Lebih Dekat Kepala Dinas Pendidikan Kota Sukabumi, Ayep Supriatna

RAIH PENGHARGAAN: Kadisdik Kota Sukabumi, Ayep Supriatna meraih salah satu penghargaan dari provinsi Jawa Barat. FOTO:wahyu radarsukabumi

FOTO BERSAMA: Ayep Supriatna, foto bersama keluarganya. FOTO:IST

FOTO BERSAMA: Ayep Supriatna, foto bersama keluarganya. FOTO:IST

FOTO BERSAMA: Ayep Supriatna, foto bersama keluarganya. FOTO:IST

Ingin Semua Sekolah Biasa Berkualitas RSBI

Pemerintah atau pemerintah daerah sekurang-kurangnya menyelenggarakan satu satuan pendidikan di semua jenjang menjadi sesuatu yang bertaraf internasional. Inilah bunyi Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang kemudian dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK). Keputusan MK menghapus RSBI ini lantas menuai kontroversi, terlebih pada perdebatan bagaimana nasib RSBI selanjutnya? Hal mana juga menjadi perbincangan menarik di Kota Sukabumi. Bagaimana pandangan Kepala Dinas Pendidikan Kota Sukabumi, Ayep Supriatna terkait keputusan MK itu? Berikut petikan wawancara wartawan Radar Sukabumi, Wahyu Syahidan dengan Kadisdik Kota Sukabumi.

1. Bagaimana tanggapan anda soal penghapusan RSBI?

Sejujurnya saya tidak setuju karena keputusan ini membatasi kreatifitas penyelenggara pendidikan untuk melaksanakan program pendidikan dengan kualitas yang lebih baik dari sekolah biasa. Tapi mau bagaimana lagi itu sudah keputusan MK dan tentunya kami harus melaksanakan keputusan itu.

2. Di Kota Sukabumi, apakah keputusan itu sudah ditindaklanjuti?

Terkait keputusan MK mengenai penghapusan atau pembubaran RSBI sudah kami bahas dengan Komisi III DPRD Kota Sukabumi yang membidangi sektor pendidikan. Kepala sekolah dari lima sekolah yang pernah menjadi RSBI pun kami undang membahas mengenai permalahan ini. Terkait atributnya, kebetulan papan RSBI hanya di SMPN 2 saja. Itupun sudah dicopot. Untuk empat sekolah lainnya seperti SMAN 3, SMA Hayatan Toyyiba, SMKN 1 dan SMKN 3, mereka tidak menggunakan papan RSBI.

3. Apa hasil pertemuan itu?

Intinya kami masih menunggu petunjuk dari Kementerian Penididikan dan Kebudayaan yang merupakan salah satu penggagas program ini. Seperti apa tahapan-tahapan yang harus diambil sebagai tindak lanjut keputusan MK itu, kami serahkan semuanya kepada Kemendikbud. Ini masih masa transisi sampai akhir semeseter ini.

4. Lalu apa yang dilakukan sekolah eks-RSBI selama masa transisi itu?

Meski sudah dicopot papan namanya tapi bukan berarti metode belajar ala RSBI seketika dihentikan. Bahkan kami tengah merancang terobosan untuk semakin meningkatkan kualitas sekolah eks-RSBI itu. Hal ini kami lakukan untuk mengantisipasi kemerosotan kualitas sekolah eks-RSBI yang sejauh ini sudah sangat baik.

5. Anggaran sendiri untuk RSBI berapa?

*Sebenarnya tidak besar. Untuk SMP hanya sekitar Rp 125 juta per tahun. Untuk SMA hanya Rp 100 juta dan SMK sekitar Rp 75 juta per tahun. Angka itu sebenarnya terbilang kecil jika dibandingkan dengan metode pembelajaran yang diterima siswa RSBI.

6. Apa dampak dihapusnya RSBI?

*Saya melihat kalau untuk sekolah memang cenderung tidak terlihat dampak apa-apa, bahkan recananya pelayanan yang bagus ini akan kami terapkan di sekolah-sekolah lainnya. Sehingga mutu pendidikan merata di semua sekolah di Kota Sukabumi. Tapi saya prihatin, dari peninjauan saya di lapangan dan hasil ngobrol saya dengan sebagian siswa RSBI, mental mereka menurun drastis. Yang tadinya bangga sekolah di RSBI, sekarang tidak bisa membanggakan lagi sekolahnya. Padahal hanya labelnya saja yang hilang, pelayanannya tetap dipertahankan.

7. Apakah sudah ada gambaran dari Kemendikbud seperti apa kurikulum yang akan diterpakan untuk sekolah eks-RSBI ini?

Dari informasi yang saya dapatkan, memang sudah ada. Katanya ada kurikulum baru di pengganti kurikulum RSBI, tahun ini. Tapi bentuknya saya belum tahu jelas seperti apa.

8. Bagaimanan tanggapan anda soal biaya pendidikan di Kota Sukabumi yang disebut warga mahal?

Saya kira anda bisa membandingkannya. Sebagai contoh DSP di Kota Sukabumi lebih murah dibanding DSP di sekolah lainnya seperti Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Jadi tidak benar kalau biaya pendidikan di Kota Sukabumi mahal dibanding daerah lain.

9. Apa target pendidikan di Kota Sukabumi?

Kami menginginkan kualitas pendidikan yang sangat baik di setiap sekolah, dengan pelayanan yang berkualitas. Sarana prasarana pun kami sudah unggul dan baik, meski masih ada sekolah butuh tambahan fasilitas. Tapi itu hanya sebagaian kecil. Dan akan menjadi target kami ke depannya. Perlu diketahui sarana dan prasarana di Kota pada tahun 2012 menghabiskan Rp35 miliar dan 2013 pun ditargetkan sama. Itu dari APBN dan APBD.

10. Apa harapan anda ke depannya untuk pendidikan di Kota Sukabumi?

Kami berharap, sesuai visi Kota Sukabumi yaitu memberikan pelayanan yang berkualitas untuk sektor pendidikan, kesehatan dan perdagangan. Untuk itu kami akan terus berupaya memperjuangkan pendidikan berkualitas sesuai kemampuan kami, meskipun tanpa label RSBI.(*)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=48804

Posted by on 20 Jan 2013. Filed under RUBRIK. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.
-->