Featured

Ke Kampung Lalu Muhammad Zohri yang Turut Jadi Korban Gempa

Medali Diamankan Kakak, Minimarket Dijaga Sepupu

Hanya empat genting rumah Lalu Muhammad Zohri yang jatuh saat mayoritas bangunan di kampungnya rusak atau roboh. Sang kakak melarang dia pulang, memintanya berkonsentrasi ke Asian Games.

RAGIL PUTRI IRMALIA, Lombok Utara

DARI ujung telepon, suara Lalu Muhammad Zohri penuh kekhawatiran. Maklum, kampung halamannya di Lombok baru saja diguncang gempa 7 skala Richter. ”Dia sempat tanya apa yang bisa dia bantu buat kami yang ada di sini,” ungkap Bq Fazila, sang kakak, menceritakan percakapannya dengan Zohri pada Minggu lalu (5/8) itu Fazila mengaku berusaha setenang mungkin. Meski dia dan keluarga lain harus mengungsi ke posko Polsek Pamenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Dia tak ingin konsentrasi sang adik yang sedang digembleng di Jakarta untuk persiapan Asian Games itu terganggu. ”Saya bilang kamu tetap fokus di pelatnas. Saya nggak cerita banyak biar dia nggak makin khawatir,” kata Fazila kepada Jawa Pos yang menemuinya di tempatnya mengungsi Selasa (7/8).

Zohri menjadi buah bibir saat sukses merebut emas di nomor lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, 11 Juli lalu. Hadiah pun membanjirinya. Termasuk direnovasinya rumah tempat dia lahir dan dibesarkan yang sebelumnya demikian bersahaja.

Jawa Pos kemarin menyaksikan langsung bagaimana rumah di Dusun Karang Pangsor, Desa Pamenang Barat, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Lombok Utara, itu masih berdiri kukuh. Guncangan gempa hanya membuat empat genting rumah yang terbuat dari bahan kayu mahoni itu jatuh.

Padahal, Lombok Utara merupakan wilayah yang paling parah terkena dampak gempa. Korban jiwa pun terbanyak di kabupaten tersebut. Di Desa Pamenang Barat yang dihuni 9.426 jiwa itu, hingga data terakhir yang terkumpul kemarin, tercatat ada 24 korban jiwa. Hampir 100 persen bangunan roboh atau rusak.

Rumah kiri dan kanan kediaman Zohri juga masih utuh. Hanya ada retakan kecil. Tapi, bangunan lainnya di dusun tersebut rusak atau roboh. Rumah yang sebelumnya terbuat dari anyaman bambu dan berlantai tanah itu belum sepenuhnya selesai direnovasi. Jendela dan pintu belum terpasang. Di teras, baru dua buah keramik yang dipasang. Sementara itu, di dalam, semua lantai sudah selesai dikeramik.

Bahan-bahan bangunan masih bercecer di sekitar rumah itu. Adonan semen, tumpukan keramik, dan beberapa material lain. Tepat di depan rumah, ada tenda yang didirikan khusus oleh TNI yang sedang merenovasi rumah. Di situ juga ada data bangunan, foto rumah sebelum direnovasi, serta desain rumah baru.

Berukuran 7,7 x 4,4 meter, ada dua tiang di rumah tersebut yang juga dari kayu. Plafon terbuat dari kayu pula. Seluruhnya sudah dipelitur cokelat. Dari depan ke belakang, ada teras, ruang tamu, kamar mandi, sebuah tempat tidur, dan dapur. Fazila yang kelak menempati rumah itu. Tapi, selama rumah direnovasi, dia menumpang di rumah salah satu saudara. Sedangkan kedua orang tua Zohri telah meninggal.

Konstruksinya yang dari kayu, apalagi masih baru berdiri, yang mungkin menyelamatkan rumah Zohri dari kehancuran akibat gempa. Zaini, sang tetangga yang rumahnya hancur, pun berniat meniru. ”Nanti kalau sudah ada dananya, mungkin saya buat dari kayu juga. Kayaknya lebih aman,” ungkap Zaini.

Yang dikhawatirkan Fazila kini adalah pencurian. Sebab, semua warga mengungsi. Apalagi, bantuan tidak tersebar merata. ”Semua medali dan piagam Zohri sudah saya amankan,” tutur perempuan 29 tahun tersebut. ”Pokoknya, itu pertama kali yang saya pikirkan selain keselamatan saya.”

Kondisi serupa terjadi pada Zohri Mart. Itu merupakan minimarket dari para donatur setelah Zohri berjaya di Finlandia. Letaknya di Jalan Raya Pamenang. Beberapa meter dari perempatan Pamenang. Cukup dekat dengan rumah Zohri. Sehari-hari, minimarket itu dijaga sepupunya.

Kondisi minimarket warna hijau itu memang masih utuh. Saat Jawa Pos ke sana, masih terkunci. Tidak terlihat ada retakan sama sekali di minimarket yang baru dibuka pada 2 Agustus lalu tersebut. ”Kalau bolong sedikit saja, sudah pasti habis. Tapi, utuh dan tidak ada yang menyentuh,” kata Fazila.

Toh, sang adik tetap saja khawatir. Setelah percakapan seusai gempa pada Minggu malam lalu, Zohri berkali-kali mengontak sang kakak. Terakhir pada Senin malam (6/8). Fazila berkeras melarang sang adik pulang. Dia memintanya tetap berkonsentrasi pada persiapan Asian Games.

Apalagi, kesuksesan di Asian Games itulah yang kini sangat ditunggu warga kampungnya. ”Mungkin dengan (kesuksesan di Asian Games) itu dia (Zohri) bisa membantu warga di sini. Kami terus mendukung dia,” imbuh ibu satu anak itu.

 

(*/c5/ttg)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close