Ringkus Tetangga Trio Bom Bali I

JAKARTA- Pasca penembakan dua anggota kepolisian di Tangerang Selatan 16 Agustus lalu, aktivitas perburuan terhadap orang-orang yang diduga teroris meningkat. Dalam kurun waktu sembilan hari, polisi menangkap 10 orang terduga teroris plus satu istri terpidana teroris. Terakhir, Anggota Densus 88 menangkap seorang terduga teroris di Lamongan kemarin pagi.

Penangkapan terduga teroris bernama Agus Martin alias Hasan itu berlangsung di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro sekitar pukul 06.30. Lokasi penangkapannya bersebelahan dengan pondok pesantren Al Islam, tempat trio Bom Bali I (Ali Ghufron, Amrozi, Ali Imron,) nyantri.

Informasi yang diperoleh Jawa Pos, Hasan ditangkap karena dicurigai membeli empat pucuk airsoft gun dari Ramli, terduga teroris yang dibekuk Densus 88 pada 20 Agustus lalu. Informasi lain menyebutkan jika yang disita adalah senjata api. Selain itu, Hasan juga diduga terkait dengan jaringan teroris di Bekasi dan Poso.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Ronny menolak berkomentar terhadap penangkapan tersebut. Dia tidak membenarkan, namun juga tidak membantah adanya gerakan dari korps berlambang burung hantu itu. menurut dia, pemberitaan yang terbuka soal terorisme akhir-akhir ini menyulitkan anggota Densus 88 dalam bekerja.

“Sering pemberitaan yang terbuka menyebabkan tersangka berikutnya mengetahui gerakan Densus 88,” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin. Menurut Ronny, semua informasi soal terorisme merupakan informasi yang dikecualikan berdasarkan UU Keterbukaan Informasi Publik sampai penyidik memutuskan informasi tersebut boleh dibuka.

Anggota Kompolnas M Nasser menuturkan, polri perlu berhati-hati dalam persoalan terorisme yang berkaitan dengan senjata jenis air gun dan airsoft gun. “Yang dipersalahkan air gun dan airsoft gun, padahal permasalahannya lebih dari itu,” ujarnya kemarin. Menurut dia, yang perlu diperhatikan saat ini adalah produksi senpi rakitan karena lebih berbahaya.

Air gun dan airsoft gun memang bukan senjata api, meski peredarannya juga dibatasi hanya untuk kepentingan olahraga menembak. Namun akhir-akhir ini polisi menganggap sama berbahayanya dengan senpi.

19 Agustus lalu polisi menciduk istri MS, salah seorang terpidana kasus terorisme karena berbisnis air gun dan airsoft gun. Polisi menyita 62 pucuk airsoft gun dan satu senpi di kediaman tersangka, namun tidak menjelaskan legalitas bisnis perempuan berinisial NR itu. Nasser menambahkan, polisi perlu lebih terbuka soal penanganan terorisme yang berkaitan dengan air gun dan airsoft gun.

Sementara itu, Ali Fauzi, pengurus Pondok Pesantren Al Islam membenarkan adanya penangkapan Hasan. Pentolan Jamaah Islamiyah mengatakan penangkapan itu sangat menyakitkan. Dia menilai Hasan hanyalah korban “cokotan” para terduga teroris yang tertangkap sebelumnya oleh Densus 88.

“Tradisinya memang begitu, para terduga teroris itu kalau tertangkap cokot-cokotan,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin petang. Ada dugaan, penangkapan Hasan merupakan cokotan dari pelaku yang telah ditangkap Densus yakni Ramli alias Iqbal Hussaini alias Rian alias Rombo.

Nama itu ditangkap 20 Agustus lalu di Jalan Masjid, Cipayung, Jakarta Timur. Dari tangan Ramli, Densus memang mendapatkan beberapa senpi. Diantara pistol walther PPK765 dan makrof serta 106 butir peluru cal 32 mm. Nah, kabarnya senpi jenis itu yang dibeli Hasan.

Pria yang kini menekuni sejumlah bisnis itu menduga ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang sengaja mengorbankan Hasan dengan harapan bentuk-bentuk teror terus tumbuh di tanah air.

Ali tidak menampik jika Hasan selama ini merupakan anak buahnya di pengajian. “Rumahnya sekitar 300 meter dari rumah saya,” ungkapnya. Menurut Ali, sosok Hasan bukanlah seorang teroris seperti yang diduga Densus 88. Hasan juga tidak memiliki track record kegiatan teror, dia juga bukan lulusan kamp-kamp terorisme.

“Dia itu pekerjaannya kini seorang kuli batu. Masak seorang kuli bisa membeli senpi sebanyak itu,” papar mantan instruktur kamp Hudaibiyah, Filipina Selatan, itu. Mengenai kepemilikan senpi dan airsoftgun itu, Ali Fauzi mengaku tidak mengetahuinya.(byu/gun)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=81438

Posted by on 26 Agu 2013. Filed under UTAMA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.