KABUPATEN SUKABUMI

20 Tahun Warga Pasir Kopo Nikmati Jalan Rusak

NYALINDUNG – Selama 20 tahun lebih, warga Kampung Pasir Kopo, RT 4/6, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi sudah lama menikmati jalan rusak. Selain berlubang, jalan milik pemerintah Desa Wangunreja ini, kondisinya kian memprihatinkan. Di kala musim hujan, selain dipenuhi lumpur jalan tersebut juga penuh dengan kubangan air. Sehingga tak ayal jika banyak pengendara lalu lintas yang terjatuh akibat menginjak jalan berlubang.

Ketua RT 4/6, Kampung Pasir Kopo, Desa Wangunreja, Suanta (45) mengatakan, jalan yang merupakan akses utama warga menuju tempat publik ini, tidak pernah mendapatkan perbaikan jalan selama beberapa periode kepemimpinan Bupati Sukabumi. “Sudah ada 20 tahun jalan di sini rusak dan belum pernah diperbaiki. Kasihan kami di wilayah sini, padahal ini akses utama kami berktivitas,” jelas Suanta saat disambangi Radar Sukabumi di kediamannya.

Tak tanggung-tanggung jalan rusak tersebut, mengalami kerusakan sepanjang 9, 5 kilometer. “Jalan rusak ini juga sering ada korban kecelakaan. Bahkan, jika ada warga yang sakit atau melahirkan harus ditandu bergantian,” ucapnya.

Selama ini warga berinisiatif sendiri untuk memperbaiki jalan yang berada di atas bukit Kampung Pasir Kopo, agar bisa dilewati kendaraan roda dua. “Jika panen raya, warga menutup sendiri jalan-jalan berlubang agar motor untuk mengangkut hasil panen bisa lewat. Kalau dibiarkan gak bakalan bisa lewat,” imbuhnya.

Kepala Desa Wangunreja, Ali Nurdin mengatakan, warga Kampung Pasir Kopo yang memiliki 36 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa 120 orang ini, merupakan daerah terpencil yang ada di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung. “Lokasi perkampungan ini, berada di perbatasan dengan Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah,” bebernya.

Akibat buruknya infrastuktur ini, ujar Ali, selain menghambat laju pertumbuhan ekonomi warga juga telah menghambat warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. “Kalau ada warga yang hamil, pasti akan ditandu secara bergantian dengan jarak sekitar 8 kilo meter. Setelah menempuh jalan yang curam, baru bisa dibawa menggunakan mobil untuk dibawa ke bidan desa,” imbuhnya.

Menurut Ali, warga yang akan melakukan persalinan, akan ditandu oleh warga Kampung Pasir Kopo dengan menggunakan sarung yang diikatkan pada bambu. “Pemerintah desa baru sebagian melakukan perbaikan jalan dengan cara ditembok. Insya Allah di 2019 mendatang, kita akan lanjutkan kembali perbaikan ini, sesuai dengan jumlah anggaran yang ada,” pungkasnya.

 

(cr13)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close