Mengenal Makanan Tradisional Khas Sunda di Sukabumi

FOTO:WIDI/RADARSUKABUMI
RENYAH:Ratusan Rangginang berbagai rasa ini dikerjakan dengan telaten oleh ibu-ibu PKK Kp. Pesantren RT/RW 01/05 Kelurahan Jambenenggang Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.

Bersaing dengan Makanan Modern, Tembus Pasar Ibukota

Meski termasuk makanan lawas, pamor Rangginang sebagai salah satu makanan tradisional khas Sunda ini tidak pernah terkikis oleh zaman.

Laporan : Widi Fitria Rachman

Usaha pembuatan Rangginang yang satu ini terbilang cukup eksis. Terletak di salah satunya sentra pembuatan makanan tradisional khas Sunda, di Kp. Pesantren RT/RW 01/05 Kelurahan Jambenenggang Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di desa ini terdapat puluhan pengrajin makanan Sunda, khususnya Rangginang yang digerakan oleh ibu-ibu PKK Amanah.

Cemilan yang terbuat dari beras ketan tersebut ada dua jenis yakni beras ketan hitam dan putih. Untuk rasa, konsumen tidak usah khawatir. Sebab. rasanya tak kalah renyah dan guruhnya seperti makanan ringan modern, yang berbeda hanya dari sisi warna saja. Meski masuk katregori makanan tradisional, Rangginang masih diminati masyarakat.

Menurut salah satu penggerak PKK Amanah, Murni (50). Pemesanan Rangginang mulai banyak terutama pada saat lebaran Idul Fitri.

“Biasanya pada momen itu saya sampai kewalahan, untuk menerima pesanan dari para konsumen,”ujar wanita paruh baya ini kepada Radar Sukabumi.

UKM yang terbentuk dari 2006 ini awalnya sering mendapatkan pengarahan dari Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW). Yaitu salah satu LSM yang berada di Jakarta. Dalam penyuluhannya itu, warga Kp. Pesantren khususnya kaum ibu, diberi pembekalan untuk membuat kelompok PKK. Seperti pembuatan kerajinan makanan tradisinal.

Dari hasil tersebut, ibu-ibu warga Kp. Pesantren diberi bantuan, berupa alat-alat untuk membuat Rangginang dan lainnya. Serta diberikan sertifikat halal dari MUI, dan sertifikat Pengrajin Ibu Rumah Tangga (PIRT).

“Sejak itulah mulai terbentuk UKM ibu-ibu PKK Amanah, yang saat ini anggotanya sudah mencapai 20 orang,”kata Murni.

Meski pemitannya agak menurun semenjak 2 tahun terakhir ini, karena maraknya usaha sejenis di Sukabumi. Namun, Murni tidak putus asa. Pasalnya untuk tetap mempertahankan eksistensi makanan tradisional ini, dirinya terus mencari inovasi baru, dengan menambahkan rasa, agar menarik para konsumennya. Seperti rasa Original dan rasa terasi.

Sementara itu, untuk harganya sendiri, Murni biasa menjual Rp9 ribu/bungkus dengan isi 18 buah rangginang.

“Saat ini rangginang buatan kami dipasarkan selain di Sukabumi, juga sudah mulai masuk ke pasar ibu kota Jakarta dan Bandung,”ulasnya.

Selain penjualannya yang mulai sulit, karena harus bersaing dengan orang lain. Saat ini Murni juga kesulitan untuk mendapat beras ketan berkualitas bagus. Pasalnya, saat ini beras ketan sudah mulai jarang ditemui.

“Kalau saya kan biasa beli di petaninya langsung. Jadi kalau ada saya produksi. Tapi kalau lagi gak ada, yah terpaksa gak bikin,” ujar wanita kelahiran 1 April 1962 ini.

Meski terbilang cukup sulit, Murni tidak pernah mau membeli beras ketan di pasar. Pasalnya, sekarang ini sudah banyak beras ketan yang sudah dicampur.

“Jadi kalau dibuat menjadi rangginang, kualitasnya jelek,”katanya menambahkan.

Dalam seminggu, ia biasa memproduksi sekitar 6 ribu bungkus. Dengan mengambil keuntungan sekitar Rp300 ribu/bulannya.

Menurut wanita kelahiran 50 tahun silam ini, bisnis rangginang ini cukup membantu perekonomian keluarganya. Hal ini terbukti dari hasil penjualan rangginang yang digeluti selama enam tahun, ia mampu menyekolahkan ke tiga anaknya hingga ke perguruan tinggi.(*)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=30221

Posted by on 4 Okt 2012. Filed under EKBIS SUKABUMI, FEATURES. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.