saja dielu-elukan sebagai kawasan wisata geologi go internasional di berbagai media. Baik media cetak, media sosial hingga media elektronik televisi. Keindahan destinasi wisata yang ditawarkan memang begitu beragam.

Untuk di Kecamatan Ciemas saja, ada beberapa destinasi keindahan yang ditawarkan. Bukan hanya pemandangan dari darat ke laut, tapi juga sebaliknya, dari laut ke darat pun tak kalah menyajikan keindahan alamnya. Mulai dari Panenjoan, Puncak Darma, Curug Awang, Curug Sodong, Curug Cimarinjung hingga Pantai Palampang.

Bagi nelayan, memang lokasi Pantai Palampang dan keindahan di bukit-bukit kecil yang mengelilingi pantai sekitar 36 KM itu terlihat biasa. Namun bagi pengunjung dari luar daerah, terlebih para peneliti atau ahli geologi, bebatuan di sempadan pantai yang berbatasan dengan bukit-bukit kecil itu memiliki nilai tawar tinggi. Kendati untuk bisa menikmati lokasi itu harus menggunakan perahu dengan jarak tempuh sekitar 2 jam.

Nama-nama bukit, karang dan batu itu sangat unik lantaran berhubungan dengan kemiripan dengan makhluk halus dan hewan-hewanan. Mulai dari pulau kunti, karang bolong, batu kodok, karang punggung naga hingga batu batik.

 Nah, kali ini, Geopark Ciletuh Palabuhanratu ini bakal kedatangan tim penilai agar masuk standar internasional. Ya, Unesco Global Geopark (UGG). Yang menjadi pertanyaan, siapkah masyarakat Sukabumi menyambut UGG ini?

Disinggung masalah tersebut, tokoh masyarakat Ciemas yang juga Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Ujang Abdurrohim Rochimi menggantungkan sepenuhnya kepada pemerintah. Kerena menurutnya, sejauh ini pun kesiapan Geopark Ciletuh menuju UGG dinilainnya masih jauh.

“Apakah mereka sudah siap kawasan Geopark ini menjadi UGG. Karena fasilitasnya belum memadai,” kata Batman sapaan akrab Ujang Abdurrohim Rochimi saat ditemui Radar Sukabumi.

Soal kesiapan masyarakat, tentu ia menunggu pemerintah untuk segera melakukan pembinaan. Lantaran, masyarakat akan mengikuti apa kata pemerintah. Terlebih, demi kemajuan daerah dan meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. “Kalau masyarakat tergantung pemerintrah. Seperti anak tergantung bapaknya,” ucapnya.

Begitupun yang disampaikan Kepala Desa Ciwaru Kecamatan Ciemas, Taofik Guntur Rocmi. Ia menilai, pemerintah seakan belum siap menghadapi UGG ini. Lantaran hingga kini, masyarakat masih minim menerima sosialisasi dari pemerintah.

Padahal, potensi destinasi wisatanya memang ada dan terus-terusan disosialisasikan ke luar daerah bahkan mancanegara. Sehingga, berkunjung ke Taman Bumi Geopark Ciletuh ini belum bisa memberikan kesan yang membanggakan berupa cenderamata atau hiburan. Selain foto-foto bersama bebatuan, laut, curug dan keindahan alam.

“Kita ingin seperti Jimbaran Bali. Butuh galeri cenderamata, aula serbaguna atau aula pertemuan, pasar wisata hingga pasar ikan yang representatif. Sekarang silakan anda lihat sendiri. Kita belum punya fasilitas itu,” tuturnya.

Di lokasi itu, memang belum terlihat pusat perbelanjaan yang bisa menjadi cenderamata bagi wisatawan. Padahal, wisatawan lebih bangga membawa cenderamata dari tempat kunjungannya.

Selain itu, di lokasi Pantai Palampang masih miskin wisata atraksi termasuk wisata air hingga kapal pesiar. Saat ini, untuk menikmati penelitian wisata geologi, wisatawan harus menggunakan perahu sope (perahu kincang) milik nelayan. Itu pun belum banyak peminatnya. Rata-rata, mahasiswi dan para peneliti geologi.

Jika airnya tenang, wisatawan bisa menikmati berfoto di atas beberapa batu karang. Namun, jika cuaca buruk seperti saat wartawan koran ini berkunjung, wisatawan hanya bisa menikmati dari dekat di atas perahu nelayan.

“Geopark Ciletuh itu kan bebatuannya unik yang berada di sempadan pantai itu. Saya bertanya, dengan diperluasnya wilayah Geopark ini, menjadi delapan kecamatan, seperti tidak terarah. Termasuk pelaksanaan Ciletuh Geopark Festival (CGF). Lokasinya pindah-pindah. Rencananya nanti akan di Palabuhanratu. Makanya kita akan menggelar juga festival sekaligus berbarengan dengan hari nelayan di sini (Pantai Palampang), sebagai salah satu kesiapan masyarakat menyambut UGG ini,” bebernya.

Ia menilai, destinasi wisata di wilayah Palabuhanratu sudah go internasional, sehingga tidak lagi harus disuntik dengan pagelaran CGF. Makanya, ia meminta agar destinasi wisata di wilayah Cigaru yang terus digenjot termasuk dengan kegiatan-kegiatan festivalnya. “Dengan kegiatan itu kan targetnya untuk menarik pengunjung. Jangan sampai ruhnya ditinggalkan,” kritiknya.

Taofik juga menyampaikan, masyarakatnya menolak jika ada investor yang ingin membangun hotel berbintang. Lantaran, warga kini sudah menyiapkan rumah-rumahnya menjadi home stay. Setidaknya, di Desa Ciwaru saja ada 40 home stay dan 40 penginapan milik warga.

Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Ciemas, Camat Ciemas, Lesto Rosadi menyebutkan, di wilayahnya terdapat 200 home stay milik warga yang bisa dimanfaatkan wisatawan. Untuk satu home stay atau penginapan, rata-rata dibanderol Rp250 ribu-350 ribu per malam.
Di wilayah Ciemas sendiri, memiliki luas wilayah 26.696 ha, sawah 4.471 ha, tanah kering 10.931,5 ha, tanah hutan 8.810,5 ha, tanah lain-lain 1.193 ha.

Sedangkan jumlah penduduk yang sudah terdata berdasarkan per-2017, sebanyak 51.565 jiwa. Yakni petani dan buruh sebanyak 26.776 orang, pedagang 13.468 orang, pegawai swasta sebanyak 5.531 orang, PNS sebanyak 221 orang, TNI/Polri 26 orang dan pelajar sebanyak 5.543 orang.

“Kalau perubahan karakter masyarakatnya dominan masih seperti itu. Hanya saja untuk di wilayah wisata, mereka menunggu pembinaan dari pemerintah,” kata Lesto.
Lesto juga menyebutkan, masyarakatnya menolak jika ada investasi berupa pendirian hotel berbintang. Alasannya, mereka sudah menyediakan rumahnya dijadikan home stay dan penginapan.

“Kami juga berharap, OPD mempersiapkan diri dalam rangka membantu mempersiapkan masyarakatnya. Jadi tidak hanya publikasinya saja ke internasional, tapi juga kesiapan di lokasi kunjungannya,” bebernya.

Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kecamatan Ciemas, Yadi Mulyadi menyebutkan, ada 12 guide yang sudah mengikuti pelatihan dan siap mengantarkan wisatawan. Namun, ia juga mengakui masih ada kelemahan dari sisi berbahasa asing. “12 guide ini sudah bersertifikat. Kita siap mengantarkan wisatawan ke tempat tujuannya,” sebutnya. (ryl)

(Visited 87 times, 1 visits today)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here