Mengintip Perburuan Tuna Ala Nelayan Palabuhanratu (1)

MENUAI HASIL : Nelayan Palabuhanratu usai memanen ikan tuna di perairan selatan Sukabumi belum lama ini. foto: perli rizal/radarsukabumi

Dicari Sampai Lintang 8, Was-was Dikuntit Pasukan Australia

Usaha menangkap ikan tuna rupanya salah satu andalan nelayan untuk meningkatkan tarap perekonomian. Lantaran, ikan ini memiliki daya jual yang lumayan tinggi. Salah satu pangsa pasar potensial adalah Jepang. Namun, untuk mendapatkan ikan tuna, pemilik kapal (Taweu) dan nelayan rumpon maupun longline harus rela berkorban besar. Seperti apa usaha mereka ?

PERLI RIZAL, PALABUHANRATU,-

IKAN Tuna di Palabuhanratu biasa disebut ikan jabrig. Meski postur ikan ini tidak berjabrig ikan ini hanya memiliki rupa-rupa sirip dan jenis mata. Mulai dari tuna sirip biru (Bluefin Tuna), tuna sirip kuning (Yellowfin Tuna), Tuna mata lebar (Bigeye Tuna), Tuna sirip panjang (Albacore atu Longfin Tuna), tuna gigi anjing (Dogtooth Tuna atau Scaleless Tuna atau Peg tooth Tuna), tuna sirip hitam (Blackfin Tuna atau Bermuda Tuna bisa juga disebut Football).

Di Palabuhanratu, biasanya hasil tangkap nelayan rumpon maupun longline didominasi ikan tuna sirip kuning. Dan terkadang tuna mata lebar. Ikan ini biasanya ditangkap di lautan lepas di lintang tujuh dan lintang delapan. Terkadang, penangkapan ikan berprotein tinggi itu harus bersinggungan dengan zona perbatasan negara Australia.

Sehingga, tak sedikit nelayan rumpon sering diwarning (diberi perhatian) oleh kapal patroli milik Australia.

“Saking semangatnya mencari di perairan yang berpotensi tuna, kita biasanya dikuntit dari jauh oleh tentara laut Australia. Meski, kita masih tetap berada di zona perairan Indonesia,” aku Rahmat, mantan nakhoda kapal rumpon asal Kampung Panyairan, Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu.

Kendala bukan hanya di situ. Untuk bisa mendapatkan ikan tuna yang berlimpah, nelayan harus rela bertarung dengan arus dan gelombang. “Makanya, banyak nelayan yang hilang tanpa kabar,” katanya.

Kali ini, nelayan rumpon dan longline tengah menikmati hasil panen ikan tuna setelah delapan bulan menghadapi musim paceklik. Meski ikan tuna itu diekspor ke Jepang, namun untuk harga ikan dari pengepul ke nelayan hanya kisaran Rp30 ribu/Kg utuk ikan berkapasitas 20 kilogram lebih. Sedangkan untuk ikan yang di bawah 20 kg, nelayan hanya bisa menerima hrga Rp 17 ribu/Kg. bahkan untuk 15 kg kebawah, nelayan hanya bisa menerima harga Rp 12 ribu/Kg. Itu juga kalau ikan yang diproses dan kualitas bagus.

Ketua Pengawas kapal Rumpon dan Longline, Ujang Komara mengatakan, sudah dua pekan ini, nelayan Palabuhanratu bisa menikmati hasil tangkapnya. “Hasil penangkapan dengan alat rumpon ini salah satu yang mempermudah nelayan untuk menangkap ikan,” tukasnya. (**)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=32615

Posted by on 18 Okt 2012. Filed under FEATURES, KABUPATEN SUKABUMI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.