UNIVERSITAS NUSA PUTRA

Mabim Universitas Nusa Putra, Antara Keseruan, Toleransi, dan Visi Masa Depan

Mabim diikuti 670 Mahasiswa-mahasiswi Baru NPU dari Semua Prodi

Universitas Nusa Putra (NPU) mengadakn masa bimbing­an mahasiswa (mabim) bagi mahasiswa-mahasiswi barunya. Mabim diikuti 670 mahasiswa-mahasiswi dari semua program studi (prodi), dan digelar dua sesi.

Sesi pertama, pra mabim, digelar dua hari, 12 sampai 13 September diadakan di kampus. Sementara untuk sesi kedua 15 sampai 16 September diadakan di Villa Yustik, Salabintana, Kabupaten Sukabumi. Demikian dikemukakan Ketua Panitia Mabim 2018 NPU Mahma Mutasor kepada Radar Sukabumi, Sabtu (15/9/2018) malam.

Ditambahkan mahasiswa yang menempuh kuliah di Prodi Teknik Sipil Semester 7 itu, kegiatan mabim bertujuan selain untuk pengenalan kampus, juga mengasah mental mahasiswa agar lebih siap menghadapi perbedaan dan persaingan, serta ajang unjuk kreativitas.

“Untuk menambah wawasan dan menguatkan mental, kegiatan mabim diisi dengan ice breaking, talkshow bersama alumni, orasi, pementasan drama, dan api unggun” imbuh Mahma lagi.

Selain itu, tambahnya, mabim juga diisi dengan pelatihan eLearning bagi dosen dan mahasiswa baru dari tim Haruka Edu Jakarta, sambutan dari Ketua Yayasan Perguruan Nusa Putra Sukabumi, Kuswara, SH., MH., hingga materi Kenusaputraan oleh Rektor NPU DR. Ir. H. Kurniawan, M.Si.. Kegiatan mabim sendiri akan dilakukan sampai Minggu (16/9) siang.

HarukaEdu didirikan pada 2013 oleh tim individu dengan banyak semangat dan pengalaman dalam pendidikan tinggi untuk memberikan masa depan yang lebih cerah bagi orang Indonesia melalui pendidikan online yang berkualitas, terjangkau, dapat diakses, dan mudah bergaul. HarukaEdu telahbekerja sama dengan mitra universitas kami untuk secara hati-hati mengembangkan proses pembelajaran online.

eLearning Universitas Nusa Putra Menurut HarukaEdu

Pelatihan eLearning kepada dosen Universitas Nusa Putra, Sabtu (15/9/2018).

Di sela-sela kegiatan mabim yang diikuti 670 mahasiswa baru Universitas Nusa Putra, diadakan pelatihan kuliah online atau eLearning bagi dosen dan mahasiswa baru dari tim Haruka Edu, Jakarta, Sabtu (15/9) siang hingga malam.

HarukaEdu didirikan pada 2013 tim individu dengan semangat dan pengalaman dalam pendidikan tinggi untuk memberikan masa depan yang lebih cerah bagi orang Indonesia melalui pendidikan online yang berkualitas, terjangkau, dapat diakses, dan mudah bergaul.

HarukaEdu telah bekerja sama dengan mitra universitas untuk secara hati-hati mengembangkan proses pembelajaran online.

Apa itu kuliah online atau eLearning dan apa manfaatnya untuk dosen dan mahasiswa?

Kuliah online atau eLearning, disebut juga kuliah jarak jauh atau online degree program, adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan proses pembelajarannya menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

Apa saja syarat utama dan kesiapan infrastruktur yang harus disiapkan untuk mengadakan kuliah online?

Harus ada jaringan internet, komputer/laptop/tablet/smartphone.

Bagaimana trend kuliah online di Indonesia dan dunia?

Di Indonesia saat ini sudah banyak kampus yang sadar akan hal kuliah online namun belum berani menjalankannya dikarenakan banyaknya hambatan yang dihadapi dari sisi keuangan, pengembangan sistem dan pengelolaannya. Di luar Indonesia kuliah online sudah sangat baik, sudah banyak kampus yang menjalankan dan jaringan internet di sana jauh lebih baik dibanding Indonesia.

Seberapa siap Universitas Nusa Putra menjalankan konsep eLearning?

Nusa Putra salah satu kampus yang berani mengambil langkah untuk melaksanakan program blended learning dengan menjalankan metode kuliah online, dengan adanya program kerjasama dengan kampus di luar Indonesia, perkuliahan online akan sangat membantu.

Rektor NPU: Menguak Makna Cinta Kasih Ilahiyah dalam Trilogi Nusa Putra

Rektor NPU DR. H. Ir. Kurniawan, M.Si., di hadapan ratusan mahasiswa baru.

Puncak Mabim Universitas Nusa Putra (NPU) juga diisi dengan pemaparan konsep Trilogi Nusa Putra dari Rektor NPU Dr. H. Kurniawan, ST., M.Si., MM..

Dalam penyampaiannya di hadapan ratusan mahasiswa-mahasiswi baru NPU, Kurniawan menjelaskan, sringkali sebagai mahluk, kita menganggap pentingnya bertuhan, itu semata karena dasar rasa takut atau imbalan pahala. Contohnya, banyak manusia, jika mempercayai atau mengimani Tuhan, maka ia akan mendapat sorga.

Berbicara Tuhan, tentunya pertanyaan paling sederhana adalah Tuhan yang mana? Karena kerapkali dalam prakteknya, bibir manusia bisa saja berteriak lantang mencintai Tuhan, tetapi pada saat bersamaan justeru menuhankan selain Tuhan yang wajib disembah.

“Hal ini, akibat manusia dengan segala keterbatasannya memilih bertuhan sesuai tradisi dan cara pandang turun temurun semata. Padahal sejatinya kita menempatkan Cinta Ilahiyah adalah semata karena kita mencintai Tuhan itu sendiri,” jelas Kurniawan.

Mengapa kita memeluk Islam? Jika nenek moyang kita bukan Muslim, mungkinkah kita memeluk Islam? “Di situlah adanya nilai, mengapa Islam mengajarkan bissmillahirahmaanirrahim. Disebutkan dalam ummul kitab, jika dalam Islam, yang pertama itu adalah Cinta Kasih dan sikap penyayang, karena islam itu agama yang damai. Mustahil ada kedamaian tanpa rasa cinta kasih dan sayang,” imbuhnya.

Itulah dalam Islam sendiri, tambah Kurniawan, setiap akan memulai aktivitas kebaikan, kita diajarkan untuk mengucap bissmillahirahmaanirrahim, atau sebutlah nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Di sinilah pentingnya memaknai “bertuhan” sebagai “cinta kasih” dan dibarengi rasa “sayang”. Mustahil manusia mengaku bertuhan jika tidak memiliki rasa “cinta kasih” dan dibarengi rasa “sayang”. Jadi, bisa dibayangkan jika dunia ini tanpa Tuhan dan tanpa agama, mungkin manusia itu akan berperang terus menerus, akibat ketiadaan rasa “cinta kasih” dan dibarengi rasa “sayang” itu sediri.

“Jadi mengapa Insan Nusa Putra harus mencintai Tuhannya atas dasar-dasar makna bertuhan di atas? Pertama, bahwa agama mengajarkan bertuhan itu dengan dibarengi rasa “cinta kasih” dan “sayang”. Sehingga Insan-insan Nusa Putra tidak akan terpaksa atau karena rasa takut dalam beragama dan bertuhan, tetapi dinikmati dengan sepenuh cinta kasih dan sayang,” urainya lebih jauh.

Kedua, jika kita menempatkan cinta kasih dan sayang sebagai pondasi bertuhan dan beragama, maka tidak akan ada terorisme. Karena akar dari persoalan terorisme adalah ketiadaan rasa “cinta kasih” dan “sayang”.

Ketiga, akibat ketiadaan rasa “cinta kasih” dan “sayang” pulalah, banyak manusia saling mengkafirkan dan menistakan manusia lainnya hanya karena berbeda agama dan Tuhannya. Padahal di dalam islam sendiri, sudah jelas qulhuallahuahad dan Allahushomad. Dengan demikian, Allah itu tidak bisa di persekutukan, tidak bisa dipersepsikan, dan tidak bisa dilambangkan dengan apapun, terlebih dengan manusia.

“Saya yakin jika Insan Nusa putra menerapkan trilogi tadi, maka akan dimudahkan dalam menjalani hidupnya, karena apapun motivasinya, ia akan berjalan atas nama Tuhannya,” imbuhnya.

Pada akhir pemaparannya, ia meminta semua mahasiswa mencintai Tuhan, Orang Tua, dan Sesamanya, serta menjalankan perintah agama yang dianutnya dengan baik.

Kuswara: Mahasiswa Jangan Mudah Terpedaya Propaganda Politik

Ketua Yayasan Perguruan Nusa Putra Sukabumi Kuswara, SH, MH..

Mahasiswa Universitas Nusa Putra (NPU) dan generasi muda jangan mau menjadi target tipu daya propaganda politik yang tidak bermoral. Demikian dikemukakan Ketua Yayasan Perguruan Nusa Putra Sukabumi, Kuswara, SH., MH., di hadapan ratusan peserta mabim yang diadakan di kawasan Selabintana, Kabupaten Sukabumi, Sabtu dan Minggu (15-16/9/2018).

Ditambahkan Kuswara, dalam sambutan dengan tema: “Peran Mahasiswa dalam Bidang Politik” itu, tipu daya politik kerap kali dibungkus berbagai macam kemasan yang menggoda hasrat generasi muda untuk mengikutinya tanpa memfilter terlebih dahulu. Sehingga tidak jarang mahasiswa dan generasi muda terlibat aktivitas yang dilarang oleh perundang-undangan yang berlaku di negara Indonesia.

“Saya harap mahasiswa Universitas Nusa Putra mampu memfilter berbagai propaganda yang saat ini berseliweran di berbagai platform media, dari mulai cetak, online, hingga media sosial,” tegas Kuswara.

Ia juga mewanti-wanti terhadap propaganda politik yang kerap kali dikemas dan dibalut isu-isu keagamaan dan ideologi tertentu yang pada gilirannya dapat merusak toleransi dan persatuan. Terlebih menjelang pesta demokrasi Pemilu 2019 pada 17 April yang akan datang.

“Mari cerdas memilah dan memilih. Bahkan jika perlu, kalian semua jangan pernah ragu untuk menjadi pelaku politik yang etis dan beradab. Jangan pernah mau terus-terusan menjadi target propaganda politik yang sering kali dikemas dengan tipu daya yang memesona mata,” pekik Kuswara yang disambut tepuk tangan mahasiswa.

loading...
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close