Melirik Pengrajin Gitar Sukabumi

FOTO:WIDI/RADARSUKABUMI
TELITI: Pengrajin Gitar Sukabumi menyelesaikan proses pembuatan gitar akustik di rumahnya yang terletak di Jalan Saniin Benteng Tengah Kota Sukabumi, kemarin.

Keluhkan Pemasaran, Minim Perhatian Pemkot Sukabumi

Nyaringnya alunan petikan senar hampir setiap harinya terdengar di Jalan Saniin Benteng Tengah Kota Sukabumi. Nampak juga terlihat beberapa tumpukan bodi – bodi dari kayu yang setengah jadi pun, masih tertata rapi di area pekarangan rumah milik seorang warga asal Benteng Tengah Dede Gunawan (35) yang juga sekaligus sebagai seorang pengrajin gitar yang cukup terkenal.

Oleh : Widi Fitria Rachman-Sukabumi

Industri kecil tempat pembuatan gitar milik Dede ini sudah lima tahun berdiri. Mulanya Dede iseng membuat gitar dengan belajar otodidak serta sharing lewat internet, mulanya gitar buatan Dede banyak gagal. Namun, setelah mencoba sekian lama, akhirnya Dede berhasil membuat sebuah gitar yang bagus. Awalnya ia hanya menawarkan kepada teman-temanya saja. Karena dirasa gitar buatan Dede ini mepunyai kulaitas yang bagus dan terbuat dari bahan baku body solid atau terbuat dari kayu asli. Maka banyak konsumen dari berbagai daerah seperti Surabaya, Lampung, Jakarta, Kalimantan dan kota-kota lainnya yang memesan gitar buatan Dede.

“Yah pertama sih dari mulut kemulut, setelah itu saya share juga lewat media online dan alhmdulilah banyak yang pesen dari berbagai Daerah,” ujarnya.

Tampilan gitar buatan Dede memang biasa saja seperti gitar akustik pada umumnya, namun yang menjadi minat perhatian konsumen adalah dari kualitas barang yang lebih ditonjolkan oleh Dede, di mulai dari pemilihan bahan gitar yang sebagian menggunakan kayu impor. Seperti maple untuk bahan baku neck atau batangnya dan kayu spruce dede gunakan untuk top atau body akustik. Sedangkan untuk kayu lokal seperti sonokling, damar, Pilus, dan mahoni khusus untuk pembuatan bodi gitar listrik

“Pemilihan jenis kayu kan mempengaruhi tampilan gitar dan juga suaranya,”kata bapak satu anak ini.

Proses pembuatannya pun masih terbilang tradisional kerena menggunakan alat-alat yang masih tradisional. Biasanya Dede setiap pemesanan Dede yang langsung terjun sendiri, karea menurutnya saat ini dede belum mempunyai pegawai. Dalam satu bulannya Dede biasa membuat sekitar lima sampai tujuh gitar, untuk satu gitar akustik diperlukan waktu sekitar sepuluh hari baru bisa selesai sedangkan untuk gitar akustik diperlukan waktu dua sampai tiga minggu baru bisa jadi. Tidak hanya diminati oleh kalangan masyarakat biasa Dede pun pernah juga diminta membuat gitar oleh artis-artis papan atas.

Harga yang dijual bervariasi sekitar Rp650 ribu – Rp5 juta, tergantung dari kualitas barangnya. Tidak hanya pandai membuat gitar akustik dan gitar listrik dede juga sering diminta, untuk membuat alat musik lain seperti biola, snare drum. Selain itu Dede juga melayani jasa perbaikan gitar.

Meski saat ini Dede sudah mempunyai pelanggan tetap, dari berbagai kalangan. Namun pengrajin gitar yang sudah berdiri sejak tahun 2007 ini mengeluhkan sulitnya pemasaran produk, akibat kurangnya perhatian dari pemerintah setempat. Pasalnya saat ini pemerintah terutama dinas-dinas terkait belum ada perhatian terhadap UKM kecil seperti Dede ini. Seperti kurangnya pemberian modal serta bantuan pemasaran produknya. Ia juga mengaku, meski usahanya ini sudah berdiri lima tahun namun pemasarannya hanya melingkupi perorangan saja.

“Yah kalau bisa ada perhatian seperti mengajak perusahaan besar untuk bekerja sama dengan UKM -UKM. Seperti saya, jadi kan kalau ada kerja sama seperti itu ada penghailan tetapnya, kalau kaya gini kan palingan hanya satu yang pesen belum lagi ongkos kirimnya yang jauh,” keluhnya.

Dengan mengusung nama Morisson Gitar, Dede yang saat ini berusia 35 tahun ini mempunyai cita-cita untuk bisa membuka tokonya sendiri.Sehingga barang produksinya ini bisa lebih dikenal banyak orang lagi.(*)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=32371

Posted by on 17 Okt 2012. Filed under FEATURES, PENGRAJIN. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.