Peradaban Islam, Melahirkan Generasi Cemerlang

(telaah kritis acara Global Youth Forum)

Oleh:Dinda Lindia Cahyani
Aktivis MHTI Chapter Kampus Sukabumi

Indonesia dipilih menjadi tuan rumah Global Youth Forum (Forum Kepemudaan Global) yang diselengarakan pada tanggal 4-6 Desember 2012 lalu di Bali. Di dalam forum tersebut dibahas isu-isu terkait pendidikan, pekerjaan, kesehatan reproduksi, seksualitas dalam bentuk kontek keluarga dan hak, serta partisipasi publik. Forum tersebut dihadiri oleh peserta dari 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pemuda dan tokoh lainnya.

United Population Fund (UNFPA) dan pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Senin (13/8) secara resmi mengumumkan peluncuran Global Youth Forum di pusat kebudayaan Amerika di Jakarta. Dalam rilis tertulisnya, Jose Ferraris wakil UNFPA di Indonesia mengatakan bahwa even yang berskala Internasional ini bertujuan untuk pengembangan kawula muda di dunia.

Menyikapi agenda besar tersebut, dapat kita analisa bahwa pemuda saat ini sedang menjadi salah satu pusat perhatian dunia. Populasi pemuda di dunia memang terus meningkat. Dengan potensi yang dimilikinya pemuda bisa menjadi pencetak prestasi gemilang dalam sebuah peradaban jika potensinya diarahkan dalam bentuk positif dan sebaliknya akan menjadi perusak peradaban jika potensinya mengarah pada hal yang negatif.

Yang perlu kita soroti adalah kenapa Indonesia dijadikan sebagai tuan rumah acara besar Global Youth Forum tersebut. Setelah dianalisa ternyata menurut data Dikti, 2012 Indonesia akan mengalami ledakan penduduk jumlah usia produktif 16-40 tahun dengan angka yang sangat besar. Dimana ledakan populasi penduduk usia produktif ini merupakan Golden Opportunity (kesempatan emas) bagi Indonesia. Struktur penduduk Indonesia sama dengan struktur penduduk Jepang pada saat Jepang bangkit setelah terjadi ledakan bom Nagasaki dan Hirosima.

Pemuda harus cermat dalam melihat persoalan ini, jangan sampai Golden Opportunity ini direbut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang hanya menjadikan pemuda sebagai sapi perahan mereka. Bagaimana tidak, di dalam Global Youth Forum ini dibahas 3 hal yang sangat berpengaruh, yaitu : 1). Issu kesehatan yang dimaksud adalah penanganan wabah HIV/AIDS dengan penanaman Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KKR) ala UNAIDS. Konsep ABCD dan perilaku seksual ‘bertanggungjawab’ sebagai inti KRR hanya menekan cara mencegah penularan HIV/AIDS tanpa menghilangkan budaya seks bebas.

Dalam sistem hidup sekular liberal dewasa ini, cara tersebut justru berpeluang menyebarkan perilaku maksiat seks bebas asal ‘bertanggungjawab’ karena dianggap tidak berisiko tertular HIV/AIDS. 2). Masalah ketenagakerjaan, mereka menganggap bahwa tingginya angka pengangguran disebabkan tingginya pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan kemiskinan. Maka mereka menawarkan solusi yaitu program Keluarga Berencana (KB) dan menghilangkan hambatan agar laki-laki dan –terutama- perempuan bisa masuk ke dunia kerja. Pandangan ini menyesatkan, karena penyebab utama kemiskinan dan pengangguran realitanya adalah karena penerapan sistem ekonomi kapitalis yang merampok sumber daya alam milik rakyat, memonopoli distribusi pendapatan bangsa demi keuntungan segelintir kaum kapitalis.

Ketiga, Pembahasan tentang keluarga dan kemapanan dimaksud adalah penanaman cara pandang materialistik yang menilai kebahagiaan dan kesejahteraan dengan ukuran materi semata. Pada gilirannya diharapkan pemuda akan menunda usia pernikahan hingga mapan secara materi, membatasi jumlah anak karena alasan ekonomi dan membangun keluarganya dengan orientasi materi. Keterlibatan aktif pemuda dalam program kontrol populasi –terutama di negeri-negeri muslim- adalah target utamanya. Dari forum ini sama sekali tidak memberikan solusi untuk pemuda dalam membangun peradaban gemilang tapi forum ini justru mengarahkan pemuda menutupi buah busuk gaya hidup liberal.

Bahkan secara langsung telah kita lihat bagaimana pemuda saat ini. Banyak dari pemuda yang mengalami kemorosatan berfikir dan mengalami banyak degradasi intelektual serta lunturnya idealisme pemuda. Mereka cenderung lebih memilih gaya hidup barat yang rendah dari pada mengadopsi Islam sebagai jalan hidup. Dari rahim kapitalisme inilah lahir generasi-generasi pembebek yang bobrok, generasi yang berpenyakit, mereka bersikap hedonis, individualis dan pragmatis. Kerusakan pemuda ini disebabkan oleh sistem kapitalisme yang diadopsi oleh Negara, yang dengan sistem inilah seluruh problematika bersumber.

Padahal Islam, ideologi yang diadopsi oleh Daulah Khilafah yang sempat hadir memimpin dunia selama 13 abad pernah menorehkan tinta emas peradaban. Dari rahim Islam lahir generasi-generasi dambaan umat yang siap memimpin menuju peradaban gemilang. Khilafah telah melahirkan generasi yang unggul dan berkualitas. Sejarah telah mencatat Muhammad Al-fatih seorang pemuda yang sejak baligh hingga ia meninggal dunia tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajjud, dalam usia 23 tahun dia berhasil menaklukan Konstantinopel yang disebut-sebut sebagai ibu kotanya dunia pada masa itu.

Kemudian Ibnu Sina yang di dunia barat dikenal sebagai Avicenna, sejak kecil sudah akrab dengan pembahasan ilmiah dan dalam usia mudanya dia sudah mahir dalam bidang kedokteran hingga akhirnya dia dijuluki sebagai ‘Bapak Pengobatan Modern’ dan ada lagi yang tidak asing di telinga kita yaitu Imam Syafi’i, di usia 7 tahun dia hafal semua ayat Al-Qur’an dan akhirnya menjadi Imam besar yang telah menghasilkan karya-karya besar Intelektual sebanyak 174 Kitab. Betapa khilafah telah mencetak generasi yang begitu cemerlang, sehat dan bermental pejuang. Khilafah memiliki visi politik untuk menjadikan Negara kuat dan terdepan yang tidak akan mudah dijajah oleh para kapitalis.

Khilafah memiliki langkah strategis termasuk pemberdayaan generasi muda dalam menyongsong peradaban gemilang yang dapat mengantarkan kepada penghargaan tertinggi yaitu menjadi umat terbaik. Saatnya pemuda membuka mata dan waspada agar tidak mudah terbawa arus issu program-program yang hanya akan memperburuk kondisi pemuda dan bahkan merusak generasi-generasi pemegang estafet peradaban. Saatnya pemuda bangkit menyongsong Islam sebagai satu-satunya solusi yang akan memberikan predikat ‘ummat terbaik’ kepada pegembannya.

“kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, kalian memerintahkan yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran : 10).(*)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=41648

Posted by on 20 Des 2012. Filed under MIMBAR PUBLIK, RUBRIK. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.