Home » BERITA » Kisah Inspiratif Pengusaha Sukses Sukabumi
FOTO: DIANA/RADARSUKABUMI KREATIF: Hendi Suhendi dengan hasil karya unggulannya.

Kisah Inspiratif Pengusaha Sukses Sukabumi

Tumbang di Sangkar Burung, Sukses di Mesin Bubut Peninggalan Orang Tua

Menjadi seorang pengusaha sukses merupakan impian semua orang. Namun untuk mendapatkan kesuksesan tersebut tak semudah dengan apa yang diucapkan.

Di kehidupan ini ada orang sukses karena memang sudah mempunyai garis keturunan, ada pula yang harus menuai kesuksesan dengan jerih payah dan kepahitan.

Kini berkat kerja keras, Hendi Supendi seorang pengusaha alat peraga edukatif meraih kesuksesan. Berikut kisahnya.

DIANA NOVITA HIDAYAT, Sukabumi

Hendi Suhendi, pria berumur hampir setengah abad ini mengaku pernah merantau ke Kota Bandung hanya untuk mengadu nasib agar nantinya bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik. Perjuangannya tak sia-sia.

Sebab, sekitar 20 tahun lalu, ia mampu membangun usahanya sendiri. Usaha yang digelutinya itu adalah membuat sangkar burung yang pada waktu itu sedang tren di pasaran.

“Pengalaman kerja di orang lima tahun itu, memutuskan saya pulang ke rumah dan bikin usaha sendiri,” akunya kepada Radar Sukabumi, kemarin (11/1).

Dengan modal nekad dan keinginan untuk berubah, Hendi membuka usahanya.

“Modal awal saya Rp1,2 juta, itu gaji saya dibeliin sama bahan-bahan, terus dikerjainnya juga sendiri,” ujarnya.

Seminggu waktunya ia membuat sangkar burung, dan pagi-pagi sekali ayah dari tiga orang anak itu memboyong dagangannya ke Bandung.

“Saya itu naik bus bawa sangkarnya sampai dua karung penuh, sampai di sana barang dititipin ke toko-toko kenalan,” bebernya.

Tidak hanya menitipkan dagangan, ia juga menjajakan sangkar burung buatannya itu di jalanan. “Sehari dua hari engga dapat duit saya, namun dihari ketujuh baru saya dapat uang Rp1 juta,” akunya sambil terkenang masa lalu.

Meski matahari telah menyembunyikan sinarnya, tapi tetap saja Hendi tergesa-gesa pulang ke kampung halaman tercinta. Ya, Sukabumi.

“Saya senang banget dapat uang, makanya suka langsung ingat sama keluarga, malam-malam juga saya paksain pulang,” akunya.

Selama lima tahun ia bergelut dengan usaha ini, pundi-pundi keuangan pun terus masuk ke kantongnya. Sekarang bukan dirinya yang harus cari-cari orang untuk membeli dagangan, justru mereka yang berbalik meminta pesanan.

Namun itu tak bertahan lama. Hendi bercerita, baru saja ia merasakan manisnya kehidupan, wabah flu burung di 2000 silam membuat usaha yang telah merubah kehidupannya ini tumbang. “Setahun saya vakum, engga usaha apa-apa, uang hasil kerja keras selama lima tahun habis dipakai keperluan,” keluhnya.

Sementara itu, sangkar burung masih saja tergeletak memenuhi sekitaran gudang miliknya di Kampung Cicohag RT 44/10, Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Kota Sukabumi. Mungkin karena sudah takdir Sang Pencipta, tiba-tiba dari Bandung ada pesanan sangkar burung. “Saya jual semua itu sangkar yang penting balik modal,” akunya.

Selang beberapa hari ada orang yang menyuruh dirinya membuatkan mainan alat peraga edukatif pendidikan anak usia dini (PAUD).

“Saya coba-coba aja, dulu kan bapak saya tukang bubutan, jadi mesin bubut juga ada. Uang dari hasil jual sangkar burung saya beliin bahan-bahan buat bikin mainan,” imbuhnya.

Hendi menyebut, usaha peraga edukatif ini lebih menjanjikan dan tentunya menguntungkan. Karena dari awal kenalan banyak dari Kota Kembang pemasaran pun banyak dilakukan ke sana. Dari situ, dirinya banting setir dari yang semula pengusaha sangkar burung menjadi pengusaha alat peraga edukatif.

“Di awal saya sudah untung Rp1 juta – Rp2 juta,” jelasnya.

Semakin sini makin banyak saja yang pesan, hingga akhirnya tempat bubutan peninggalan orang tua dinamai Mapat Barokah.

“Pokoknya biar usaha saya lancar terus engga ada gangguan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Disebutkannya, terdapat hampir 50 item yang disediakan. Namun yang paling banyak diminati itu, mainan buah-buahan potong, sayuran, perkakas pertanian, bowling, dan balok bangun. Untuk buah-buahan, sayuran, dan bowling dibanderol Rp50 ribu, sedangkan untuk perkakas pertukangan dijual Rp75 ribu.

“Di sini jual mainan dari mulai harga Rp50 ribu sampai Rp1,2 juta,” jelasnya.

Bersama lima karyawannya, ia mampu meraup omzet hingga Rp50 juta – Rp70 juta per bulan. “Ya kira-kira keuntungannya sampai 30 persen,” paparnya.

Pemasarannya pun sudah sampai ke Kota Bogor, Bandung dan Subang.

“Grosir di sana ngambil barang dari sini semua, katanya mereka jual barang kita sampai ke seluruh Indonesia,” ujarnya.

Tak pernah terpikir olehnya untuk menggunakan media sosial (medsos) seperti langganannya itu.

“Ribet saya enggga bisa juga, tak apalah sudah pada punya rezeki masing-masing,” tutupnya. (*/t)

(Visited 246 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Cerita di Balik Kesuksesan Memelihara Ikan

Ada begitu banyak cara yang dilakukan seseorang untuk menghilangkan penat dan stres. Salah satunya dengan ...