Home » BISNIS » Geliat Bisnis Keripik Setan Buatan Ummi di Sukabumi
Keripik Setan atau keripik singkong pedas ini banyak dipesan konsumen di Papua.

Geliat Bisnis Keripik Setan Buatan Ummi di Sukabumi

Siapa yang tidak suka dengan makanan pedas. Di lidah orang Indonesia, makanan yang pedas-pedas merupakan makanan favorit mereka. Ada anggapan, makan tidak lengkap rasanya kalau tidak pedas. Seiring tren kuliner sekarang ini, banyak pula para pelaku usaha berinisiatif menciptakan makanan super pedas mulai dari camilan hingga makanan berat.

WIDI FITRIA – Sukabumi

Keripik singkong pedas mungkin sudah tidak asing lagi bagi pencinta kuliner. Berbagai merek ternama mulai menjajaki usaha kuliner di setiap daerah, tak terkecuali Kota Sukabumi. Selain dikenal dengan sebutan Kota Mochi, kota ini kini memiliki oleh-oleh lain yang juga menjadi primadona bagi wisatawan lokal, salah satunya adalah Keripik Pedas Ummi-Kakak.

Adalah Lovita. Perempuan berusia 35 tahun warga Jalan Babakan Lio, RT 1/24, Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi mulai tertarik merintis bisnisnya menjual keripik singkong pedas sejak 2002 silam. Berawal dari jualan ke setiap sekolah, kini wanita yang akrab dipanggil Ita sukses menjual keripik setannya tersebut ke luar daerah seperti Bogor, Riau hingga ke Papua.

Kepada Radar Sukabumi, dirinya mengaku tertarik dengan bisnis keripik setan dari bibinya yang sudah memulai usaha tersebut terlebih dahulu.
“Awalnya di 2002 yang megang usaha bibi, karena bibi di Bandung jadi saya pegang dan Alhamdulilah laku, kalau untuk usaha sendiri saya sebenarnya dari mulai 2007 bikin usaha keripik sendiri,” ucap ibu dua orang anak itu.

Hanya dengan modal Rp7,5 juta melalui pinjaman dari salah satu bank BUMN, Ita mulai mengawali bisnisnya. Awalnya produk buatannya dijual dengan cara memasuk-masukkan ke tiap sekolah dengan harga Rp500. Namun seiring berjalannya waktu, produknya banyak dikenal. Keripik pedas buatan mantan pegawai pabrik di Sukabumi tersebut mulai kebanjiran order salah satunya dari Bogor.

“Alhamdulillah sekarang udah punya tiga langganan agen di Bogor, tapi ke sekolahan juga sekarang masih sih, kadang-kadang juga suka ada pesanan dari Papua biasanya yang pesan jauh itu para mahasiswa yang kuliah ke luar kota, terus bawa oleh-oleh keripik ini, eh jadi banyak yang pesan kalau ke Papua itu sampai 10 kilo atau 25 kilo sekali pesan,” cerita Ita.

Dirinya masih ingat betul, ketika modal pinjaman pertamanya itu ia gunakan untuk membeli dua karung singkong, ditambah berbagai bumbu sebagai pelengkap memasak.

Kini sepuluh tahun berlalu, ia sukses mengembangkan bisnis keripik singkongnya. “Kalau dulu mungkin orderan pakai mobil orang, sekarang udah pakai mobil sendiri dan langganan pun jadi tambah banyak,” ucapnya seraya bersyukur.

Dalam perjalanannya, ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Ita mengaku pernah mengalami masa-masa sulit.

Namun berkat kerja keras dan pantang menyerah, serta dukungan suami, ia pun kembali memulaibisnisnya hingga bisa kembali sukses.
“Sempat dulu hampir bangkrut, karena dulu saya hamil anak kedua jadi enggak ada yang pegang, suami juga kerja makanya sempat rugi,” terangnya.
Dari hasil pernikahannya dengan Iwan Kuswandi, Ita dianugerahi dua orang anak laki-laki dan

perempuan. Awalnya, ia juga sempat bekerja sebagai salah satu buruh pabrik di Sukabumi. Namun sejak 2002 lalu, Ita memutuskan berhenti dan memulai memproduksi keripik milik bibinya tersebut.
“Kalau di pabrik kan anak jadi enggak keurus, kalau di rumah gini biarpun kecil tetapi lumayan juga penghasilannya bisa buat bantu-bantu ekonomi keluarga,” terangnya.

Ia pun sempat mengeluh dengan harga kebutuhan pokok yang terus naik. Salah satunya cabai merah yang makin mahal. Apalagi komoditas tersebut merupakan bumbu utama keripik singkongnya. Meski begitu, hal tersebut tak begitu berpengaruh baginya. Ia tak mengurangi rasa ataupun menaikkan harga. Sebab sudah punya pelanggan sendiri.
“Awalnya sempat bingung juga harga-harga mahal apalagi cabai merah, tetapi saya tetap pertahankan rasa dengan tetap memberikan rasa terbaik bagi pelanggan,” ulasnya.

Ita juga tetap menggunakan cabai merah. “Rasa pedasnya tidak diganti pakai apa-apa. Kalau saya yang paling penting berbisnis itu jujur dan pertahankan rasa, dan terbukti keripik saya masih disegani banyak konsumen,” ucapnya bangga.

Selain menjual keripik pedas, ia mulai mengembangkan bisnis keripik lainnya seperti keripik singkong original, kerupuk jengkol pedas dan makaroni pedas dan juga original.

Tidak hanya itu, berkat usaha yang dikembangkannya itu, ia yang awalnya hanya seorang ibu rumah tangga kini sukses membantu perekonomian keluarga tanpa harus menjadi wanita karir. Tidak hanya itu, dirinya pun ikut andil dalam membantu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. “Alhamdulillah, kini kami telah memiliki sejumlah pegawai dari kalangan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah,” tutupnya.

(NET)

(Visited 120 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

XL Beri Program Pelatihan , Bagi Peserta XL Future Leaders Jabodetabek

SUKABUMI – PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) terus berkomitmen untuk menjalankan program tanggung jawab ...