Lestarikan Makanan Tempo Dulu, Produksi Ratusan Cilok Per Hari

Kuliner Khas Sukabumi

KREATIF : Ida bersama anak dan saudaranya sedang membuat makanan tradisional seperti tahu isi aci dan cilok di rumahnya.

KREATIF : Ida bersama anak dan saudaranya sedang membuat makanan tradisional seperti tahu isi aci dan cilok di rumahnya.

Berbicara mengenai makanan, memang tidak akan ada habisnya untuk dibicarakan. Apalagi, jika makanan tersebut memiliki rasa yang enak dengan harga terjangkau. Salah satunya makanan khas tempo dulu,Ā  seperti cilok yang saat ini masih digemari masyarakat.

Laporan : Widi Fitria — SUKABUMI

SEPERTI tak mengenal rasa malu dan lelah, seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak ini setiap harinya berkeliling ke SD, SMP hingga SMA di Kota Sukabumi, sembari menawarkan dagangannya. Hal ini dilakukan, untuk membantu perekonomian keluarganya.
Sejak suaminya mengalami kecelakaan, Ida Farida (46) atau wanita yang akrab dipanggil Ida ini bekerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarga. Kemampuannya sejak kecil yang pandai memasak ini, ternyata membuahkan hasil positif baginya dan keluarganya.
Ida yang jago memasak, mencoba membuka peluang usaha baru dibidang home industry atau usaha rumahan. Dengan membuat makanan khas tempo dulu seperti cilok aci, ciwang, tahu isi aci, dan lumpiah kering.
“Awalnya dulu diajak saudara bikin cilok, terus karena banyak yang bilang enak, ya udah saya mencoba menjualnya ke SD, SMP dan SMA dan alhamdulilah banyak yang suka,”ujar wanita berkerudung kuning ini saat ditemui Radar Sukabumi di rumahnya.
Usai melaksanakan ibadah Shalat Ashar, Ida dibantu kedua putri dan saudara perempuannya mulai membuat adonan cilok.
“Bahannya cukup sederhana cuma aci dan tepung terigu,”katanya.
Kemudian, untuk bumbu sausnya ditambahkan cabai merah dan hijau, bawang daun dan bawang merah yang sudah dihaluskan.
“Baru ditambah dengan bumbu penyedap rasa lainnya,”jelasnya.
Mulanya aci diberi air panas secukupnya. Setelah di aduk, kemudian aci tersebut dibuat adonan bulat, setelah itu cilok yang sudah dibentuk kemudian direbus hingga berwarna kecoklatan. Baru setelah matang, dimasukan ke dalam adonan bumbu sambal selama empat jam agar bumbunya meresap.
Untuk satu cilok, ia jual Rp500 sedangkan untuk yang dikantong ia jual Rp5 ribu isi 10 cilok.
Rasanya yang kenyal dan memiliki rasa pedas ini, memang sangat disukai konsumen. Tidak hanya murah, cilok buatan Ida ini dijamin tidak menggunakan tambahan pengawet. Selain itu cara pembuatannyaĀ  juga sangat higienis.
“Saya selalu mengajarkan sama anak saya, kalau sebelum bikin tangannya harus bersih dan kita juga menggunakan sarung tangan supaya makanannya higienis,”tegasnya.
Tak heran cilok buatan Ida sangat disukai konsumen. Dalam sehari ia memproduksi 400 cilok, dengan omset Rp100 ribu perhari.
Meski saat ini harga bahan baku sedang naik, namun hal itu tidak terlalu berpengaruh baginya.
“Kalau saya gak ada yang dikurangin kaya ukuran kita masih biasa aja, walaupun harga bahan baku sedang naik,” imbuhnya.
Ida berharap suatu saat nanti ia ingin memiliki toko sendiri dengan menjual makanan khas tempodulu.
“Yah untuk melestatrikan makanan-makan tempu dulu yang sekarang sudah mulai hilang,”harapnya.(*)

 

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=56540

Posted by on 20 Feb 2013. Filed under EKBIS SUKABUMI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright Ā© 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.
-->