Home » BERITA » Perjuangan Pengrajin Mebel Asal Kabupaten Sukabumi
FOTO: DIANA/RADARSUKABUMI BERKUALITAS : Dede Abdullah piawai membuat aneka mebel dengan model terkini.

Perjuangan Pengrajin Mebel Asal Kabupaten Sukabumi

Kuli hingga Bawa Dagangan Keliling Daerah, Kini Dede Punya 11 Karyawan

Siang itu, cahaya matahari di Kampung Cimenteng, Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi begitu terik.

Seorang pria berumur 40 tahunan terlihat sedang asyik merampungkan pesanan kursi yang katanya akan diambil sekitar dua harian lagi.

Mengenakan kaus oblong berwarna cokelat dipadukan jeans kusam, membuktikan bahwa pria ini adalah sosok sederhana.

Tapi ternyata tidak sesederhana seperti dibayangkan, pengusaha mebel ini mampu meraup omzet hingga Rp30 juta per bulan.

DIANA NOVITA HIDAYAT, Sukabumi

Banyak cara yang dilakukan oleh seseorang, agar rumah yang ditempatinya bisa terasa nyaman dan terlihat indah.

Salah satunya menghias sebagian pojokan, dengan kursi yang cantik. Bagaimana tidak, kursi ini kehadirannya dirasa wajib oleh sebagian keluarga. Tidak kebayang kan, jika ada tamu di zaman modern seperti ini dibiarkan duduk di luar rumah.

Kebutuhan menghias rumah itulah yang dimanfaatkan oleh Dede Abdullah(40), pengusaha mebel asal Kampung Cimenteng, Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat. Ia membuat berbagai perlengkapan rumah seperti kursi.

Namun tidak merasakan langsung manisnya kehidupan seperti yang dirasa saat ini. Ia mengaku, bekerja hampir lima tahun di tempat orang.

“Dulu saya kerja sama yang punya toko mebel, gaji juga engga seimbang. Kalau lagi ada borongan Rp500 ribu itu juga dua minggu sekali,” ujarnya ketika ditemui Radar Sukabumi di rumahnya, Rabu  (11/1/2017).
Namun dia terus berpikir, daripada harus bekerja terus sama orang, mendingan sabar sembari menekuni usaha sendiri.

Pada 2013 silam, ia memutuskan untuk keluar dan memulai usaha. Berbekal pengalaman dari tempat kerjanya dulu. Dede menopangkan hidupnya pada kayu yang dia buat sendiri hingga menjadi kursi.
Dia bangga terhadap istrinya yang bisa menyimpan uang penghasilan sedikit demi sedikit.

“Saya mulai usaha ini baru empat tahun, modal awal itu Rp800 ribu,” ujarnya sambil mengenang masa lalu.

Diceritakannya, dari modal tersebut dibelikan untuk bahan baku pembuatan kursi, dan membuat rumah-rumahan untuk menampung kayu dan hasilnya pun tidak seberapa.

“Namanya juga usaha baru, seminggu dua minggu belum dapat uang sama sekali,” akunya.

Meskipun dalam jangka tersebut tidak sama sekali mendapatkan uang, ia tak berputus asa.

“Saya terusin aja, istri juga ngedukung banget, dia sabar engga saya kasih risiko dapur ibaratnya,” kenangnya.

Buah kesabaran pun akhirnya datang, tetangga sekitar rumah mulai berdatangan memesan. Tidak puas hanya di situ saja, ia masukkan barang ke toko-toko mebel yang dikenal. Namun responsnya kurang bagus.

“Saya nekad membawa dagangan keliling daerah, daripada saya engga dapat uang terus kan istri sama anak saya harus makan,” bebernya.

Dari sanalah awal kesuksesan diciumnya, orang mulai mengetahui barang buatannya itu. Dari cerita satu ke yang lain, akhirnya banyak dari daerah Jampang Surade yang memesan kursi buatannya itu. Ada jenis kursi minimaslis, simiantik, dan kursi makan.

Untuk kursi minimalis dijual Rp1,3 juta, bagi yang suka kursi semiantik di sini juga ada, dibanderol Rp1,8 juta. Sedangkan untuk kursi makan itu dijual Rp1 juta. “Bukan ukuran yang membedakan harga, tetapi model yang membuat lebih mahal,” tutur lelaki ramah itu.

Kini dengan dibantu oleh 11 karyawan, dalam sehari Dede mampu membuat sepuluh unit kursi dalam sepekan.

Pemasarannya pun sudah sampai ke Sukanagara, Leuwiliang, Surade dan Banten. Semakin bagusnya respons masyarakat, sekitar dua tahun ke belakang banyak juga yang juga memesan perlengkapan rumah lainnya seperti lemari, ranjang, rak TV dan lainnya.

“Jika ada barang yang tidak berkenan di hati pembeli, barang bisa ditukar dengan yang bagus,” tutupnya.

(*/t)

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*