SUKABUMI – Soal potensi alam, Sukabumi memang tidak ada duanya. Selain dikenal sebagai wilayah terluas se-Jawa dan Bali, tempat ini juga punya segudang keindahan alam seperti wisata laut, gunung dan air terjun.

Baru-baru ini, para backpacker marak memperbincangkan wilayah indah yang berada di kawasan Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Disini, ada sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan Bukit Sunda.

Bukit yang berada di Kampung Jambelaer, Desa Padaasih itu banyak dikunjungi masyarakat, mereka makin terpikat oleh suguhan pemandangan yang sungguh sangat mempesona.
Untuk mencapainya tak terlalu sulit, karena bisa di akses menggunakan kendaraan roda dua maupun empat. Bahkan jika kita tidak memiliki kendaraan, bisa menyewa jasa tukang ojeg sampai ke lokasi.

Bukit Sunda bisa ditempuh dalam waktu hanya 15 menit saja. Tapi jangan lupa, bagi Anda yang ingin berkunjung ke bukit ini sebaiknya siap-siap membawa topi atau payung.

Warga yang berkunjung ke bukit ini ternyata tidak hanya wisatawan lokal saja, namun dari luar kota pun banyak, salah satunya Nina.  Warga Kota Bandung ini sengaja menyempatkan diri bersama teman-teman, untuk berkunjung ke Bukit Sunda.
Bukit Sunda juga mempunyai potensi untuk dijadikan tempat wisata, dengan spot view pemandangan Gunung Gede dan View Cisaat.(wdy/t)

Kisah di Balik Gunung Sunda

Dijadikan Tempat Ritual

Selain pemandangan yang keren, ketika berada di puncak Bukit Sunda ini konon katanya menurut salah satu warga Desa Padaasih, Eni, setiap malam Selasa dan Jumat, bukit yang satu ini sering dijadikan tempat sesembahan.

Namun, pengunjung yang berniat untuk  mencari jodoh dan rezeki, bukan warga asli Sukabumi melainkan wisatawan dari luar kota seperti Garut, Sumedang, Tasik dan beberapa luar kota lain.

“Setiap malam Selasa sama Jumat suka ramai, katanya mereka sedang melakukan ritual,” .

Gunung Sunda secara geografis terletak di Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Nama Gunung ini diserap dari bahasa Seloka. Yakni gunung dan tuna. Gunung berarti gunung sementara, sedangkan Tuna ialah tempat penyimpanan.

Konon, gunung ini pada zaman dahulu menjadi pusat penyimpanan barang pusaka para pendekar dan tokoh pemuka agama.

Selain itu, Gunung Sunda ini oleh masyarakat setempat disebut Gunung Kerud, artinya gunung tempat berkumpulnya harimau.

Dari beberapa cerita yang dikutip Radar Sukabumi, tak sedikit yang menyebut konon bukit tersebut  merupakan salah satu  tempat yang pernah di singgahi Prabu Siliwangi, dan ini semua dapat dibuktikan dengan jalan yang menuju Bukit Sunda yang diberi nama Jalan  Siliwangi (Cibatu-Babakan-Cipancur-Ciroyom,red), dan arah menuju Kadudampit itu diberi nama Surya Kencana.

Di gunung itu, konon Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi singgah bersama balatentaranya saat dikejar oleh putranya Prabu Kian Santang. “Bukan Gunung Sunda sebetulnya, tapi Gunung Tuna. Oleh generasi sekarang disebutlah Gunung Sunda,”ungkap sesepuh Gunung Sunda, Ahri Abdul Fatah kepada Radar Sukabumi.

Tepat di puncak Bukit Sunda, begitu banyak cerita yang menjelaskan bahwa puncak bukit ini terbagi menjadi dua kawasan, yakni kawasan pertama itu di duduki oleh jin (timur) dan kawasan kedua (barat) oleh kerajaan Padjajaran.

Selain itu, juga terdapat bermacam-macam batu dengan bentuk dan keanehan yang berbeda-beda, dari mulai Batu Lulumpang lantaran bentuknya seperti lulumpang, Batu Buruy, Batu Bilik dan Batu Kasur.

Pada 1947 silam, belanda sempat mendatangi Gunung Sunda ini. Mereka ingin menjadikan tempat tersebut sebagai basis pertahanan. Namun, berkat perlawanan masyarakat pribumi, akhirnya Belanda angkat kaki dari tanah Gunung Sunda.

“Tapi ada dua pasangan Belanda yang tertinggal di sana. Mereka sampai saat ini tidak kembali,”imbuhnya.

Diakui pria 74 tahun itu, banyak misteri yang terjadi di Gunung Sunda. Ada sebuah larangan bagi pengunjung yang datang ke sana. Kebanyakan menurutnya, manusia yang menjadi korban lantaran menganggap remeh pada larangan itu.(wdy/REN)

 

 

 

(Visited 131 times, 1 visits today)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here