Home » SOSOK » Menguping Suara Emas Gadis Cisaat, Tekuni Alquran, Harum di Tingkat Nasional
Siti Aisah

Menguping Suara Emas Gadis Cisaat, Tekuni Alquran, Harum di Tingkat Nasional

SUKABUMI – Siti Aisyiah satu di antara ribuan gadis asal Cisaat yang beruntung.

Selain memiliki paras yang cantik, cucu dari KH Jamaludin dan Hj Fatimah ini memiliki suara emas dan tekun dalam menghafal Alquran. Siti juga meraih prestasi tingkat nasional dalam Unit Pengembangan Tilawatil Quran (UPTQ).

DIANA NOVITA HIDAYAT

Gadis yang beralamat lengkap di Kampung Salajambe, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi ini sempat mengharumkan Kabupaten Bandung dan Jawa Barat.

Siti mewakili Kota Bandung untuk ikut Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) lantaran ia mengenyah pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Jurusan yang diambilnya pun Ilmu dan Tafsir Alquran.

Sembali mengenyah pendidikan, ia kerap mengikuti berbagai mushabaqah (perlombaan). Bermodalkan suara emas dan hafidz Quran hasil belajarnya bersama ayahnya, Ustadz Nanang Suherman dan Bibinya yang bernama Cucu Sumiati.

Ia terus menekuni hafalan dan seni Alquran. Siti diperkenalkan dengan Alquran oleh kedua orangtuanya sejak dini. Suara merdunya juga telah mengisi banyak perayaan dan acara di kampung halamnnya. Dunia tarik suara itu, telah ia lakoni sebelum mengenal masa-masa sekolah.

Awalnya, ia begitu hobi dengan bernyanyi. namun orang tuanya mengarahkan Siti pada lantunan ayat- ayat suci alquran.

“Kalau suara saya ini keturunan dari keluarga. Saya terlahir di keluarga santri, ayah saya sangat senang dengan seni Alquran,” kata Siti kepada Radar Sukabumi.

Kakeknya yang bernama KH Jamaludin juga kerap menciptakan nada-nada sholawat versi baru di zamannya. makanya, tak heran jika Siti kini tumbuh bersama seni Alquran.

“Saya ingat betul pertama naik ke panggung besar itu saat tampil di wisuda RA Darul Falah Kampung Salajambe, Kecamatan Cisaat. Saya mendapatkan kepercayaan untuk mengisi Qori. Saat itu saya melantunkan surah Ar-Rahman ayat 1 sampai 15,” jelas alumni MI Selajambe ini.

Pada 2005 lalu, Siti mengikuti MTW tingkat kabupaten Sukabumi di Palabuhanratu. hasilnya begitu memuaskan dengan meraih juara pertama.

Tak merasa puas meraih juara di MTQ, dirinya merambah dunia hafalan quran. Terlebih di rumahnya kedua orangtuanya memang biasa mengajar tetangganya. Sehingga, tak susah ia mendapatkan bimbingan hafalan dari ibu kandungnya, Juju Juariyah.

Ia digembleng begitu konsisten, dengan menyetorkan satu ayat perhari.

Bukan hanya mengikuti MTQ dan MHQ, seni menyanyi yang dulu terpendam ia kembali dilakoni. Ya, menjadi vokalis qasidah.

Kendati mengikuti qasidah tingkat umum, yang padhal grupnya masih belia, dengan kekompakan para penabuh qasidah dan suara emasnya itu, ia tetap meraih juara.

Kecerdikan orangtuanya untuk memilihkan tempat pendidikan bagi putrinya itu juga begitu berpengaruh. Setelah keluar dari MI, Siti dititipkan di pondok pesantren khusus Alquran Al-Falah Bandung.

Hidup jauh dari orang tua bukan minder, justru membuatnya semakin gigih dan tekun dalam belajar Alquran dan seni qasidah.

Saat dites bacaan Alquran, Siti masuk ke tingkat ngaji paling atas yakni mujawwad. kelas Mujawwad itu khusus untuk para qori qoriah, tanpa melewati tahapan tahapan tingkat bawah.

Nah mengharumkan Kabupaten Bandung itu, saat Siti duduk di bangku kelas VIII MTs. Ia kerap mengikuti MTQ tingkat Kabupaten Bandung dan meraih juara pertama. Secara otomatis, Siti menjadi delegasi Kabupaten Bandung untuk ikut ke tingkat Provinsi Jawa Barat. Ia mengikuti MTQ tingkat provinsi Jabar di Lembang.

“Tapi saat itu saya hanya meraih juara ke 3 tingkat provinsi,”imbuhnya.

Lulus dari MTa Al-Falah Bandung, Siti melanjutkan di Madrasah Aliyah (MA) masih di Al-Falah Kabupaten Bandung. Saat itu pula dirinya di pilih menjadi vokalis utama qosidah.

Pertama lomba se-Kabupaten Bandung dan lagi lagi menjadi juara pertama hingga lanjut ke tingkat provinsi. Namun ada salah strategi saat mengikuti lomba qasidah tingkat Provinsi di Indramayu.

Yang padahal, lawannya memang ciut mendengar ada peserta dari MA Al-Falah.

MA Al-Falah ini terkenal dengan qori-qoriah dan suara emas qasidahnya. Namun, saat kebagian tampil, Siti masuk di waktu yang tidak berpihak kepadanya. Ya, Siti memiliki kelemahan suaranya menurun jika malam tiba. Terlebih ia terlalu banyak minum air putih hingga saat melantunkan lagu ‘Salamin baid’ nada tingginya nyaris tak dapat.

Waktu itu jam lomba nya sesudah isya, kelemahan suara saya itu kalo sudah malam pasti kurang vit dan yang salahnya sebntar lagi tampil ke panggung saya terus terusan minum itu kesalahan terbesar.

“Pas yang seharusnya merdu, malah melengking dan nadanya tidak sampai. Tentu saja banyak yang kecewa,” katanya.

Dalam perlombaan itu, ia dan teman-temannya hanya meraih juara II. Namun, ia tetap bersyukur lantaran masih bisa menjadi juara. Saat duduk di IX MA Al-Falah, Siti diminta wilayah Bogor untuk ikut lomba MTQ mewakili Kota Bogor. Meski masih remaja, ia ikut MTQ di tingkat dewasa. Dalam perlombaan itu, Siti kembali meraih juara pertama.

Di UIN Bandung, Siti juga menjadi juara MTQ di tingkat mahasiswa. Dari sana, Siti mendapatkan tawarkan rekaman murottal 30 juz di PT QURAN QORDOBA Bandung.

“Alhamdulillah dari hasil rekaman bisa meringankan biaya hidup,” ucapnya seraya bersyukur.

Masih dalam lingkup UPTQ, Siti juga pernah ikut lomba bintang vokal qasidah gambus tingkat provinsi. ia diminta rekan-rekannya. lantaran memiliki dasar suara merdu, ia meraih juara pertama dan ikut ke tingkat nasional di Palu Sulawesi Tengah.

“Alhamdulillah saya meraih juara III tingkat nasional di Palu,” tukasnya.

(*/t)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Gemar Tari Tradisional

Seni tari tradisional memang banyak diminati hingga ke manca negara. Generasi penerus pun taks edikit ...