Catatan Hazairin Sitepu

Terjadi Hanya Dalam Hitungan Detik

DESA Jono Oge berada di jalur alternatif Palu–Poso. Desa pertanian yang pada sensus 2011 berpenduduk 2.605 jiwa. Jalur dari utara menuju selatan membelah desa itu. Ratusan rumah penduduknya berada pada kiri–kanan jalan.

Jono Oge, satu dari tiga lokasi bencana yang paling dibicarakan publik Indonesia selama tiga pekan terakhir. Lokasi lain adalah Petobo dan Balaroa. Nama Jono Oge begitu populer. Sama populernya dengan bencana gempa 7,4 SR dan tsunami yang menghantam Palu dan Sigi 28 September petang itu.

Saya pun datang ke sana Jumat pekan lalu. Datang ke Jono Oge. Masuk dari arah utara. Tidak bisa tembus ke selatan. Jalan putus total. Anjlok sedalam kira-kira empat meter. Siapa pun tidak bisa lewat. Kecuali melihat dari ujung jalan yang terputus dan anjlok itu.

Jalan yang anjlok dan terputus itu bukan sepuluh meter. Bukan seratus meter. Kurang–lebih satu kilometer. Lalu di atas jalur jalan yang menghubungkan Kota Palu–Kabupaten Posos itu tampak hamparan kebun jagung yang hijau. Ada pula beberapa pohon kelapa di sebelah kanan jalur itu berdiri tegak, daunnya hijau lengkap dengan buahnya. Seperti pohon kelapa pada umumnya.

Saya lalu mencari jalan ke selatan untuk melihat apa gerangan yang sudah terjadi di sana. Informasi apa yang bisa diperoleh untuk menambah referensi perihal bencana besar di Jono Oge itu. Maka harus melalui jalan-jalan kecil, memutar ke timur, menempuh belasan kilometer untuk sampai ke ujung jalan yang terputus dan anjlok di selatan.

Cerita beberapa warga di selatan ternyata jauh lebih tragis. Lebih menakutkan. Lebih meng­­herankan, dibanding cerita di utara. Bagaimana malapetaka itu datang. Bagaimana Jono Oge luluh lantak diterjang gelom­­bang lum­pur yang dahsyat. Bagaimana sebagian desa mereka hilang hanya dalam sekejap. Bagaimana kebun jagung bisa ada di desa itu.

Malapetaka itu datang ketika matahari tenggelam di ufuk barat, dan magrib segera tiba. Didahului gempa 7,4 SR yang mengakibatkan jalan-jalan terbelah, banyak bangunan roboh dan hancur. Dalam hitungan detik datang lumpur dari dalam tanah. Mengaduk-aduk . Menimbulkan gelombang dan menghantam, menggulung, menghempas rumah-rumah dan benda-benda lain di atas permukaan tanah.

Pada saat yang sama, permukaan tanah bergerak dengan cepatnya dari arah timur ke barat. Dari dataran yang lebih tinggi ke dataran rendah. Entah sampai ke lapisan berapa meter.

Membawa rumah-rumah penduduk, pohon-pohon, bahkan kebun-kebun. Lumpur tidak hanya bergerak secara mendatar, tetapi juga menenggelamkan permukaan tanah sampai ke kedalaman lebih dari tiga meter. Karena itu banyak rumah beserta penghuninya terkubur.

Jika Anda melihat di media sosial video ada rumah besar yang hanyut, itu adalah rumah Haji Soleh di Desa Jono Oge yang dibawa lumpur. Rumah pengusaha sarang walet itu berpindah kira-kira 100 meter dari tempatnya semula. Juga beberapa pohon kelapa, pohon pisang, entah dari mana datangnya, saat ini berdiri di Jono Oge.

Jalan raya beraspal dan rumah-rumah penduduk di kiri dan kanannya, saat ini menjadi hamparan kebun jagung yang luas. Hijau. Seperti kebun benar-benar ada di situ sejak jagung ditanam. Warga di situ mengatakan, kebun jagung itu, sebelum Jumat petang, sebelum bencana datang, berada di Desa Pombawe. Ada pula yang bilang kebun itu berada di Desa Loru.

Jarak antara posisi kebun jagung di Jono Oge saat ini dengan Pombawe atau Loru lebih dari satu kilometer di arah timur. Artinya, kebun jagung itu berpindah tempat sejauh lebih dari satu kilometer.

Lalu, rumah-rumah penduduk Jono Oge yang sebelumnya berjajar di kiri–kanan jalan itu, sebagiannya berpindah ke jarak yang sangat jauh. Sampai ke Desa Sidera. Bahkan sampai ke Dolo.

Jono Oge berada di Kecamatan Sigi Biromaru, sedangkan Dolo adalah Kecamatan Dolo. Beberapa warga di sana mengatakan bahwa sebagian rumah penduduk Jono Oge itu berpindah tempat sejauh lebih dari tiga kilometer.
Itu terjadi dalam hitungan detik.****

Instagram
@hazairinsitepu

Facebook
Bang HS

Tags

Tinggalkan Balasan

Check Also

Close