Home » PENDIDIKAN NASIONAL » Sarjana Menganggur Kini Semakin Meningkat
Ilustrasi

Sarjana Menganggur Kini Semakin Meningkat

BOGOR – Minimnya daya serap tenaga kerja, mengakibatkan warga yang menganggur masih tinggi. Bahkan, Dinas Tenaga Kerja Sosial, dan Transmigrasi (Disnakersostrans) Kota Bogor mencatat jumlah pencari kerja masih ada ribuan orang.

Kepala Bidang Pelayanan Sosial Wirna Lasminawati mengatakan, hingga Rabu (28/12) ada 3.234 pencari kerja.

Sedangkan, tahun lalu 3.515 pencari kerja. “Yang paling banyak, lulusan SMK mencapai 1.437 orang. Sedangkan, tahun lalu 1.602 orang,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Sementara, sarjana mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Tercatat sebanyak 462 sarjana. Padahal, selama tahun 2015 hanya ada 421 sarjana yang mencari kerja.

Kepala Seksi Hubungan Industrial dan Persyaratan Kerja Disnakersostrans Kota Bogor, Yulianti menambahkan, untuk tenaga kerja yang lapor karena mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga akhir Oktober 2016 tercatat 17 orang. Sedangkan, tahun sebelumnya ada 80 orang.

“Berdasarkan data sementara, terjadi penurunan jumlah pekerja kena PHK di tahun 2016 sebanyak 63 pekerja atau sekitar 79 persen dibandingkan tahun 2015 dengan periode yang sama,” katanya.

Sepanjang tahun 2016, sambung dia, bulan Oktober merupakan bulan terbanyak pekerja yang mengalami PHK yakni lima pekerja.

Disusul April sebanyak empat pekerja. Sedangkan, selama tahun 2015 lalu, bulan Januari tercatat sebagai jumlah pekerja yang terkena PHK terbanyak, yakni 53 pekerja, disusul pada bulan Maret sebanyak 18 pekerja.

Para pekerja yang diPHK terdiri dari berbagai sektor kerja yaitu sektor-sektor perdagangan, jasa dan investasi, pendidikan, infrastruktur, dan industri.

“Pemerintah Kota harus terus mengupayakan untuk terus menekan angka PHK,” katanya.

Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan jumlah pengangguran dari SMK dan Perguruan Tinggi mengalami peningkatan.

Ia memaparkan, ada tiga jenis guru yang mengajar, yakni guru normatif, guru adaptif, dan guru produktif.

Komposisi guru tersebut kurang baik karena membuat siswa kurang fokus pada tingkat kemampuan produktifitasnya

. Ia berharap hal itu bisa segera terbenahi dengan baik guna memenuhi target kebutuhan tenaga skill pada masa mendatang.

Oleh karena itu, perlu sinegri antara industri, perguruan tinggi dan pemerintah dalam memetakan tingkat kebutuhan tenaga kerja di Indonesia sehingga bisa menjadi acuan yang tepat bagi peserta didik.

“Kita harus menyatukan industri, perguruan tinggi dan pemerintah.

(radar bogor/cr3/net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Guru di Pedesaan Lebih Punya Integritas

JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memberikan apresiasi kepada guru-guru dan kepala ...