Ayo, Berzakat

Oleh:

Puji Mustika Lestari

Mahasiswa Agribisnis, FEM IPB

 

 “Dan laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapaatkannya (pahala) di sisi Allah. Sunguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Baqarah: 110)”

Indonesia merupakan negara yang terkenal akan kekayaan alam yang dimilikinya. Berbagai komoditas pertanian bisa kita temukan di negara ini. Tidak sebatas hanya kekayaan yang ada di daratan tetapi juga lautan yang menghampar dari mulai sabang sampai merauke. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia ini seharusnya menjadi kekayaan yang bisa dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Namun, keadaan yang terjadi kini malah tidak sesuai dengan gambaran kekayaan yang dimiliki Indonesia, populasi penduduk yang tinggi, lapangan kerja serta kualitas sumber daya manusia yang masih rendah menjadi beberapa penyebab mengapa angka kemiskinan di Indonesia cukup tinggi.

Pengentasan kemiskinan juga selalu menjadi salah satu program yang gencar dilakukan pemerintah melalui pemberian subsidi, tunjangan langsung dan bentuk lainnya. Sayangnya upaya tersebut belum juga mampu memberantas kemiskinan yang ada. Kemiskinan menjadi persoalan yang seolah-olah tidak terselesaikan hingga saat ini. Hal ini semakin diperburuk dengan meningkatnya harga bahan-bahan pokok sementara pendapatan masyarakat yang cenderung tetap. Kasus gizi buruk dan busung lapar menjadi salah satu bukti betapa kemiskinan menjadi masalah serius yang harus segara di selesaikan.

Masalah kemiskinan bukan hanya menjadi masalah pemerintah saja namun juga merupakan masalah kita bersama, terlebih lagi umat muslim di Indonesia. penduduk muslim merupakan mayoritas penduduk yang ada di Indonesia sehingga di dalamnya pasti terdapat penduduk muslim yang mengalami kemiskinan. Melihat hal tersbut, maka sudah seharusnyalah kita bersama-sama untuk bergerak cepat melawan kemiskinan, saling menolong terhadap sesama sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-maidah ayat 2, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.

Salah satu alternatif solusi penanggulangan kemiskinan adalah dengan mengoptimalkan penghimpunan dana zakat. Zakat merupakan jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang harus mengeluarkan zakat dan diberikan kepada golongan yang berhak salah satunya bagi warga miskin. Islam tidak mengajarkan kita untuk mencari harta sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan keberadaan di sekitar kita tetapi mengajarkan kita untuk dapat mencapai kehidupan yang lebih baik agar bisa dicapai bersama. Dalam Islam juga dikenal prinsip ta’awun yang memungkinkan orang yang lebih dahulu sukses untuk membantu sesamanya.

Zakat tidak hanya menjadi salah satu solusi dalam pengentasan kemiskinan tetapi memang merupakan kewajiban bagi kaum muslim. Allah menekankan pentingnya untuk berzakat sehingga dalam Al-Quran banyak sekali ditemukan ayat-ayat yang membahas perihal zakat bahkan zakat merupakan rukun islam ketiga setelah pengucapan Syahadat dan Shalat. Jika kita mengeluarkan zakat, selain kita telah menunaikan kewajiban kita, kita juga telah berperan dalam pengentasan kemiskinan. Kita tidak akan pernah menjadi miskin jika kita mengeluarkan zakat. Allah berfirman dalam surat Al-Mujadilah ayat 13 bahwa “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Melihat jumlah masyarakat Indonesia sendiri dengan mayoritas sebagai muslim seharusnya memberikan kontribusi terhadap zakat yang semakin besar. Potensi zakat di Indonesia sendiri, diperkirakan mencapai Rp 217 T dan dapat memberikan kontribusi kepada GDP Negara sebesar 3,40%. Berikut ini merupakan data potensi zakat di Indonesia:

Description

Zakat Potency (RP, Trillion)

Percentage towards GDP (%)

Household Zakat Potency

  82.70

1.30

Private Industrial Sector Zakat Potency

114.89

1.80

State Owned Enterprises Zakat Potency

    2.40

0.04

Deposit Potency

   17.00

0.27

Total of National Zakat Potency

 217.00

3.40

Sumber: Baznas, FEM IPB dan WZF, 2011

Peranan zakat memang sangat penting bagi pengentasan kemiskinan, pengumpulan dana dari zakat sudah dilakukan sejak dahulu bahkan pada tahun 1999 lahir UU No. 38 Tahun 1999 menjadi UU pertama yang disahkan tentang pengelolaan zakat. Selanjutnya semakin diperkuat dengan adanya UU PPh No. 17 Tahun 2000 dimana zakat menjadi pengurang pembayaran pajak penghasilan. Potensi dari zakat juga mencapai Rp 217 T namun, pada kenyataannya zakat yang berhasil dikumpulkan baru mencapai Rp 1,7 M di tahun 2011. Berikut ini merupakan data realisasi dari pengumpulan ZIS sejak tahun 2002 hingga 2011.

Tahun

Total pengumpulan ZIS

Pertumbuhan (%)

2002

68,39

-

2003

85,28

24,70

2004

150,09

76,00

2005

295,52

96,90

2006

373,17

26,28

2007

740

98,30

2008

920

24,32

2009

1.200

30,43

2010

1.500

25,00

2011

1.700

Sumber: Laporan BAZNAS, 2012

Walaupun pengumpulan dana zakat belum optimal, namun telah mampu menolong dalam pengentasan kemiskinan. Hasil riset yang dilakukan oleh Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) di Jabodetabek, yang dilakukan pada 821 rumah tangga (RT) miskin dari total 4,646 populasi RT penerima dana zakat di Jabodetabek dengan melibatkan 8 lembaga/organisasi zakat dapat disimpulkan bahwa masyarakat miskin yang menerima zakat, terutama zakat produktif mampu mempengaruhi tingkat keberdayaan masyarakat penerima zakat hingga keluar dari kemiskinan sebesar 10,79 persen. Sedangkan pengaruhnya atas tingkat kesenjangan pendapatan rumah tangga miskin terhadap angka garis kemiskinan DKI Jakarta dapat diperkecil dari semula Rp442.384,20 menjadi Rp 422.076,30 atau 4,69 persen. Terakhir, dari tingkat keparahan kemiskinan, intervensi zakat mampu mengurangi keparahan kemiskinan sebesar 12,12-15,97 persen, yang artinya zakat mampu mengurangi beban sehingga kondisi perekonomian rumah tangga miskin menjadi lebih ringan.

Permasalahannya kini adalah bagaimana pengumpulan zakat agar potensi yang ada bisa terserap secara optimal. Jika kita melihat kejadian di sekitar kita sebenarnya banyak masyarakat yang sadar untuk mengpulkan zakat, namun mereka cenderung lebih memilih mengeluarkan zakat sendiri atau secara langsung diberikan kepada mustahiq tidak melalui BAZNAS atau LAZ. Sehingga merupakan sebuah keharusan dalam memperkuat amil dan membangun amil yang amanah, professional serta transparan dalam mengelola zakat. Keberadaan amil zakat sebagai pengumpul zakat ini bahkan telah Allah jelaskan dalam Firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 103 bahwa “Ambilah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”.

Selain amil, pemerintah juga harus ikut berperan untuk memperkuat pengelolaan zakat melalui undang-undang zakat. Diperkuatnya zakat dengan perundang-undangan diharapkan dapat semakin meningkatkan minat dan kepercayaan masyarakat untuk menzakatkan sebagian hartanya. Selain itu, kesadaran akan berzakat harus dibangun dalam benak Masyarakat. Masyarakat muslim yang melakukan zakat umumnya masih menjalankan zakat dikarenakan kewajiban agama, padahal zakat megandung nilai sosial yang tinggi. Masyarakat belum menyadari bahwa adanya esensi dari pemberian zakat tidak hanya sebagai kewajiban terhadap agama tetapi akan memberikan konstribusi dan manfaat yang sangat besar nantinya.

Jadi, ayo berzakat !

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=39433

Posted by on 6 Des 2012. Filed under MIMBAR PUBLIK, RUBRIK. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.