Petani Tebu Rakyat Protes PTPN X

JAKARTA – Gurihnya momentum musim giling tebu rupanya belum bisa dirasakan oleh seluruh kalangan petani tebu rakyat. Di Tulungagung misalnya, banyak petani tebu kecil yang didiskriminasi atas peluang penggilingan tebunya di Pabrik Gula (PG) Mojopanggung, salah satu PG milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. Hal ini pun menciptakan situasi paradoks lantaran masih banyaknya sistem yang menghambat semangat reformasi birokrasi di Badan Hukum Usaha Milik Negara (BUMN).

Salah satu petani tebu di Tulungagung Hary Suyanto memaparkan, saat ini pihaknya sangat sulit memasukkan tebu hasil tanamnya ke PG untuk digiling. Jika argumentasi pabrik mengenai mesin giling yang sedang dalam masa perawatan, Hary menerangkan, pihaknya bisa menerima. Namun, sejauh pihaknya secara intensif berkomunikasi dengan Sinder Tebang (Pihak yang mengkoordisasikan proses masuknya tebu ke PG), kuota pabrik yang berlebih adalah menjadi alasan. “Sinder tebang hanya bilang tebu kelebihan, sehingga jatah hanya dua atau tiga hari sekali. Tapi kalau kontraktor besar bisa masuk terus,” ungkapnya kepada Jawa Pos akhir pekan lalu (30/6).

Padahal, Hary melanjutkan, PG telah memiliki kontrak, baik dengan petani tebu kecil maupun besar. Kontrak tersebut menyangkut tentang masa tebang dan giling. “Karena itu, mestinya PG sudah punya jadwal tebu kiriman (dari lahan), sekaligus dengan kuotanya, sehingga bisa dihitung. Apalagi, saat ini PG tak hanya menerima kiriman tebu lokal, namun juga dari luar kota,” terangnya.

Lantaran kurang tertibnya praktek di lapangan tersebut, maka ada imbas yang cukup signifikan terhadap tebu hingga tenaga kerja. Disebutkan, dengan molornya jadwal giling, maka tebu yang sudah saatnya ditebang harus ditunda. Akibatnya, kualitas tebu juga semakin menurun, yang berdampak pada lemahnya performa rendemen. “Selain itu upah tenaga kerja penebang juga menjadi molor,” jelasnya.

Harry mengatakan, sulitnya petani kecil untuk mendapatkan kontinuitas jadwal penggilingan tebu, membuat para petani kecil tersebut memilih untuk menggiling tebu dengan alat sendiri. “Dijadikan gula merah,” sebutnya. Saat ini, sudah ada ratusan petani tebu dengan skala kecil yang menggiling tebunya sendiri.

Di lain pihak, Sekretaris Perusahaan PT PTPN X Cholidi membantah adanya diskriminasi penggilingan yang diterapkan oleh PG. Menurut Cholidi, sejak awal telah ada rencana pasok. Misalnya petani yang kontraknya atas nama beberapa kelompok, nantinya hak pasoknya akan dibagi. Sehingga, untuk petani yang lebih kecil, tentu saja hak pasoknya lebih kecil. “Adil itu tidak mesti sama rata, tapi porsi sesuai dengan yang dipasok,” terangnya.

Sementara itu, hingga minggu ketiga bulan Juni, PTPN X telah memproduksi 92 ribu ton gula. Diprediksi hingga akhir Juni, produksi telah mencapai 127 ribu ton. Posisi tersebut masih jauh dari target hingga akhir Oktober mendatang sebesar 525 ribu ton gula, lebih rendah dari taksasi awal sebesar 557 ribu ton. Kapasitas giling pabrik di bawah naungan PTPN X sebesar 40 ribu ton per hari. Kontributor terbesar adalah PG Ngadirejo, PG Pesantren, dan PG Gempol Kerep, yang rerata masing-masing pabrik memiliki kapasitas giling 6.200 ribu ton per hari. (gal/jpnn)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=16950

Posted by on 4 Jul 2012. Filed under EKBIS NASIONAL. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.