Histeria dari IPB sampai Senayan

 

Oleh Hazairin Sitepu

 

DIMINTA TANDA TANGAN: Buruh peserta unjuk rasa meminta Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk membubukan tanda tangan di baju, topi hingga kaos saat peringatan May Day di Jakarta, kemarin

Dahlan Iskan kini sedang menjadi idola oleh banyak orang di negeri ini. Mahasiswa, buruh, petani, pengusaha, akademisi seakan mendapatkan pembanding tentang cara pemimpin dan  bekerja pejabat publik. Lagi pula reformasi dan demokrasi belum sanggup menyuci kultur birokrasi dan kultur praktek bernegara yang sampai saat ini belum sehat. Berikut ini sedikit deskripsi tentang kehadiran Dahlan Iskan di kampus IPB Bogor dan di tengah demonstrasi buruh di Jakarta.

 

 

Tiga ribu lebih mahasiswa sontak berdiri dari tempat duduknya kemudian bertepuk tangan (standing ovation) begitu MC mengumumkan bahwa tokoh yang mereka tunggu sedari sore sedang memasuki ruangan. Tepuk tangan dan terus bertepuk tangan sampai dengan sang tokoh duduk di kursi, sejajar dengan kursi tamu lainnya, bersama rektor dan penyelenggara acara.

Tidak hanya bertepuk tangan, ada puluhan mahasiswa yang berteriak: “Pak Dahlaaan…Pak Dahlaaan…Pak Dahlaaaaan. Dua atau tiga mahasiswi bahkan sampai histeris. Sang tokoh kemudian membalas dengan melambaikan tangan sambil melangkah beberapa meter dari kursinya. Mahasiswa kemudian diminta untuk duduk oleh MC karena acara segera dimulai.

Tiga ribu lebih mahasiswa itu tidak beranjak dari tempatnya dan tetap mengikuti dengan tekun setiap kalimat yang dituturkan sang tokoh. Tepuk tangan bergemuruh begitu sang tokoh  mengatakan  bahwa bangsa Indonesia harus sama dan sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia. Atau ketika mengatakan bahwa Indonesia mestinya mengeksport hasil-hasil pertanian dan bukan mengimport.

Ini adalah sedikit suasana dari kehadiran Dahlan Iskan, menteri negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Selasa malam, dua minggu lalu.  Ia memang sudah ditunggu kehadirannya di kampus itu, oleh civitas akademika,  sejak beberapa hari sebelumnya.

Dahlan malam itu bagai seorang bintang atau selebriti kelas dunia yang hadiri di tengah penggemarnya. ”Ini penyambutan luarbiasa dari mahasiswa IPB. Tidak biasanya ada tokoh pemerintah disambut seperti ini. Anda liat tadi, tidak keliatan mahasiswa yang beranjak sampai Pak Dahlan meninggalkan gedung ini,” kata seorang dosen institut yang telah berumur 60 tahun itu.

Dahlan hari itu memang diundang oleh Rektor IPB Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto, MSc untuk memberikan stadium general dalam kaitan ulangtahun ke-60 IPB, di Graha Widya Wisuda (GWW), kampus Dramaga. Dahlan sangat fasih berbicara tentang pertanian karena selain lahir dan besar di desa, saat ini dia sedang berjuang untuk kemandirian pangan Indonesia melalui perusahaan-perusahaan pangan BUMN.

Dahlan dipilih karena dia disebut sebagai pemimpin yang selalu berfikir dan bertindak di luar kotak   (think and act laterally) atau di luar cara berfikir dan bertindak normal. “Pak Dahlan adalah pemimpin yang selalu berfikir dan bertindak out of the box. Kita membutuhkan pemimpin seperti ini. Kita butuh pemikiran Pak Dahlan dalam membangunan dunia pertanian di tanah air,” kata Prof Herry ketika memberikan sambutan pembuka.

Suasana lebih ‘parah’ ketika menteri BUMN itu hendak keluar dari dalam ruangan tempat dia memberi kuliah. Tidak hanya standing ovation yang lebih panjang dan lebih gemuruh,  Dahlan nyaris tidak bisa keluar dari GWW malam itu. Ia didatangi dan dikerubungi mahasiswa yang ingin foto bersama, minta tandatangan, salaman dan cium tangan. Histeria kembali terjadi, terutama dari kalangan mahasiswi, yang tidak sempat menyalami atau mendapatkan tandatangan dan foto bersama. Ada yang bahkan sampai menangis karena tidak bisa menggapai tangan Dahlan Iskan yang wartawan itu.

Di luar GWW telah menanti ratusan mahasiswa lainnya, tetapi lantaran sudah pukul 22 lewat dan masih ada acara, Dahlan tidak sempat menyalami kecuali membuka kaca mobil dan melambaikan tangan. “Pak Dahlaaan… Pak Dahlaaann… Pak Dahlaaaaan. Jaga kesehatan Pak Dahlaaaaan,” begitu teriak mahasiswa yang berjubel itu.

Deskripsi ini saya kemukakan untuk memberi tahu bahwa ada pejabat pemerintah yang begitu dicintai dan dijadikan idola oleh mahasiswa. Biasanya, pejabat pemerintah yang datang ke kampus di zaman reformasi dan demokratisasi ini, apa lagi menteri,  sering menjadi objek caci-maki pemerintah, didemo dan direndahkan. “Pak Dahlan itu idola kami. Kami sering mendiskusikan tindakan-tindakan dan karakter beliau,” ujar seorang mahasiswa dari BEM DKI kepada saya ketika dia dan teman-temannya sedang berdemo di sebuah tempat di Jakarta.

Sikap apa adanya Dahlan Iskan ini agaknya menjadi daya tarik bagi mahasiswa. Saya sudah hampir 30 tahun menjadi wartawan tapi baru kali ini melihat ada mahasiswa Indonesia menyambut pejabat pemerintah bagai seorang ‘superbintang’ pujaan. Teriakan histeris dan bahkan ada yang sampai menangis karena tidak mendapat tandatangan atau salaman dari tokoh pemerintah idolanya itu.

 

Minta Kaos Dalam Ditandatangani

Selasa 1 Mei kemarin adalah hari yang menakutkan saya, ketika Dahlan Iskan memutuskan untuk jalan kaki dari kantor Meneg BUMN di Merdeka Selatan ke kantor Meneg ESDM untuk rapat di sana, kemudian melanjutkan jalan kaki ke kantor ITC di Jalan Abdul Muis. ITC adalah salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dalam bisnis perdagangan.

Selasa kemarin adalah Hari Buruh Internasional yang diperingati oleh buruh di seluruh dunia. Di Jakarta, sekitar 60 ribu buruh berdemonstrasi dengan puncaknya berkumpul di Stadion …Bung Karno di Senayan.  Jalan Merdeka Selatan, Merdeka Barat, Merdeka Utara dan silang Monas sejak pagi sampai dengan  sia hari padat dengan massa buruh. Untuk sampai ke kantor ITC Dahlan memang harus jalan kaki karena Jalan Merdeka Barat ditutup total untuk kendaraan dan buruh berdemonstrasi di situ sampai dengan depan Istana Presiden.

Dahlan dengan ditemani dua stafnya berjalan kaki di tengah ribuan buruh yang lagi berdemo itu. Di sepanjang jalan ia dikerubungi buruh yang lagi berdemo untuk bersalaman, foto bersama, minta tandatangan dan bahkan mencium tangan. Ada kelompok buruh yang sedang demo sambil meneriakkan May Day …May Day..harus menghentikan demo untuk sementara  hanya untuk bersalaman dan berfoto bersama Dahlan Iskan.

Sore hari, ketika berada di Senayan untuk melihat  Grup Band Slank yang sedang bernyanyi dalam peringatan hari buruh,  Dahlan bertemu dengan buruh yang jumlahnya jauh lebih besar dibanding di Merdeka Barat. Menteri BUMN ini kembali menjadi sasaran para buruh: salaman, foto bersama dan minta tadatangan. Laki-laki, perempuan, tua-muda, bahkan sampai memeluk dan mencium tangannya.

Dahlan kemarin tidak sanggup melayani permintaan tandatangan dari buruh-buruh demonstran itu. Ada yang menyodorkan kertas, topi, baju, jacket, bahkan kaos dalam. Ada pula yang minta punggungnya yang ditandatangani oleh Dahlan. Beberapa spidol harus kehabisan tinta lantaran tandatangan ini.

Dahlan Iskan agaknya sedang menjadi idola bagi begitu banyak orang di negeri ini. Mahasiswa dan buruh adalah dua komunitas besar masyarakat Indonesia yang sangat kritis kepada pemerintah, tetapi meraka begitu senang, banggga, dan boleh saya katakan begitu mencintai Dahlan Iskan.

Mungkin saja karakter dan sikap apa adanya Dahlan Iskan-lah yang disukai. Atau mungkin mereka telah kehilangan atau belum menemukan figur pemimpin yang pantas untuk diidolakan saat ini. Lalu Dahlan Iskan datang bagi setangkai mawar di malam Valentin. ****

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=10331

Posted by on 2 Mei 2012. Filed under Catatan Redaksi, UTAMA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed

Photo Gallery

Jump To Top
Copyright © 2009 PT. Jawa Pos National Network. All Rights Reserved.