Palabuhanratu Harus Miliki Klimbis

DITERANGKAN: Peneliti BBPESKP, Budi saat memberikan penjelasan seputar produksi ikan Tuna, Tongkol dan Cakalang (TTC) di PPNP. foto: perli rizal/radarsukabumi

PALABUHANRATU–Sebagai pusat Ibu Kota, Pariwisata dan Industrialisasi. Palabuhanratu harus memiliki Klinik Ilmu Teknologi (Iptek) Mina Bisnis (Klimbis). Usulan itu disampaikan Kepala Bidang Tata Operasional Balai Besar penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBPESKP), Armen Zulham pada sosialiasasi Assessment (Penaksiran) industrialisasi perikanan di Kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP), kemarin.

Menurut dia, klimbis ini merupakan bentuk kelembagaan pemberdayaan masyarakat di pedesaan. klimbis ini bisa dimanfaatkan untuk mengimplementasikan berbagai program. Diantaranya, Program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN), dukungan terhadap Program Industrialisasi Perikanan, Program peningkatan produksi perikanan, PUMP, PUGAR, dan berbagai program lainya untuk mendorong kehidupan ekonomi masyarakat di pedesaan termasuk di Palabuhanratu. Klinik ini memfasilitasi program-program tersebut melalui kegiatan asistensi dan pengawalan. “Klimbis ini merupakan wadah yang sangat strategis untuk introduksi paket teknologi Kelautan dan Perikanan, sekaligus memperoleh umpan balik dari masyarakat tentang teknologi tersebut,” terang Armen yang juga peneliti BBPESKP.

Senada dikatakan peneliti lainnya, Budi. menurut dia, Lokakarya Klimbis ini berfungsi mengidentifikasi dan membangun jaringan kerja Klimbis pada setiap lokasi. Menjaring dan melaksanakan koordinasi rencana kegiatan pada setiap klimbis dan mengintegrasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat KP ke dalam Klimbis. Sehingga, bagi pelaku usaha perikanan itu akan dibina hingga menjadi pelaku bisnis ikan yang mandiri. “Kami telah melakukan penelitian Produksi Tuna, Tongkol dan Cakalang (TTC) ini sejak 2009. Dan menurut hasil penelitian kami, produksi ikan pindang Bogor yang sangat diburu oleh konsumen,” terangnya.

Jika pelaku usaha ikan pindang di Palabuhanratu ingin tetap menjaga eksistensinya, maka pelaku usaha ini harus melakukan inovasi. “Misalnya, pengemasannya jangan menggunakan kertas. kaau masih sama dengan pelaku usaha yang dekat dengan konsumen maka Pelaku usaha Palabuhanratu tetap akan kalah. Karena kos hingga ke konsumen itu mahal sehingga harga ikan pun tidak bisa bersaing. dan saya lihat banyak pelaku usaha ikan pindang di Bogor itu banyak dari Palabuhanratu. Artinya, mendekati konsumen,” bebernya.

Ia juga menyampaikan, sosialisasi tersebut bermaksud untuk menyampaikan hasil temuan selama pihaknya melakukan penelitian TTC. “Kami menyesuaikan hasil penelitian dengan pendapat masyarakat di sini (Palabuhanratu). Dan jika masih ada yang tidak singkron maka akan dijadikan bahan evaluasi kami. Karena dari hasil penelitian ini akan dijadikan rujukan sebagai kebijakan pemerintah,” tukasnya.(ryl)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=30352

Posted by on 4 Okt 2012. Filed under KABUPATEN SUKABUMI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top Jump To Top
3.34% 2.77% 11.49% 16.28% 13.80% 10.83% 10.17% 14.81% 5.76% 8.52% 1.50% 0.74%
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.