Upaya Strategis Dalam Menurunkan AKI dan AKB

KUNJUNGI PASIEN: Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sukabumi, Adrialti Syamsul saat mengunjungi dan menyapa pasien yang melahirkan di Ruangan Paus RS BLUD Palabuhanratu, beberapa waktu lalu.

KUNJUNGI PASIEN: Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sukabumi, Adrialti Syamsul saat mengunjungi dan menyapa pasien yang melahirkan di Ruangan Paus RS BLUD Palabuhanratu, beberapa waktu lalu.

(dr.Hj. Titin Malikatun: Kabid. Pengendalian Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kab. Sukabumi)

KEJADIAN kematian ibu dan bayi yang terbanyak terjadi pada saat persalinan, pasca persalinan, dan hari-hari pertama kehidupan bayi masih menjadi tragedi yang terus terjadi di negeri ini. Dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) diperlukan upaya dan inovasi baru, tidak bisa dengan cara-cara biasa. Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir harus melalui jalan yang cukup panjang.

Terlebih jika dikaitkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yakni menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 23 per 100.000 kelahiran hidup yang harus dicapai. Waktu yang tersisa hanya tinggal dua tahun ini, tidak akan cukup untuk mencapai sasaran itu tanpa adanya upaya-upaya yang luar biasa.

Upaya peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah kompleks. Untuk itu penyebarluasan informasi kesehatan melalui pembinaan dan penyuluhan sangatlah penting dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal sesuai amanah yang tercantum dalam UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009.

Angka kematian ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA), merupakan indikator status kesehatan masyarakat. Dewasa ini Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia masih tinggi jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Di Kabupaten Sukabumi, jumlah ibu meninggal pada tahun 2012 sebanyak 76 orang dengan persentasi tertinggi disebabkan karena eklampsia, perdarahan, dan infeksi. Adapun jumlah bayi meninggal sebanyak 491 orang dengan persentasi tertinggi disebabkan karena BBLR. Sementara Kematian Balita berjumlah 33 orang. Dan di tahun 2013 ini jumlah kematian ibu sudah mencapai 31 orang.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita. Antara lain melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit.

Selain itu, upaya terobosan lain yaitu dengan program Jampersal (Jaminan Persalinan) yang digulirkan sejak 2011. Program Jampersal ini diperuntukan bagi seluruh ibu hamil, bersalin dan nifas serta bayi baru lahir yang belum memiliki jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan. Keberhasilan Jampersal tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pelayanan kesehatan namun juga kemudahan masyarakat menjangkau pelayanan kesehatan disamping pola pencarian pertolongan kesehatan dari masyarakat, sehingga dukungan dari lintas sektor dalam hal kemudahan transportasi serta pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting.

Melalui program ini, pada tahun 2012 Pemerintah menjamin pembiayaan persalinan sekitar 2,5 juta ibu hamil agar mereka mendapatkan layanan persalinan oleh tenaga kesehatan dan bayi yang dilahirkan sampai dengan masa neonatal di fasilitas kesehatan. Program yang punya slogan “Ibu Selamat, Bayi Lahir Sehat” ini diharapkan memberikan kontribusi besar dalam upaya menurunkan kasus kematian ibu dan kematian bayi.

Dari kesemuanya ini tentu masyarakat pun harus cukup berperan aktif dalam mendukung terhadap program yang telah diluncurkan oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI, khususnya dalam menurunkan AKI dan AKB ini, yaitu diantaranya;

1. Mendorong para ibu melakukan pemeriksaan kehamilan dan nifas pada Bidan atau petugas kesehatan lainnya;
2. Mendorong para ibu melahirkan ditolong oleh petugas kesehatan.
3. Mempersiapkan suami ibu hamil untuk mendukung kehamilan dan persalinan.
4. Mendorong diadakannya tabulin (tabungan ibu bersalin/biaya persalinan)
5. Mempersiapkan angkutan bagi ibu hamil atau ambulan desa.
6. Mempersiapkan calon donor darah.
7. Mendorong para ibu dan petugas kesehatan menggunakan Buku KIA sebagai sumber informasi dan alat untuk pemeriksaan dan pencatatan kesehatan ibu dan anak.
8. Mendorong para ibu mengikuti Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita.
9. Membantu kesiagaan petugas kesehatan.

Dengan berbagai upaya strategis yang dilakukan mudah-mudahan kasus kematian ibu dan kematian bayi akan bisa ditekan seefektif mungkin, khususnya di wilayah Kabupaten Sukabumi.

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=69305

Posted by on 13 Mei 2013. Filed under RUBRIK. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. -->