Featured

Shinta Amalina Hazrati Havidz, Peraih Penghargaan Doktor Termuda di Tiongkok dari Muri

Saat Itu Bisa Dibilang Saya Senang, tapi Hanya Setengah

RADARSUKABUMI.com – Shinta Amalina Hazrati Havidz termotivasi mengejar gelar doktor karena tak diwisuda secara resmi setelah menyelesaikan master. Semula berencana ke Durham, ternyata malah balik ke Wuhan.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Bekasi

”ITU pekan yang bikin gembira sekaligus bikin sedih,” kata Shinta Amalina Hazrati Havidz di sela-sela menyantap mi hot plate. Pada suatu siang pertengahan bulan lalu itu, kami bertemu di sebuah restoran di Cikarang, Bekasi. Jam makan siang baru saja berlalu. Restoran agak sepi. Sementara di luar sana terik matahari membakar Bekasi.

Pekan yang dimaksud Shinta adalah pekan ketika dia hendak diwisuda. Setelah menyelesaikan kuliah master business of administration jurusan corporate finance di Wuhan University of Technology (WUT), Tiongkok. ”Anggaplah Rabu itu wisuda, Senin malam mama-papa sudah sampai (di Wuhan). Senang dong,” kata Shinta.

Tapi, kabar menyedihkan itu datang di Selasa pagi. Petugas kampus menelepon Shinta dan memberitahukan bahwa dia tidak bisa ikut wisuda. Namanya tidak masuk list. Shinta yang menyelesaikan studinya 1,5 tahun tersebut dianggap tidak memenuhi syarat untuk bisa wisuda. Butuh minimal dua tahun.

Sedih, jengkel, ngambek, dan menangis tentu saja. Tapi, ke kampus yang membuatnya sedih, jengkel, ngambek, dan menangis itu pula dia akhirnya kembali setahun kemudian. Untuk menyelesaikan program doktoral. Dan, akhirnya mencatat prestasi membanggakan: Perempuan Indonesia Termuda Peraih Gelar Doktor di Perguruan Tinggi Tiongkok.

1 2 3 4Laman berikutnya
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close