Home » BERITA PENDIDIKAN » Gerakan Sumbangkan Seragam Harus Dirintis Sekolah
Pengamat Kebijakan Publik dan Pendidikan, Asep Deni

Gerakan Sumbangkan Seragam Harus Dirintis Sekolah

SUKABUMI – Pelulusan setiap tahunnya selalu diisi para siswa dengan hal-hal yang kurang baik, seperti corat-coret baju hingga kompoi dijalanan hingga menggangu keamanan dan keteriban masyarakat.

Meski saat, ini tidak begitu terlihat banyak, namun masih ada sebagian siswa yang masih melakukan corat-coret baju yang dilakukan tanpa sepengetahuan sekolah. Melihat fenomena yang sudah terjadi turun temurun dari awal tahun 90an ini membuat para pengamat berpendapat. Diantaranya Pengamat Kebijakan Publik dan Pendidikan Asep Deni yang mengatakan ada beberapa upaya agar momen pelulusan ini berlangsung rapi, diantanya adalah memberikan penyadaran kepada para pelajar bahwa tradisi arak-arakan yang diwariskan seniornya adalah hal tidak baik.

Selain itu kepala sekolah, para guru harus memberikan arahan dan melibatkan mereka dalam kegiatan yang baik, misalnya mengadakan acara pemberian baju layak pakai jadi baju yang asalnya akan di corat coret menjadi manfaat untuk yang membutuhkan, orangtua harus terlibat dalam memberikan pengawasa dan arahan.

“Saya rasa anak-anak akan mengerti apabila diberi arahan yang baik, “katanya.

Hal senada dikatakan, Mulyawan S Nugraha menambahkan fenomena corat-coret seragam dan arak-arakan saat pelulusan SMA/SMK/MA untuk tahun ini sebenarnya tidak harus terjadi.

Karena kelulusan siswa kelas XII ditentukan oleh sekolah masing-masing. Bukan oleh karena nilai UN. Artinya, tidak harus corat coret dan arak-arakan, siswa memang akan lulus.

“Saya yakin sekolah tidak membiarkan siswanya utk melakukan corat-coret dan arak-arakan. Karena hal ini tidak sesuai dengan perilaku akhlak mulia. Lebih ke arah yang sia-sia dan cenderung akan menimbulkan risiko dan dampak yang membahayakan. Jika ada kabar bahwa terjadi tawuran dan bentrokan fisik antarsiswa yang sedang arak-arakan itu hanya salah satu hasil dari penyimpangan Perilaku siswa.

Bagaimana hal itu agar dapat dikurangi, untuk corat coret, bisa dilakukan dengan cara sekolah menyiapkan stand khusus untuk menampung seragam yang layak pakai untuk disumbangkan.

“Kaitan dengan arak-arakan, harus melibatkan juga pihak lain. Terutama orang tua dan pihak penegak hukum. Dinas Pendidikan perlu bekerjasama dgn Polisi utk mengeluarkan surat edaran tetang hukuman bagi siawa yang terjaring sedang melakukan arak-arakan saat pengumuman Hasil kelulusan/nilai UN. Suratnya disampaikan ke pada orang tua murid,”tutupnya.

Ditempat terspisah Ketua PGRI Dudung Kuswara menghimbau untuk mengantisipasi adanya arak-arakan yang menggangu lalulintas, namun apabila anak-anak mencorat-coret bajunya di sekolah atau pun di rumahnya itu tidak jadi masalah, karena euporia itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun tentunya dengan cara yang baik dan tidakĀ  menyimpang dari norma agama dan negara.

Menurutnya ketika anak-anak mencorat coret pakaian nya itu tidak salah karena itu salah satu bentuk ekpresi kegembiraan.

“Walau bagaimana pun mereka anak-anak kita, ketika salah maka harus d benarkan”, “tegasnya.

(cr14)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Sukses Pemuda Pembuat Bisnis Les Privat Berbasis Website Tawarkan Les Privat Dengan Aplikasi

Tingginya kebutuhan masyarakat untuk mengakses dunia pendidikan menjadikan peluang besar bagi salah seorang pemuda asal ...