Bersama Pengrajin Gendang Sukabumi

LESTARIKAN SENI SUNDA: Pengrajin Gendang kesulitan mencari bahan baku. FOTO:WIDI/RADARSUKABUMI

Lestarikan Budaya Sunda, Butuh Suntikan Modal

Gendang merupakan salah satu alat musik tradisional khas Sunda. Masuk dalam kategori perkusi, gendang biasa dimainkan bersama-sama alat musik tradisional lainnya seperti gamelan. Alunan musiknya yang sangat khas, membuat alat musik ditetapkan menjadi alat musik tradisional khas Jawa Barat.

Laporan : Widi Fitria Rachman-Sukabumi

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan budaya, salah satunya alat musik tradisional seperti gendang. Alat musik pukul ini pada dasarnya memiliki kegunaan yang sama, yaitu mengiringi tarian ataupun upacara adat.

Meski sekarang alat musik tradisional ataupun kebudayaan daerah semakin terkikis oleh modernisasi. Namun, hal itu tidak berpengaruh bagi seorang seniman Sunda asal Sukabumi, Dedi Sumardi. Pria ini tetap setia membuat alat musik tradisional, seperti gendang untuk mempertahankan eksistensi kebudayaan Sunda.

Tepat di Jl. Jeruk Nyelap Situmekar Sukabumi, sejak tahun 90 an sebuah rumah industri pembuatan gendang yang bernama Lugay berdiri.

“Saya akan tetap terus mempertahankan alat musik tradisional ini. Karena, saya sangat mencintai kebudayaan apalagi saya lahir dari Sunda,”ujar Dedi Sumardi kepada Radar Sukabumi.

Pria yang juga memiliki kemampuan memainkan alat pukul tersebut mengaku banyak menemukan kendala, khususnya dalam penjualannya.

“Memang benar, untuk melestarikan keberadaan alat musik tradisional ini sangat sulit, terutama di bahan baku dan permodalan,”katanya.

Untuk menghasilkan gendang yang berkualitas, kayunya harus dari pohon nangka dan untuk kulitnya harus dari kulit kerbau. Namun, saat ini kedua bahan baku tersebut sulit ditemukan.

“Bisa sih kalau dari kayu lain selain kayu nangka, tapi jelek hasilnya,”terangnya.
Selain bahan baku, sulitnya memasarkan produk gendang juga menjadio kendala Dedi. “Peminatnya minim, hanya orang-orang tertentu saja yang senang dengan gendang,”imbuhnya.

Satu set gendang dijualnya seharga Rp2 juta. Hasil karyanya tersebut ia pasarkan ke Kota/Kabupaten Sukabumi dan Jakarta.

Dedi yang juga belajar membuat gendang secara otodidak tersebut, awalnya hanya mencoba-coba memperbaiki gendangnya yang rusak. Karena kurang mahir, Dedi pun diajarkan oleh temannya dari Bandung untuk membuat gendang. Karena merasa tertarik, akhirnya ia pun memutuskan untuk berbisnis membuat gendang. Disamping pengrajin gendang, Dedi juga menerima jasa perbaikan gendang.

Meskipun peminat gendang sudah mulai jarang, Namun, dirinya menegaskan akan terus mempertahankan pembuatan dan tetap melestarikan budaya Sunda itu sendiri.

Pihaknya berharap,ada anak-anak muda yang mau meneruskan kebudayaan Sunda, dan adanya kepedulian dari Pemkot Sukabumi untuk memperhatikan budaya-budaya Sunda yang mulai hilang.

“Saya menghimbau kepada Pemimpin Kota Sukabumi, supaya para pengrajin khususnya para Seniman Sunda diberi bimbingan. Jangan sampai, tradisi kita ini diambil orang bahkan sampai hilang,”tegas pria yang pernah dua kali mendapatkan juara beturut-turut dalam permainan gendang se-Jawa Barat ini.(*)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=36649

Posted by on 16 Nov 2012. Filed under EKBIS SUKABUMI, FEATURES, PENGRAJIN. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.
-->