BISNISEKONOMI

Sebelas Bank Asing Beri Inalum Pinjaman

JAKARTA – Delapan hingga sebelas perbankan asing siap memberi pinjaman kepada PT Inalum untuk mendanai divestasi 45,6 persen saham PT Freeport Indonesia.

Salah satunya dari Hong Kong dengan sistem sindikasi yang akan dipimpin bank Jepang, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ. Selain itu, masih ada bank-bank asing lain yang siap memberikan pinjaman kepada Inalum.

”Kalau bank dalam negeri, bunga lebih tinggi daripada bank luar negeri. Makanya, gunakan bank luar negeri dengan bunga yang lebih murah, lebih menguntungkan,” terang Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno.

Inalum tidak perlu menjaminkan aset perseroan karena hanya menjaminkan proses proyek di PTFI untuk mendapatkan pinjaman. Total dana yang dibutuhkan Inalum untuk mendanai divestasi tersebut mencapai USD 3,85 miliar.

Meski begitu, Fajar belum bisa memastikan total dana pinjaman yang akan dikucurkan perbankan. Bisa jadi melebihi nilai divestasi lantaran untuk modal kerja perseroan sekaligus.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyanto menambahkan, dengan perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sementara, diharapkan divestasi Freeport bisa segera selesai.

”IUPK (permanen, Red) ditandatangani setelah semua empat-empatnya selesai,” kata Bambang.
Sementara itu, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menilai valuasi saham Freeport Indonesia senilai USD 3,85 miliar terhitung wajar.

Angka tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan valuasi oleh IAGI pada akhir 2017 lalu sejumlah USD 4,5 miliar.

”Masalah cadangan dan valuasi tidak diperdebatkan lagi. Kami pikir USD 3,85 miliar fair, tidak terlalu mahal, tetapi tidak terlalu murah juga,” ujar pengurus IAGI Iwan Munajat.
Saat ini Tambang Grasberg memiliki sumber daya dan cadangan emas 3.247 ton, tembaga 38,76 juta ton, dan perak 17.465 ton.

Cadangan terbukti di tambang tersebut bernilai USD 150 miliar.
Selain itu, Freeport masih memiliki tambang emas bawah tanah bernama Kucing Liar yang akan digarap mulai 2031 dan baru habis ditambang pada 2061 mendatang.

“Dengan adanya Inalum di Freeport dan mempunyai Timika sebagai baseline di Papua, kita punya kesempatan eksplorasi di Papua Belt karena potensinya besar dan belum ter-cover,” terang Iwan.

 

(vir/c25/fal)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close