Dekat dengan Pengrajin Batu Cincin

 BERTAHAN:Nanang, salah seorang pembuat jasa batu cincin dikawasan Gg Tekwan Jl A. Yani Kota Sukabumi ini serius mengerjakan pesanan konsumennya.FOTO :WIDI/RADARSUKABUMI


BERTAHAN:Nanang, salah seorang pembuat jasa batu cincin dikawasan Gg Tekwan Jl A. Yani Kota Sukabumi ini serius mengerjakan pesanan konsumennya.FOTO :WIDI/RADARSUKABUMI

BBM Naik, Jasa Pembuatan Batu Cincin Ikut Naik

Di tengah semerawutnya Kota Sukabumi saat ini, tepat di Gang Tekwan yang berada di Jl. A. Yani Kota Sukabumi terdapat sebuah bisnis jasa pembuatan batu cincin. Cara pembuatannya pun masih terbilang unik, karena masih menggunakan peralatan manual. Bagaimana usahanya saat BBM naik?

Laporan :Widi Fitria–SUKABUMI

Panasnya terik matahari di siang kemarin, tak membuat Nanang merasa lelah menjalankan pekerjaannya itu. Malah dirinya semakin rajin dan teliti mengukir batu yang akan dibentuk sebuah batu cincin.
Selama kurang lebih 26 tahun, pria ini bertahan menggeluti profesinya tersebut.

Menurutnya, jasa pembuatan cincin ini lebih menguntungkan bila dibanding dengan profesi sebelumnya saat menjadi pedagang sayur. Dalam sehari dirinya bisa menerima empat pesanan konsumennya.

“Dulu sempat jualan sayur di Pasar Gudang Kota Sukabumi, karena bangkrut akhirnya saya memilih meneruskan usaha orang tua saya ini yaitu sebagai jasa pembuat batu cincin,”ujar Nanang, saat ditemui Radar Sukabumi kemarin.

Dengan menggunakan peralatan yang sederhana, batu-batu alam seperti zamrud, safir dan batu lainnya dibentuknya menjadi sebuah batu cincin. Harganya dipatok mulai Rp25 ribu hingga Rp100 ribu.

“Sekarang harganya naik jadi Rp25 ribu untuk batu lokal dan Rp100 ribu untuk batu luar negeri, seperti zamrud,”katanya.
Kenaikan harga tersebut lanjut Nanang, lebih diakibatkan kenaikan harga BBM.

“BBM naik bahan baku pembuatan cincin pun juga ikut naik, alhasil mau tidak mau saya pun juga harus menaikan harga jasa,” keluhnya.

Namun meski saat ini bisnis jasa pembuatan cincin cukup menggiurkan, namun diakui Nanang, permintaan konsumen setiap tahunnya mengalami pengurangan. Nanang yang dulu sempat menerima pesanan hingga 10 batu, kini hanya lima batu saja. Dalam sehari, ia mampu meraup omset Rp50-Rp100 ribu.

“Dulu waktu masih zaman Soeharto yang pesan banyak, tapi sejak dua tahun terakhir ini agak sedikit sepi hanya orang-orang tertentu saja,”bebernya.

Tidak hanya batu cincin saja yang dikerjakannya, kerap kali Nanang menerima pesanan untuk pembuatan permata, batu mulia dan batu aji. Dengan berbagai bentuk, ia mampu menampung pesanan dari konsumen, dari bentuk yang termudah hingga yang tersulit.

“Paling sulit kalau ada konsumen yang minta dibikinkan bentuk piramid,”ulasnya.
Meski saat ini konsumennya sedikit berkurang. Pria yang satu ini tetap bersyukur bisnisnya itu masih bisa bertahan hingga sekarang. (*/t)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=75562

Posted by on 3 Jul 2013. Filed under EKBIS SUKABUMI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.
-->