Melihat Kaulinan Urang Lembur Punggawa Ratu Pasundan (1)

Kaulinan Urang Lembur, Diminati Wisatawan Asing

KAULINAN LEMBUR: Anak-anak ketika bermain jajangkungan di Punggawa Ratu Pasundan Desa Sukaratu, Kecamatan Gekbrong Cianjur, Rabu (2/5). (FOTO : DENI ABDUL KHOLIK/RADAR CIANJUR)

SAAT ini permainan kaulinan urang lembur semakin tergerus. Lantaran, pemuda  jaman sekarang sudah mulai melirik kaulinan moder. Namun di Kampung Cibeleng Desa Sukaratu Kecamatan Gekbrong kaulinan modern tak berlaku lagi. Di Desa Budaya ini kaulinan urang lembur dilestarikan dan ditingkatkan.

Laporan : DENI ABDUL KHOLIK, Cianjur

UNTUK tiba di Desa Sukaratu, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Cianjur kota menggunakan kendaraan bermotor. Suasananya masih kental dengan atmosfer kawasan perdesaan. Di kanan kiri jalan menuju Desa Sukaratu, kita masih bisa melihat hamparan areal persawahan yang masih tertata rapi.
Apa yang menjadi keberhasilan di Desa Sukaratu ini tak terlepas dari kepedulian salah seorang warga setempat. Dia adalah Herawati. Bersama suaminya, Wawan, Herawati merintis tanah kelahirannya agar bisa diperhitungkan, minimalnya di Kabupaten Cianjur. Upayanya berhasil. Apalagi, Hera mendapatkan dukungan dari Paguyuban Pasundan. Saat ini Hera dipercaya memegang jabatan Direktur Eksekutif Punggawa Ratu Pasundan.
Di Punggawa Ratu Pasundan permainan tradisional (kaulinan urang lembur), seperti egrang, bakiak raksasa, galah pepe, sondah, gatrik, luncat tinggi, ataupun sosorodotan, terus dilestarikan dan ditingkatkan. Permainan tradisional itu merupakan kaulinan (permainan) sehari-sehari yang mereka lestarikan dari orangtuanya.
Masih dilestarikannya kaulinan urang lembur ini menjadi satu nilai jual tinggi bagi sektor parisiwata masyarakat setempat. Tak hanya menjadi daya tarik wisatawan lokal, tapi juga wisatawan asing dari beberapa negara di Eropa dan Asia. Mereka sempat mengunjungi Desa Sukaratu hanya sekadar melihat kaulinan urang lembur. Tercatat, wisatawan yang pernah berkunjung ke Desa Sukaratu antara lain berasal dari Belanda, Kanada, Amerika, Jepang, dan India. Di Desa ini juga terdapat peninggalan sejarah seperti Sanghyang Tapak, Batu Datar, hingga Makam Kabayan. Sayang, peninggalan sejarah ini belum tergarap maksimal.   “Di Desa Budaya ini akan terus dilestarikan kebudayan baik kaulinan urang lembur, makanan khas sunda dan seni sunda, serta lainnya,” kata Direktur Punggawa Ratu Pasundan, Herawati.
Menurut dia, ada tiga hal penting yang ada di Desa Sukaratu, yakni sejarah, flora dan fauna, serta budaya. Di desa ini dulunya sempat ada kerajaan kecil bernama Gedug Harimun dibawah Kerajaan Pajajaran. Saat itu, raja yang berkuasa adalah Rangga Gading dan Degdeg Daya. Berbagai peninggalan sejarah kerajaan itu masih ada, seperti Goa Suryakencana di Gunung Kencana dan Batu Patilasan Menghilang atau Menghiyang Raja Rangga Gading.
Begitu pula dalam aspek flora dan fauna. Desa Sukaratu dikelilingi wilayah pegunungan, yakni Gunung Bubut, Gunung Kencana, dan Gunung Gajah. Karena dikelilingi tiga gunung, sehingga tidak sedikit hewan liar yang terlindungi masih ada di tiga gunung itu. Sedangkan dalam konteks budaya, desa ini masih memelihara tradisi kaulinan urang lembur seperti Jajangkungan, Sondah, Serseran, Wawayangan, serta lainnya. “Keberhasilan merintis desa wisata dan budaya didasari potensi yang masih dilestarikan di desa itu. Apalagi adanya keinginan dan harapan dari masyarakat sekitar,” tambah Ketua Paguyuban Pasundan Cabang Cianjur, Abah Ruskawan.  (**)

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=10516

Posted by on 3 Mei 2012. Filed under CIANJUR. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. -->