Home » JAWA BARAT » BEKASI » 1,7 Juta Warga Bekasi Jomblo
ilustrasi

1,7 Juta Warga Bekasi Jomblo

CIKARANG— Single itu prinsip, jomblo itu nasib. Kalimat itu kerap terdengar dari mereka yang belum memiliki pasangan resmi berstatus suami istri.

Entah untuk membesarkan hati karena tak kunjung mendapatkan jodoh, atau karena pasrah dengan nasib yang ada.

Yang jelas, jumlah jomblo baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan di wilayah Kabupaten Bekasi, jumlahnya cukup tinggi.

Database pelayanan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bekasi, terungkap dari total jumlah penduduk 3.699.608 jiwa, terdapat 963.435 penduduk laki-lakinya dan 802.516 perempuan yang belum menikah alias masih jomblo.

Survei yang dilakukan Radar Bekasi (Grup Pojokjabar.com) pekan lalu, terungkap sejumlah kecamatan yang padat penduduknya, seperti Tambun Selatan, Cikarang Selatan, Cikarang Utara, dan Cikarang Barat menempati posisi teratas secara berurutan, angka pemuda maupun pemudi yang belum menemukan pasangannya atau jodohnya.

Selain padatnya jumlah penduduk di kecamatan-kecamatan tersebut, wilayah itu juga dikenal sebagai wilayah dengan paling banyak kawasan industri di dalamnya.

Sedikitnya ada 10 kawasan industri di area kecamatan tersebut.

Berbagai alasan dikemukakan para jomblowers.

Mulai dari alasan kemandirian finansial hingga faktor psikologi yang membuat mereka betah menjomblo atau tak kunjung mendapat pasangan yang cocok untuk dibawa ke pelaminan.

Di wilayah yang jauh dari kawasan industri, seperti Setu, Cibarusah, Sukakarya, Cabangbungin, alasan para jomblowers berbeda.

Alasan masih betah menyendiri itu, karena alasan ‘takdir’.

Meski tidak mengejar materi atau pun karier, faktor nasib yang kurang beruntung kerap mereka jadikan sebagai kambing hitamnya.

Menyikapi banyaknya pemuda-pemudi yang masih betah melajang itu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi menduga ada perubahan pola pikir dan paradigma di kalangan kawula muda saat ini sehingga mereka tidak segera melakukan pernikahan.

Faktor kemandirian ekonomi tampaknya merajai alasan pamungkas mereka betah melajang. Selain tentu saja, faktor psikologinya.

“Memang ada pergeseran sekarang mereka lebih memahami.

Tidak seperti lima atau sepuluh tahun lalu, yang ada anggapan untuk wanita kalau nantinya ada di dapur,” ungkap Kasi Bina Masyarakat Kementrian Agama Kabupaten Bekasi, Mulyono Hilman Hakim.

Sepengetahun Hilman kalau pola pikir anak muda Kabupaten Bekasi saat ini, mereka lebih mengejar karir ataupun mencukupi ekonomi sebelum melangkah ke gerbang pernikahan.

“Tapi memang ada sisi baiknya, jadi setidaknya kalau berpikir matang, supaya tidak goyah, dibandingkan desakan atau karena takut nikah karena khawatir dianggap tidak laku,” katanya.

Padahal, sambung dia, dilihat dari sisi agama diperintahkan bagi mreka yang sudah ‘mampu’ untuk menyegerakan pernikahan.

’’Kalau sudah siap segera nikah, tapi makna yang didapat dari perintah itu adalah jangan sampai menahan pernikahan lalu ujungnya bermaksiat.

Agama memerintahkan kalau tidak siap, ya jangan dipaksakan, bahkan dianjurkan berpuasa,’’ imbuhnya.

Menurutnya, kekhawatiran karena belum mencapai kemandirian ekonomi sebenarnya tidak cukup alasan. ’’Padahal, bagi orang yang beragama, orang yang menikah akan ditambah rezekinya,’’ cetusnya bersemangat.

Kata dia pergeseran cara pandang menikah untuk perempuan di Kabupaten Bekasi juga berbeda dengan tempo dulu.

Kini, faktor industrialiasi turut mempengaruhi perempuan pekerja menunda pernikahan.

’’Dulu itu usia perempuan menikah 17-18 tahun.

Sekarang bergeser di atas 20 tahunan,’’ imbuhnya lagi.

“Ini biasanya adanya di kecamatan yang sudah berdekatan dengan kawasan industri atau memang sudah maju, meski juga sekarang ada mereka yang dari Pebayuran atau daerah lain, perempuan mudanya mau kerja dulu dan tidak cepat-cepat menikah,” tambahnya.

Terpisah, Kasi Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kantor Kemenag Kota Bekasi, Sambas Fauzi mengungkapkan, jumlah angka pernikahan sepanjang 2016 lalu di Kota Bekasi mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Data yang dihimpun Radar Bekasi, angka pernikahan sepanjang 2015 tercatat berjumlah 13.521. Sebanyak 9.302 proses pernikahan dilakukan di luar kantor seperti rumah ibadah.

Sisanya, sebanyak 4.219 dilakukan di dalam kantor (KUA).

(dho)

 

loading...

About aditya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

KONI Kabupaten Bekasi Tampik Tudingan Pengcab Wushu Perihal Ini

BEKASI – Keluhan Pelatih Wushu ...