Pengembangan Ilmu Guru Profesional Melalui Refleksi

Oleh : Sri Erwini Christine,

(Guru SMAN 1/Post Graduate Student S3 of UPI)

Abad 21 merupakan abad yang bagi sebagian orang dapat ‘menguntungkan’ dan atau juga bisa ‘merugikan’. Untuk menjalani masa kini dan masa depan yang ‘menguntungkan’ kita harus memiliki dan menciptakan sesuatu untuk menghasilkan produk yang lebih baik dengan lebih cepat di tempat lingkungan kita bekerja, belajar dan mengajar.

Suatu lingkungan belajar harus menciptakan (a) sebuah lingkungan pembelajaran yang konstan yang mendukung adanya tantangan positif,(b) sebuah lingkungan yang tidak menakutkan, tempat terjadinya komunikasi dan kolaborasi antara orang yang satu dengan yang lain, (c) sebuah lingkungan yang beragam, tempat orang berpikir dengan berbeda dan menghargai pemikiran orang lain, (d) cara baru memandang suatu masalah dan peluang serta sebuah kepekaan yang kuat atas adanya sesuatu yang mendesak, dan (e) sebuah budaya yang memenuhi bakat secara efektif.

Untuk menampilkan fitur lingkungan belajar seperti yang tersebut di atas, institusi pendidikan (sekolah) memerlukan sosok guru yang selalu ingin mengembangkan keprofesiannya dalam mentransfer ilmu bagi peserta didiknya dan selalu “curious” untuk menggali segala daya apa dan bagaimana mengembangkan potensi siswa menjadi pribadi-pribadi yang unggul yang siap menghadapi tantangan abad 21.

Tantangan guru yang mengembangkan keprofesionalannya secara khusus dapat dilihat bagaimana guru itu mengajar, dan yang lebih penting pembelajaran secara professional sebagai pendorong guru-guru dalam mengarahkan perkembangan pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan mereka sendiri melalui refleksi.

Istilah ‘refleksi’ banyak digunakan dalam pendidikan. Hal ini secara umum terhubung pada ide-ide tentang pembelajaran dan pengembangan dalam praktik. Bagaimanapun, seperti kebanyakan ide dan konsep-konsep yang telah digunakan dalam pendidikan, terdapat suatu tingkatan tertentu dalam penggunaannya, istilah ini yang membawa pada arti yang umum dan spesifik untuk beberapa isu pendidikan.

John Dewey (1933) telah memperkenalkan istilah refleksi pada pendidikan beberapa dekade yang lalu. Bagaimanapun, pada akhirnya refleksi jelas memerlukan suatu pendefinisian yang harus hati-hati berkaitan dengan arti : Refleksi Pikiran, dalam kaitan dari operasional-operasional yang mana kita inginkan nama pemikiran yang meliputi:

(1) Suatu pernyataan ragu (a state of doubt), Ketidak-mauan (hesitation), kebingungan (perplexity), kesulitan mental (mental difficulty), dalam mengoriginalitaskan pikiran, dan

(2) Suatu pencarian aktif, perburuan, inkuiri, untuk menemukan material yang akan memecahkan keraguan, menetapkan dan menghilangkan kebingungan. Dewey melihat ‘refleksi’ sebagai sebuah metoda pendekatan tantangan yang transmisif untuk pengajaran sebab inti pokok refleksi merupakan kepentingan pemahaman mengajar sebagai sebuah problematic.

Dalam pelaksanaannya, Dewey menggambarkan perhatian yang dibutuhkan guru-guru mengembangkan pengetahuan adalah bahwa tidak terdapat satu carapun yang tepat untuk berpikir atau satu cara untuk merespon terhadap situasi-situasi. Oleh karena itu, jika tidak terdapat satu cara berpikir yang benar, lalu metoda-metoda pengajaran kita sebagai guru memerlukan dukungan cara-cara alternatif berpikir dan bertindak untuk mengembangkan “belajar untuk memahami”(Learning for Understanding) adalah salah satu bentuk pikiran tentang apa yang berarti untuk menjadi terdidik.

Merujuk pada pemikiran Dewey, refleksi adalah suatu bentuk special daripada pikiran yang seorang pembelajar melaksanakan tindak ketika dia berada pada situasi kebingungan atau situasi penasaran dalam rangka membuat situasi menjadi lebih baik. Dewey melihat refleksi sebagai salah satu ketrampilan seni yang dimiliki guru ketika melaksanakan pengajaran “menyalurkan kondisi-kondisi yang akan menumbuhkan respon-respon intelektual (terhadap siswa)” (Dewey,1933:260). Dewey mengenali bahwa kualitas pembelajar yang tinggi di sekolah tidak muncul dalam kondisi isolasi dan guru-guru perlu menciptakan kondisi-kondisi yang mendukung pembelajaran. Menurut Dewey, penciptaan kondisi-kondisi belajar yang menyenangkan merupakan hasil dari guru-guru yang menjadi reflektif, dan untuk menjadi reflektif meliputi pengembangan perilaku yang pantas untuk mendukung suatu sikap reflektif, pada guru dan pada siswa.

Dewey memberi tiga kerangka perilaku yang penting dalam memberikan pengaruh terhadap seseorang untuk menjadi reflektif, bahwa seseorang tidak hanya “tahu”; melainkan juga harus diikuti oleh kemauan untuk “melaksanakan”. Perilaku penting yang menggambarkan bahwa refleksi diadopsi dan digunakan adalah keterbukaan (open-mindedness), kesenangan hati yang penuh (whole-heartedness), dan tanggungjawab (responsibility (Loughran,1996:4).

Keterbukaan (open-mindedness) adalah seseorang menjadi membuka dan terbuka bagi ide-ide baru dan kemungkinan-kemungkinan, artinya siap untuk mendengar dari seluruh segi dan perspektif, biasanya ketika mereka berada pada situasi kontra, dan pengakuan bahwa pandangan-pandangan sebelumnya mungkin salah.Kesenangan hati yang penuh (whole-heartedness) meliputi rasa mengikat dan membujuk dengan ide-ide dan pikiran: ” seorang guru yang menumbuhkan antusiasme terhadap siswa-siswa telah melakukan sesuatu yang secara metoda formal, tidak masalah bagaimana benarnya, dapat dipenuhi”.

Tanggungjawab (responsibility) diasosiasikan dengan memenuhi arti yang telah dipelajari. Hal ini meliputi pertimbangan-pertimbangan konsekuensi daripada beberapa aksi dan keinginan tahu mengapa sesuatu merupakan kepercayaan yang berharga. Jika perilaku-perilaku ini merupakan jantung refleksi, lalu usahakan refleksi menjadi sebuah tujuan pendidikan yang berharga.

Dari apa yang dipaparkan diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seorang guru dalam situasi pembelajaran dan pengajaran harus selalu refleksi untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan pendidikan yang diamanatkan dalam konstitusi UUD 1945; dan UU Sisdiknas. Mari kita proseskan “refleksi” dalam aktivitas hari-hari kita yang serba “chaos” untuk menghasilkan generasi muda yang terbuka pikiran secara positf, bersenang hati dan penuh tanggungjawab.(*)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=33350

Posted by on 23 Okt 2012. Filed under MIMBAR PUBLIK, RUBRIK. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.