Gunung Salak masih Normal

**Gempa masuk Klasifikasi Tektonik Jauh

SUKABUMI–Penyebab gempa berkekuatan gempa 4,8 skala richter (SR) yang mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi dan Bogor bukan dari peningkatan aktivitas Gunung Salak. Berdasarkan hasil evaluasi di pos pengamatan Gunung Api Salak, kondisi Gunung Salak cukup normal, sementara gempa tersebut bukanlah vulkanik, tapi tektonik jauh. Begitu juga kondisi tiga kawah yakni Kawah Ratu, Kawah Hirup dan Kawah Paeh, tidak menunjukan aktivitas berbeda alias masih normal.

“Gempa pada Minggu (9/9) bukan merupakan peningkatan aktivitas Gunung Salak atau gempa vulkanik. Hingga saat ini dari hasil seismograf terpantau aktivitas gunung masih normal,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Salak, Sudewo, kemarin.

Menurut dia, gempa tersebut terekam seismograf karena alat tersebut dapat merekam guncangan sekecil apapun yang berada di Gunung Salak. “Tanpa alat Seismograf pun gempa terasakan cukup besar,” ujarnya.

Sekadar diketahui, gempa ada berbagai kriteria diantaranya tektonik jauh, tektonik lokal, vulkanik serta low frequensi.

Sementara itu, jumlah kerusakan bangunan terdiri dari rumah dan tempat ibadah di Kecamatan Kabandungan sebanyak 476, dengan kriteria jumlah kerusakan sedang dan ringan. Data tersebut merupakan rekapan dari hari pertama terjadinya gempa Minggu (9/9) hingga Selasa (11/9), mengenai jumlah kerugian belum bisa dipastikan BPBD dalam hal ini masih melakukan rekpitulasi.

“Setiap desa di Kecamatan Kabandungan terkena dampak gempa. Untuk jumlah kerugian masih dalam perhitungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),” kata Camat Kabandungan Achmad Sujadi.

Sujadi menambahkan mengenai bantuan logistik, warganya sudah menerima berupa makanan. Dia pun turut membantu pendistribusian bantuan korban gempa ini ke RT dan RW. “Sedangkan sejumlah bangunan yang mengalami kerusakan ringan sudah diperbaiki warga,” katanya.

Menanggapi penyebab timbulnya gempa yang menimbulkan simpang siur, rencananya Muspika, BMKG, Badan Geologi, TNGHS dengan Chevron akan melakukan pertemuan serta evaluasi penyebab gempa dan dampak kerusakannya. “Hal ini agar tidak memunculkan kepanikan warga berlebihan,” tukasnya.

Terpisah, Tagana Kecamatan Kalapanunggal mendata 131 rumah beserta sarana umum, di tiga desa yakni Pulosari, Palasarigirang dan Walangsari yang terkena imbas gempa. “Data terakhir menyebutkan 131 bangunan rumah dan sarana umum yang terkena dampak gempa,” jelas Tagana, Hendi Kurniawan. (dri)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=26826

Posted by on 12 Sep 2012. Filed under UTAMA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. -->