Home » KRIMINAL » Pembunuh Guru Divonis Seumur Hidup
GRAFIS : YUZHAR DWIKA/RADAR SUKABUMI

Pembunuh Guru Divonis Seumur Hidup

GRAFIS : YUZHAR DWIKA/RADAR SUKABUMI

GRAFIS : YUZHAR DWIKA/RADAR SUKABUMI

CIBADAK – Masih ingat dengan kasus pembunuhan guru SDN 5 Cibadak, Kilah (48) pada Mei tahun 2015? Belum lama ini, proses hukum yang menyeret sang pelaku, Fitra Eka (30) telah inkrah di Mahkamah Agung (MA). Setelah perjalanan yang memakan waktu satu tahun lebih, MA mengganjar pelaku sadis itu dengan hukuman seumur hidup.
Informasi yang dihimpun, perjalanan kasus ini cukup alot. Pasalnya, PN Cibadak hanya menjatuhkan hukuman kepada pelaku selama 20 tahun penjara. Sementara, jaksa penuntut umum (JPU) menuntut pelaku dengan hukuman mati karena menilai pembunuhan tersebut sudah direncanakan oleh pelaku.

Tak terima dengan putusan itu, JPU dari Kejaksaan Negeri Cibadak langsung melayangkan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Bandung. Di PT, putusan PN Cibadak diperkuat. Karena yakin dengan pasal yang digunakan, yakni pasal 340 KUHP, JPU pun kembali menyatakan kasasi ke MA. Di MA, putusan PT dianulir menjadi putusan hukuman seumur hidup.

“Kasusnya sudah inkrah, MA memvonis saudara FE dengan hukuman seumur hidup,” ujar Kasi Pidum Kejari Cibadak, Heru Kamarullah kepada Radar Sukabumi, senin (0

8/08/2016).
Menurut Heru yang juga jaksa utama dalam kasus ini, pasal 340 yang didakwakan kepada pelaku lantaran dinilai ada unsur perencanaan saat pelaku menghabisi nyawa guru Cibadak itu. Dalam pasal itu, hukumannya ialah paling rendah 20 tahun penjara atau seumur hidup dan maksimal hukuman mati.

“Dalam persidangan kami menuntut pelaku dengan hukuman mati, setelah mengajukan banding dan kasasi untuk mempertahankan tuntutan ini, ternyata putusannya seumur hidup. Dengan demikian, kasus ini sudah dinyatakan inkrah,” bebernya.

Sementara itu, suami Kilah, Ade Kusmadi berharap pelaku pembunuhan istrinya itu dihukum mati. Pasalnya, cara pelaku dalam menghilangkan nyawa wanita yang dicintainya itu sudah sangat sadis. Namun demikian, ia menghormati putusan hukum.

“Pengennya sih dihukum mati, setimpal dengan perbuatannya. Tapi kita hormati keputusan dari penegak hukum. Mereka juga tidak mungkin gegabah,” singkatnya.

Untuk diketahui, kasus pembunuhan guru SD yang telah menyedot perhatian publik ini terjadi pada 18 Mei 2015 lalu. Diduga, motif pembunuhan guru SDN kelas VI ini lantaran pelaku dendam karena korban sering mengejek pelaku. Aksi biadab ini dilakukan tersangka ketika disuruh membereskan arsip-arsip oleh korban. Tersangka tak terima ketika dirinya dibentak-bentak korban. Tersangka langsung menghantam kepala korban dengan kursi sekolah.

Tak berhenti sampai di situ, tersangka lalu menghantam kepala korban dengan menggunakan bongkahan tembok sebesar kepala orang dewasa. Waktu itu korban masih hidup. Saat dianiaya, korban sempat berusaha melawan pelaku. Akibat perlawanan itu, tersangka mengalami luka cakar dan jari tangannya luka akibat digigit korban.

Kesadisan tersangka belum berhenti. Tersangka sempat pulang ke rumahnya yang masih berada di komplek sekolah tersebut untuk mengambil pisau dapur. Tersangka kembali mendatangi korban yang lemas dan masih bernapas. Tersangka kemudian menyeret tubuh korban ke toilet siswa. Di situ, tersangka kembali memukul berulang kali dan menggorok leher korban. Setelah itu, tubuh korban diseret ke belakang bangunan sekolah dan dibuang ke selokan. (ren/t)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Polisi Tilang 2.404 Pengendara, Pada Gelaran Operasi Patuh Lodaya

PALABUHANRATU – Satlantas Polres Sukabumi mencatatkan angka Fantastis pada operasi patuh lodaya 2017 atau menjelang ...