Featured

Sang Juru Ketik AR Baswedan, Hingga Wafat Tetap Wartawan

RADARSUKABUMI.com – Almarhum Abdurrahman Baswedan (A.R. Baswedan) merupakan satu dari enam nama yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 2018 oleh Pemerintah Indonesia. Seperti apa sosok kakek dari Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta itu?

Nasuha, JAKARTA

Hari ini, (10/11) bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Seperti tradisi dari tahun ke tahun, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada mereka yang berjasa terhadap kemerdekaan republik ini. Tahun ini, pemerintah menetapkan gelar Pahlawan Nasional kepada (alm) Abdurrahman (A.R.) Baswedan dari DI Jogjakarta, (alm) Agung Hajjah Andi Depu dari Sulawesi Barat, (alm) Depari Amir dari Bangka Belitung, (alm) Mr Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, (alm) Ir H Pangeran Mohammad Noor dari Kalimantan Selatan, dan (alm) Brigjen KH Syam’un dari Banten. Pemberian gelar dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11) lalu.

Di antara keenam pahlawan tersebut, A.R. Baswedan menjadi perhatian tersendiri bagi Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta. Pasalnya, A.R. Baswedan adalah kakek Anies. Sebagai cucu, Anies mengaku bersuka cita atas penganugerahan gelar Pahlawan kepada A.R. Baswedan.

Anies merasa ada rasa gembira dan bangga terhadap jasa dan perjuangan mendiang kakeknya tersebut. ”Saya menghadiri pemberian gelar Pahlawan Nasional pada kakek kami Abdurrahman Baswedan,” tutur Anies di Balai Kota DKI.

Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969 itu punya kenangan tersendiri bersama sang kakek. Sejak kecil ia tumbuh besar dalam satu rumah bersama kakeknya di DI Jogjakarta. Anies tidak sendiri. Dia tinggal bersama kakek, nenek, dan kedua orang tuannya. Sejak kecil, Anies sangat dekat dengan A.R. Baswedan yang dilahirkan di Surabaya pada 9 September 1908.

Menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu, kakeknya sering menjemputnya saat pulang sekolah. Maklum, sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) kebetulan jaraknya tidak jauh dari kediamannya. ”Jarak rumah dengan TK tidak jauh. Jadi kakek sering menjemput saya saat pulang sekolah,” ulas Anies.

Semasa hidup, lanjut dia, kakeknya dikenal sebagai seorang jurnalis atau wartawan, diplomat, dan pejuang kemerdekaan. Karena profesinya tersebut, menurut Anies, kakeknya selalu membawa kamera dan sebuah tape recorder. ”Setiap hari saya mengantar kakek ke Kantor Pos. Sejak usia muda sampai akhir hayatnya kakek berprofesi sebagai wartawan,” ungkapnya.

Mantan Rektor Universitas Paramadina itu menyebutkan, banyak koleksi dimiliki pria yang pernah menjabat anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tersebut. Koleksinya berupa ratusan kaset rekaman pembicaraan. ”Dengan siapapun kakek selalu merekam perbincangannya. Semua pembicaraan itu hampir pasti bermutu,” katanya.

Menjelang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Anies menjadi juru ketiknya. Karena untuk menyelesaikan surat setiap hari, pria yang pernah menjabat Wakil Menteri Muda Peneragan RI pada Kabinet Sjahrir tersebut harus mengetik dengan menggunakan mesin ketik. ”Kakek yang dikte dan saya yang mengetiknya,” kenang Anies.

Tapi saat itu, Anies mengaku tidak mengingat apa saja yang pernah diketik olehnya atas perintah A.R. Baswedan. Setiap tulisan yang selesai diketik, sang kakek menuliskan,“Surat ini saya diktekan dan diketik oleh cucu saya Anies”. ”Saya baru sadar dan baru tahu kemudian hari bahwa penulisan dengan kalimat akhir itu cara beliau memberitahu si penerima kalau banyak salah-salah ketik. Itu bukan diketik oleh dirinya, tetapi oleh cucunya,” kata Anies sumringah.

Anies mengaku aktif berinteraksi dengan kakeknya hingga menjelang wafat. A.R. Baswedan wafat pada usia 78 di Jakarta. ”A.R. Baswedan berhasil menyelesaikan tulisan otobiaografinya. Nah, sekarang ini tanggung jawab kita meneruskan apa yang sudah beliau perjuangkan” pungkasnya. (*)

loading...
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close