Home » JAWA BARAT » BOGOR » Rute Angkot Kota Membingungkan
MULAI DIBERLAKUKAN: Wali Kota Bogor Bima Arya turun langsung mencoba rute baru angkot Kota Bogor selasa (16/5/2017). Bima menumpangi salah satu angkot rute Transpakuan (TPK) 2 Ciawi- Bubulak.

Rute Angkot Kota Membingungkan

BOGOR— Pengaturan rute atau reroting angkutan kota (angkot) resmi diterapkan selasa (16/5/2017).

Tapi, rupanya penerapan rute baru ini justru banjir protes dari sopir angkot. Salah satunya sopir Transpakuan (TPK) 2 rute Ciawi – Terminal Bubulak (Via Baranangsiang), Hadi (43).

Dia mengatakan pendapatannya menurun karena sepi penumpang. Belum lagi, menurutnya pasca diberlakukan rerouting jumlah angkot di rutenya itu makin meningkat.

Maka, terjadi persaingan antar sopir dalam mencari penumpang. “Tadinya kan di Ciawi cuma 01, tapi sekarang ada 02 dan 03 .

Soalnya yang TPK 2 ini dari angkot 01 dan 02. Kalau TPK 3 dari angkot 03 dan 21,” jelasnya kepada Radar Bogor (Group koran ini), Selasa (16/05/2017).

Rutenya yang kini semakin panjang juga menjadi salah satu keluhannya.

Semula yang hanya sampai Terminal Baranangsiang, kini Hadi harus menjalankan angkotnya hingga Terminal Bubulak.

“Kalau penumpang banyak tidak jadi masalah, karena bensin masih bisa diganti oleh pendapatan. Kalau seperti ini saya kira buat bensin pun belum tentu cukup,” keluhnya.

Kebijakan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor yang belum menentukan tarif baru pun membuatnya bingung.

Pasalnya, tidak semua penumpang mengerti berapa jumlah yang harus dibayar. Sehingga dirinya harus bernego terlebih dahulu.

“ Kita jadi bigung ngasih tarif berapa nanti ke penumpang,” ujar Hadi.

Kepala Dishub Kota Bogor, Rakhmawati mengatakan wajar saja jika terjadi kekosongan penumpang di hari pertama.

Karena setiap program yang dijalankan butuh adaptasi beberapa hari ke depan.

“Namanya hari pertama program baru pasti seperti itu, karena belum banyak orang yang tahu,” ujarnya sebelum mengikuti rapar Paripurna di Gedung DPRD Kota Bogor, Selasa (16/05/2017).

Namun, berdasarkan hasil pantauannya langsung ke lapangan, penerapan rerouting di hari pertama berjalan cukup lancar.

Bahkan, menurutnya sopir TPK 4 dan TPK 5 yang belum mulai menggunakan rute baru sudah mendesak meminta segera penerapan rute yang baru diterapkan.

“Tadi dalam perjalanan sopir TPK 4 dan TPK 5 sudah mendesak meminta kapan diberlakukannya.

Artinya ini kan seperti roda, jadi kalau sudah berputar satu maka berpengaruh kepada yang lain,” kata Rakhma.

Meski hari pertama berajalan lancar, tapi menurutnya perlu tetap menyosialisasikan penerapan rute baru secara masif.

“Tadi beberapa masyarakat yang kita tanya di Ciawi, justru banyak dari luar Kota Bogor.

Kita melihat tiga hari ke depan seperti apa, setalah tiga hari baru kita lakukan evaluasi,” ucapnya.

Dishub sambungnya, akan secepat mungkin mengkaji tarif baru bagi trayek-trayek yang sudah mulai diterapkan.

Sementara, para sopir diberikan toleransi untuk menaikan harga normal, asalkan tidak lebih dari dua kali lipat.

“Tidak mungkin dia menaikan orang dari Baranangsiang menuju Ciawi, terus membayar Rp5 ribu pasti tidak mau.

Kita masih memberi toleransi untuk sopir angkot menaikan harga, tapi naiknya tidak boleh sampai dua kali lipat,” tandasnya.

(cr3)

loading...

About aditya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hari Pertama Sekolah, Berangkat Subuh, Ortu di Bogor “Boking” Meja Demi Anak

BOGOR – Berbagai fenomena muncul ...