TNGGP Target Perkembangbiakan Satwa

Elang Jawa, Macan Tutul serta Owa Jawa

Elang Jawa, Owa Jawa serta Macan Tutul

Elang Jawa, Owa Jawa serta Macan Tutul

Elang Jawa, Owa Jawa serta Macan Tutul

Elang Jawa, Owa Jawa serta Macan Tutul

NAGRAK- Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) terus berkomitmen untuk menjaga satwa asli yang hidup di kawasan hutan. Setiap tahun, TNGGP mentarget perkembangiakan satwa liar yang keberadaannya diancam kepunahan.

TNGGP sendiri memiliki tiga spesies satwa langka yang dilindungi yaitu Elang Jawa, Owa Jawa serta Macan Tutul Jawa.
“Saat ini Elang Jawa yang masih hidup sebanyak 247 ekor kemudian Owa jawa 147 ekor lalu paling mencengangkan ialah Macan Tutul Jawa atau nama latinnya Panthera Pardus hanya ada 56 ekor saja,” papar Kepala Balai Besar TNGGP, Agus Wahyudi belum lama ini.

Menurutnya habitat satwa tersebut banyak terdapat di kawasan Taman Nasional di wilayah Sukabumi. Inilah yang menjadi alasan kenapa beberapa pintu pendakian dianggap ilegal untuk dilalui dasarnya jalur itu merupakan wilayah ekosistem satwa satwa tersebut.

“TNGGP punya 20 pintu pendakian akan tetapi hanya ada tiga yang resmi. Aturan kami beberapa pintu pendakian khususnya di Kabupaten Bogor dan Sukabumi merupakan daerah konservasi satwa yang dilindungi. Sebab jika dilalui manusia, khawatir ekosistemnya akan terganggu dan rusak,” ujarnya.

Tentang target, agus menjelaskan setiap tahunnya satwa itu mesti bertambah sekitar tiga atau lebih baiknya lima persen. Mengenai upaya yang dilakukan dengan cara konservasi, salah satunya javan Gibbon Center atau pusat penyelamatan dan rehabilitasi owa Jawa di area Bodogol, Cigombong Bogor.

Akan tetapi hal tidak mudah dilakukan, sebab ada beberapa kendala diantaranya kebiasaan satwa,faktor lingkungan atau gangguan dan juga makanan. “Satwa itu mesti hidup alami untuk berkembang biak. Seperti Owa jawa merupakan binatang yang harus mendapatkan satu pasangan saja untuk makanan mereka memilih untuk mencari sendiri dibanding diberi, sama seperti Macan awa” ungkapnya.

Berbeda dengan Elang Jawa. Hewan ini dianggap paling sulit itu berkembang biak. Sebab cara satwa ini kawin harus saat terbang. Sedangkan untuk menyediakan itu berarti Elang Jawa harus dibiarkan di alam bebas yang rawan perburuan.

“Pernah satu waktu saya bertemu dengan peneliti hewan Elang asal Amerika. Dia berani menghargai satu ekor Elang Jawa Rp25 miliar. Alasannya karena hewan ini sulit berkembang biak,” ungkapnya.
Agus mengingatkan, maka dari itu masyarakat harusnya bangga Elang yang menjadi lambang negara ini masih hidup di taman nasional. “Satwa ini merupakan aset yang tidak ternilai harganya sebuah ikon ekosistem hayati yang mesti dijaga,”wantinya. (dri)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=17532

Posted by on 9 Jul 2012. Filed under KABUPATEN SUKABUMI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top Jump To Top
Copyright Β© 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.