SUKABUMI – Sedikitnya, 200 masyarakat Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas antre membuat administrasi kependudukan (adminduk), baik itu kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK) dan akta lahir. Pembuatan administrasi yang dilaksanakan Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) itu berlangsung hingga larut malam di Aula Desa Ciwaru tepatnya hingga pukul 24.00 WIB.

Menurut Kepala Desa (Kades) Ciwaru, Taofik Gunturrochmi, pelayanan pembuatan adminduk itu merupakan salah satu upaya pihak pemerintah desa dalam mempersiapkan masyarakat menyambut Geopark Ciletuh Palabuhanratu (UGG). Selain itu juga, sebagai wujud kinerjanya dalam pembenahan adminduk masyarakatnya.

 “Kita memohon kepada UPTD agar dilakukan perekaman KTP dan pembuatan KK di Balai Desa Ciwaru.  Karena, jika ke UPTD Dukcapil di Jampang Kulon kan jauh, kasihan masyarakat. Alhamdulillah dapat dikabulkan. Masyarakat juga menyambutnya sangat antusias,” jelas Taofik saat ditemui Radar Sukabumi.

Menurut Taofik, masyarakat Desa Ciwaru merasa bangga dengan ditetapkannya kawasan Geopark Ciletuh. Lantaran ia juga meyakini, jika fasilitas sesuai yang dibutuhkan dipenuhi pemerintah, 2018 mendatang kunjungan wisatawan akan berlipat ganda. Kondisi itu tentu akan meningkatkan perekonomian masyarakat di kawasan Geopark Ciletuh.

Sementara itu, Kepala Urusan Pemerintahan (Kaur Pem) Desa Ciwaru, Danu Miharja menyebutkan, untuk pembuatan KTP dan KK, masyarakat tidak dikenakan biaya. Namun bagi pemohon akta lahir yang usianya di atas 60 hari, dikenakan denda Rp25 ribu sesuai dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk).

“Selebihnya keikhlasan masyarakat untuk memberikan uang lelah bagi perangkat desa. Karena pelayanan publik ini juga di luar jam kerja. Tapi, ada juga yang tidak ngasih. Ya tidak masalah,” katanya.

Antrean panjang itu berlangsung sejal pukul 08.00 WIB. Bahkan tak sedikit yang mengantre sejak pagi baru bisa dilayani tengah malam. “Banyak yang datang dari pagi, tapi persyaratannya tidak lengkap. Jadi balik lagi untuk melengkapinya. Makanya ada yang mengantre lama,” sebutnya.

Ia menyebutkan, pemohon sebanyak itu didominasi oleh warga yang baru diwajibkan membuat KTP yakni usia 17 tahun. Sedangkan yang membuat akta lahir rata-rata usia anaknya di atas 60 hari.

Sementara itu, salah satu warga, Maryati (43) mengaku senang dengan adanya pembuatan adminduk di Desa Ciwaru. Lantaran, hingga kini ia malas membuat KK dan KTP lantaran jarak tempuh ke UPTD sangat jauh.

“Kalau ke Jampang Kulon kan ongkos saja harus Rp50 ribu. Alhamdulillah sekarang dekat. Meski harus mengantre dari dari jam 10 pagi,” tutur Maryati.
Ia juga tidak mempermasalahkan jika harus membayar. Yang terpenting, tidak terlalu mahal sehingga tidak memberatkan.
“Ya memang bayar. Tapi sifatnya suka rela. Saya ngasih Rp10 ribu untuk KTP. Soalnya kasihan petugas juga sampai harus melayani hingga larut malam,” ucapnya. (ryl)

(Visited 47 times, 1 visits today)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here