Home » JAWA BARAT » BEKASI » TKA Tiongkok di Kabupaten Bekasi Jadi Mandor

TKA Tiongkok di Kabupaten Bekasi Jadi Mandor

CIKARANG – Isu maraknya tenaga kerja asing asal Tiongkok yang bekerja sebagai buruh kasar bukan isapan jempol. Di Kabupaten Bekasi, ratusan pekerja asal negeri Panda itu bekerja di sejumlah kawasan industri yang ada di Cikarang. Bahkan, pembangunan sebuah pabrik otomotif (PT Sainc General Motor Wuling) dengan nilai investasi hingga triliunan rupiah, dikabarkan mengerahkan ratusan pekerja Tiongkok. Mereka bekerja di bagian konstruksi dan sebagian lainnya sebagai mandor (pengawas).

“Memang banyak orang Tiongkok yang bekerja di sini dan kebanyakan jadi mandor, juga pekerja konstruksi,” kata salah satu sumber menceritakan kepada Radar Bekasi. Dikatakannya, meski sudah ada sidak yang dilakukan sejumlah instansi, masih saja banyak pekerja Tiongkok di sana.

Informasi masuknya tenaga kerja asal Tiongkok besar-besaran di wilayah Kabupaten Bekasi ini juga dibenarkan pihak Imigrasi. Mereka bukan hanya bekerja sebagai tenaga ahli, melainkan juga sebagai buruh kasar.

Kasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II Bekasi Heri Lesmana membenarkan, kalau PT SGW banyak memperkerjakan tenaga kerja asal Tiongkok dalam pembuatan pabrik. Pihak imigrasi, kata dia sudah memberikan surat peringatan namun hingga kini belum melakukan pendataan kembali.

“Memang kemarin ini kita sudah dipanggil BKPM karena pihak perusahaan mengeluhkan kunjungan dari berbagai instansi, rencana proyek pembangunannya akan selesai Januari 2017,” ujarnya.

“Kita juga diminta BKPM untuk mengalihkan dari izin tinggal kunjungan menjadi izin tinggal terbatas makanya mereka butuh waktu untuk mengurus IMTA di Disnakertrans,” tambah dia.

Kantor Imigrasi Klas II Bekasi mencatat sepanjang Januari hingga Desember 2016, sebanyak 975 warga negara asal Tiongkok yang mengajukan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi. Dari 975 itu diklaim pihak Imigrasi sebagian sudah pulang ke negaranya setelah mengajukan Exit Permit Only (EPO) sebanyak 479. Sisanya sebanyak 496 orang masih berada di Bekasi.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bekasi mencatat hingga September 2016 data perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) asal Tiongkok ada 85 orang.

Kasi Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Bekasi Mudiana mengatakan kalau perbedaan data IMTA dan KITAS, karena IMTA hanya jangka waktu dan lokasi kerja sedangkan untuk KITAS berdasarkan domisili.

“Misalnya ada tenaga kerja asing KITAS-nya di Kabupaten Bekasi, tapi kerjanya di Karawang. Nah, secara IMTA tidak ada di Kabupaten tapi KITAS-nya domisili di Kabupaten makanya berbeda,” ujarnya.

Meski begitu informasi yang ia dapat kalau banyak Tenaga Kerja Asing yang tidak melakukan izin IMTA karena IMTA juga ada kewenangan di pusat karenanya pengawasan tentang tenaga kerja perlu diperketat termasuk banyaknya tenaga kerja dari Tiongkok yang banyak bekerja sebagai tenaga konstruksi pembuatan salah satu pabrik.

“Sayangnya kewenangan Pengawasan diambil Provinsi, makanya sekarang bukan kewenangan daerah tingkat II lagi,” ujarnya.

Plt Bupati Bekasi, Rohim Mintareja menyampaikan tegas secara lisan ke Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Bekasi terkait TKA Tiongkok.

“Sudah saya tegaskan secara lisan untuk mengawasi tenaga asing asal Tiongkok (China,red) yang ada di wilayah Kabupaten Bekasi ini. Sekarang banyak tenaga kasar yang dipekerjakan oleh tenaga asing,” tandas Rohim. (dho)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Staf Ahli di Lingkungan Pemkab Bekasi Menyusut, Gara-garanya…….

CIKARANG PUSAT – Pembentukan Organisasi ...