NASIONAL

Video Tiga Perempuan Berjoget Sedang Salat, Viral di Medsos

Dalam video berdurasi 15 detik itu, tampak ketiga perempuan baru mulai menjalankan salat berjemaah. Satu orang berdiri di depan sebagai imam, sedangkan dua orang lainnya berdiri di belakang sebagai makmum. Ketiganya berdiri di atas sajadah.

Kemudian salah seorang makmum yang mengenakan mukena putih berjoget sendirian. Dia lalu mengajak jemaah yang ada di sampingnya dengan cara memegang pundak kirinya.

Jemaah yang mengenakan mukena ungu itu pun ikut berjoget. Hingga akhirnya imam yang ada di depan kedua jemaah itu juga ikut berjoget setelah punggungnya ditepuk. Dari video tersebut terdengar lagu dari seorang pedangdut yang tengah naik daun.

Sontak video ini menimbulkan banyak kecaman dari netizen. Seperti yang diposting akun instagram rattu.parris.

“Wah penistaaan terhadap islam nih. Tolong cari dong org nya penjarain,” tulis akun reza_uzairi92.

“Maaf (anda kurang akal) semoga hidayah datang kepada anda aamiin,” kata akun opibsh4681.

“Astaghfirullah aladziim… Dek, ibadah jangan kau buat candaan. Ini parah,” tulis akun lianasukmawaty.

“Semoga diberi hidayah secepatnya sebelum ajal menjemput,” kata akun zulkarnainze.

Tak hanya netizen, kecaman juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sangat menyesalkan aksi dalam video viral itu.

Wasekjen Bidang Fatwa MUI KH Sholahudin Al-Ayub mengatakan salat memiliki tata cara yang sudah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Tata cara tersebut tak boleh diubah.

“Dalam Islam, salat merupakan sesuatu yang penting. Ia adalah bagian dari tiang agama. Tata cara salat sudah ditentukan secara jelas oleh Rasulullah. Tidak boleh bagi umat Islam mengubahnya,” kata Sholahudin lewat pesan singkat, Kamis (17/5/2018).

Dia mengatakan, jika ada orang yang mengubah tata cara salat, itu sebuah perbuatan menyimpang dari ajaran Islam yang benar.

Namun, jika video yang dibuat ketiga perempuan itu dimaksudkan untuk bercanda, Sholahudin mengatakan tindakan tersebut tak tepat. Dia mendoakan ketiga perempuan tersebut diberi hidayah dan menyesali perbuatannya.

“Kalau ingin membuat lelucon, pakailah cara yang cerdas dan kreatif. Tidak memperolok prinsip dalam ajaran agama. Kalau perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai lelucon, maka sama sekali tidak ada nilai humornya. Semoga pelakunya diberikan hidayah dan menyesali perbuatannya,” ungkapnya. (ysp)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close