Home » HISTORIA » Situs Kedaton Ngurawan Madiun Makin Terkuak
KESIMPULAN SEMENTARA: Perbedaan ornamen batu di lantai dasar menandakan masyarakat yang hidup pada dua periodisasi di masa lampau. PIPISAN: Papan berbahan batu yang digunakan menggilas bumbu, rempah, dan obat-obatan di zaman kuno (kanan). (FOTO-FOTO: BAGAS BIMANTARA / Jawa Pos Radar Madiun)

Situs Kedaton Ngurawan Madiun Makin Terkuak

Upaya para pakar arkeologi untuk mengungkap sejarah masa lalu dengan melakukan penggalian di Situs Kedaton Ngurawan, di Desa Dolopo, Kecataman Dolopo, Kabupaten Madiun, makin terkuak. Temuan demi temuan di kawasan sejarah Desa/ Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, itu kian mencuat ke permukaan.

Dugaan Ngurawan sebagai kawasan permukiman di masa kuno pun semakin benderang. Terbaru, tim ekskavasi Balai Arkeologi (Balar) DI Jogjakarta mendapati pipisan batu berukuran 40×20 sentimeter.

Saat ditemukan, kondisi alat penumbuk bumbu, rempah, dan dedaunan herbal di masa lalu itu masih utuh. Cekungan di bagian tengah menandakan pipisan itu sering dimanfaatkan untuk alas menggilas. ‘’Sesuai fungsinya, pipisan selalu berpasangan dengan gandik. Sebuah batang batu untuk menggilas. Dari ekskavasi sebelumnya, kami sudah menemukan pecahan gandik,’’ kata Rita Istari, ketua Tim Ekskavasi Balar DI Jogjakarta.

Temuan pipisan dan pecahan gandik itu melengkapi temuan temuan pecahan tembikar dari proses ekskavasi sebelumnya. Pipisan batu itu digunakan kalangan masyarakat biasa. Namun, kelas sosial (kasta) dari penduduk kuno yang bermukim di kawasan setempat belum dapat dipastikan. Sebab, temuan pecahan tembikar sejauh ini terbilang beragam.

Sebagian permukaan pecahan tembikar bertekstur sangat halus, sedangkan lainnya cenderung kasar. ‘’Di masa lalu, jika barangnya halus, tentunya digunakan masyarakat berkasta tinggi. Begitu pula sebaliknya,’’ terangnya. Referensi lain menyebutkan, pipisan berasal dari zaman mesolitikum atau zaman batu tengah.

Masyarakat di masa prasejarah itu mengisi harinya dengan berburu atau mengumpulkan makanan. Di masa itu, sebagian masyarakatnya telah memiliki tempat tinggal dan bercocok tanam secara sederhana. Sebagian lagi masih menjalani hidup secara nomaden.

Namun, tempat tinggal yang dipilih umumnya di tepi pantai dan gua. Diperkirakan masa itu berlangsung sekitar 10 ribu tahun silam.Temuan dasar lantai berbahan batu boulder di kotak galian keenam tak kalah misterius. Ornamen batu alam itu dipecahpecah untuk menjadi dasaran lantai.

Sementara pada kotak galian pertama dan kedua, dasar lantai yang ditemukan berbahan batu bata kuno. Padahal, jarak antara kotak galian pertama dan kedua dengan kotak galian keenam hanya terpaut empat meter. Namun, ornamen dari kedua dasar lantai sangat berlainan. ‘’Jika dilihat dari masanya, ornamen batu boulder lebih muda dari batu bata,’’ ungkapnya.

Dari temuan itu, dapat ditarik kesimpulan sementara bila bangunan besar di antara permukiman dibuat pada dua periodisasi. Sebab, suatu tradisi tidak bisa langsung terputus. Melainkan berlanjut dari satu masa ke masa selanjutnya.

Semula masyarakat menggunakan batu bata sebagai dasar lantai. Namun, seiring berkembangnya zaman, tradisi itu berganti dengan batu boulder. ‘’Jadi, mereka tetap mempertahankan tradisi lama. Tidak ganti zaman langsung hilang begitu saja,’’ paparnya.

Bahkan, pada kotak galian di tahun sebelumnya yang berada di pojok barat juga ditemukan dasar lantai. Bukan menggunakan ornamen batu bata dan batu boulder, melainkan remukan batu bata yang dipadatkan. Kedalaman seluruh dasar lantai yang ditemukan dari tiga empat kotak galian berbeda, yakni hanya 140 sentimeter.

‘’Nah, kalau lantai berbahan remukan batu bata ini jauh lebih tua lagi,’’ bebernya. Sejauh ini, ekskavasi masih difokuskan pada bagian dalam bangunan Situs Kedaton Ngurawan. Itu terlihat dari hasil temuan berupa pecahan tembikar peralatan rumah tangga hingga ketiga dasar lantai yang berlainan bahan.

Diperkirakan, Situs Kedaton Ngurawan terbilang istimewa lantaran dikelilingi pagar keliling atau benteng. ‘’Untuk bagian luarnya, masih belum kami teliti. Masih diperlukan survei ke lokasi lain untuk memastikan perlu tidaknya ekskavasi,’’ terangnya. (bel/fin/JPG)

loading...

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

ACHI HARDJAKUSUMAH Rindu Masuk Hutan

PEREMPUAN berparas lembut yang sebelumnya ...