Catatan Hazairin Sitepu

Kepanikan di Kamis Siang

Ada yang berlari sambil menggendong anak kecil. Berlari sambil menarik-narik tangan anaknya. Ada yang menggendong anak tapi lupa anaknya yang lain dan kembali menarik tangan anaknya itu, dan berlari lagi. Tampak beberapa lelaki yang berlari hanya mengenakan celana pendek, pake sarung, pake handuk.

Banyak lelaki lain, ibu-ibu, anak-anak remaja, berlari jatuh-bangun melalui lorong-lorong, jalan-jalan raya di kota Mataram yang siang itu padat lalulintas kendaraan. Tidak jelas ke mana tujuannya. Ada yang ke arah Barat, balik lagi ke Timur. Balik lagi. Beberapa perempuan tampak berpelukan di pinggir jalan sambil menangis.

Ributnya suara klakson mobil dan sepeda motor yang memenuhi jalur jalan utama Mataram-Senggigi itu menambah kepanikan. “Laailaaha illallaaaaa….laaailaaha illallaaah.. laaailaaha illallaaah,” terdengar di mana-mana.

Beberapa menit berikutnya giliran suara ambulans yang meraung-raung dari berbagai tempat. Itulah suasana kepanikan pada saat terjadi gempa bumi 6,2 SR di Lombok Kamis (9-8-18) siang.

Siang itu saya bersama Rektor Universitas Pakuan Dr Bibin Rubini dan Gatut Susanta memang sedang makan siang di warung Coto Makassar dekat perbatasan Mataram-Senggigi. Kami baru saja kembali dari Lombok Utara. Melakukan survei kemungkinan tim relawan yang kami bawa dari Bogor bisa masuk ke wilayah itu. Wilayah dekat pusat gempa 7 SR yang meluluhlantakkan semua rumah di beberapa desa di situ.

Bibin dan Gatut adalah bagian dari tim relawan Bogor yang saya bawa ke Lombok kali ini. Keduanya juga saya libatkan dalam aksi kemanusiaan yang sama pada saat bencana Merapi beberapa tahun yang lalu. Relawan Bogor ini memang terlibat di hampir semua bencana serupa berbagai tempat di Indonesia. Termasuk di Aceh, Padang, Nias, Sinabung, Pangandaran, Ambon.

Kamis siang itu sebenarnya kami tidak sampai mencapai lokasi terparah di Lombok Utara itu lantaran dihadang kemacetan panjang di daerah Pamenang. Dekat dari situ ada pelabuhan penyeberangan ke Gili Tarawangan. Pulau wisata uatama di Lombok. Pulau itu saat ini sudah tidak berpenghuni. Ratusan wisatawan asingnya telah dievakuasi ke Bali. Ratusan karyawan hotel dan restorannya juga dievakuasi ke Mataram.

Atas saran Gatut, kami pun memutuskan kembali ke Mataram. Karena pukul 17:00 Wita sudah harus di Bandara Internasional Lombok untuk persiapan kembali ke Bogor. Sopir pun memutar balik mobil dan melarikannya dengan kecepatan tinggi ke arah Mataram.

Rasa lapar sudah memuncak. Dalam perjalanan dari Pamenang sampai ujung Barat Senggigi kami tidak menemukan warung yang menjual makanan. Maka, kami pun memutuskan makan siang di Mataram saja. Dan sampailah kami di warung Coto Makassar itu.

Belum dua menit setelah guncangan, kami menerima kabar bahwa pusat gempa 6,2 SR itu jaraknya sangat dekat dengan posisi kami memutar balik mobil tadi. Kira-kira kurang dari tiga kilometer. Posisinya sejajar dengan titik di mana kami memutar dan Pulau Gili Tarawangan.

Untung saja kami memutuskan untuk segera kembali ke Mataram. Untung saja kami tidak menemukan warung makan di Pamenang. Untung saja kami tidak menemukan warung makan di Mangsit yang bukit-bukitnya berbatu. Juga untung saja kami tidak menemukan warung makan di Senggigi. Sehingga ketika bencana besar itu terjadi kami sudah di Mataram. Jaraknya relatif jauh dari pusat gempa. Alhamdulillah.

Saya tidak tau apa yang terjadi dengan ratusan orang dalam kendaraan yang sedang terjebak kemacetan itu pada saat gempa mengguncang. Jarak mereka sangat dekat dengan pusat gempa. Hanya bisa membayangkan suasana ketika gempa 7 SR mengguncang di Minggu malam.

Alhamdulillah kami sudah di Bogor. Tetapi sebelas relawan kami masih terus berjuang di Lombok membantu menyembuhkan korban-korban yang sakit, luka, patah tulang akibat bencana gempa yang masih tak henti di sana.

(***)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close