Kampanye Hitam Mendidik Masyarakat “Hitam”

Oleh : Dudung Koswara, M.Pd

Menurut Hadi Purnama (PR, 21/01/13) resonansi kampanye hitam akan kian menguat menjelang pemungutan suara dalam pesta demokrasi. Kampanye hitam adalah strategi politik yang mengemas “fakta politik” menjadi komoditas politik dalam menjatuhkan lawan politik. Dalam kamus politik apapun boleh dilakukan untuk menggapai kemenangan. Bahkan bila perlu mempermainkan kebenaran. Kekuasaan lebih penting dari kebenaran. Tidak ada yang benar kecuali mendaptkan kekuasaan.

Realitasnya kekuatan politik dibelahan bumi mampu mengendalikan apapun, termasuk agama. Agama menjadi tak berkutik dihadapan kekuatan politik. Agama yang mengajarkan berprasangka baik menjadi binasa dengan dogma politik yang mengajarkan berprasangka buruk teradap sikap baik orang lain. Didalam politik, husnuzdhon itu kebodohan dan suuzdhon itu wajib (baik). Bahkan berbuat baik dan ujur itu adalah mangsa bagi lawan politik.

Dalam kilasan sejarah dinasti Rajasa di Singosari, Ken Angrok berkuasa dengan membunuh Tunggul Ametung. Ini banyak menginspirasi perebutan kekuasaan pada zaman modern. Pembunuhan pisik di era tradisional bermetamorfosis menjadi pembunuhan karakter (psikis). Dalam wajah baru politik modern pembunuhan pisik tidak ada lagi melainkan pembunuhan karakter (Character Assasination). Merusak nama baik dan mencitrakan buruk lawan politik dengan penuh muslihat adalah bagian dari pembunuhan karakter. Kampanye hitam menjadi ciri khas dalam mengeksekusi eksistensi dan popularitas lawan politik.
Pepatah pemimpin komunis China menyatakan, tidaklah penting kucing itu hitam atau putih karena yang terpenting adalah apakah kucing itu mampu menangkap tikus atau tidak. Bukan hitam dan putihnya yang terpenting melainkan apakah tikusnya dapat ditangkap? Nampaknya dalam politik menjelang pemilukada di tanah air spirit politik hitam selalu menguat. Dihadapan proses politik tidaklah penting kampanye itu hitam atau putih karena yang terpenting adalah mendapatkan “tikus” kekuasaan.

Bila dalam pemilukada Kota Sukabumi berhembus kampanye hitam maka setidaknya ada beberapa faktor yang mendorongnya. Pertama, peserta pasangan pemilukada dan tim sukses tidak PD menghadapi lawan yang dianggap lebih populer dan punya modal politik. Kedua, Visi dan Misi yang ditawarkan pada publik hambar, klise dan tak meyakinkan. Ketiga, kurangnya inovasi dan wawasan dalam menggiring publik untuk bersimpati pada calon peserta pemilukada. Keempat, mentalitas menari di atas aib orang lain adalah sebuah kepuasan yang lahir dari seorang/sekelompok psikopat/sosiopat.

Semoga kampanye hitam tidak deras terasa dalam pemilukada Kota Sukabumi. Karena kampanye hitam dan money politik akan berdampak pada persepsi politik masyarakat Kota Sukabumi. Kultur dan persepsi masyarakat Kota Sukabumi harus positif terhadap proses politik. Masyarakat yang rasional, cerdas dan terhindar dari skenario hitam oknum tim sukses pemilukada akan berdampak positif terhadap kedewasaan kolektif. Masyarakat yang dewasa, normatif dan menjunjung tinggi integritas akan melahirkan masyarakat yang damai dan mandiri.

Kampanye hitam pada dasarnya telah mengajarkan (mengedukasi) publik untuk berpersepsi buruk pada yang putih dan toleran pada hal yang hitam. Ketika hitam putih menjadi sesuatu yang kabur tak bermakna maka akan melahirkan masyarakat hitam. Masyarakat hitam adalah masyarakat yang teralienasi dari realitas ideal yang mestinya harus dibangun bersama. Masyarakat hitam cenderung destruktif dan senang mengkonsumsi informasi buruk. Suuzdhon dan berkiblat pada uang. Berani melakukan yang tidak wajar untuk mendapatkan sesuatu. Masyarakat yang senang “ngagogoreng batur” sama dengan masyarakat hitam atau masyarakat “goreng” menurut orang Sunda.

Kampanye hitam setidaknya telah menjadi sponsor lahirmya masyarakat yang bermasalah. Masyarakat yang senang dalam mengkonsumsi ranah privat, aib politik dan informasi murahan. Siapa yang menabur kampanye hitam pada proses detik-detik menjelang pemilukada harus bertanggungjawab terhadap mentalitas kolektif masyarakat. KAMPANYE HITAM LAHIR DARI CALON HITAM. Karena terdesak tidak ada jurus lain yang dapat diandalkan.

Langkah kotor Ken Angrok harus ditebus dengan pembunuhan turun temurun dalam dinasti Singosari. Peristiwa berdarah ini setidaknya menjadi pembelajaran politik. Karier politik yang diawali dengan kampanye hitam akan melahirkan dendam politik. Minimal partisipasi politik dari pubilk yang tersakiti akan hilang. Bahkan akan menggoyang pemerintahan yang legitimet. Pembangunan akan terganggu dan iklim sosial politik menjadi tidak kondusif. Mari kita hindari black campaign.

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=52441

Posted by on 4 Feb 2013. Filed under MIMBAR PUBLIK. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top Jump To Top
3.34% 2.77% 11.49% 16.28% 13.80% 10.83% 10.17% 14.81% 5.76% 8.52% 1.50% 0.74%
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.