NASIONAL

Guru di Pedalaman Papua Disandera Juga Diperkosa Separatis

Nasib malang yang dialami belasan guru di pelamanan Kabupaten Timika, Papua tidak hanya menjadi korban sandera. Mereka guru perempuan juga nyaris meninggal dunia. Hal itu akibat para korban diperkosa Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) secara bergiliran.

Berdasar laporan yang diterima pasukan pengamanan, anggota KKSB yang beraksi di Aroanop sekitar 20 orang. Mereka melarikan diri ke arah Jagamin. Kuat dugaan, kampung tersebut sudah disiapkan untuk jalan keluar mereka dari Aroanop.

“Kami sudah mengejar serta mengamankan wilayah yang sempat menjadi tempat persembunyian KKSB,” jelas Komandan Satuan Tugas Terpadu Penanggulangan KKSB Kolonel Infanteri Frits W.R. Pelamonia kepada Radar Timika (Jawa Pos Group), kemarin.

Warga setempat sebenarnya ingin membantu guru-guru malang tersebut. Namun, mereka juga mendapat kekerasan dan ancaman ditembak. “Ada guru dan masyarakat yang luka memar di wajah karena penyiksaan, kekerasan oleh KKSB,” ungkap pria yang juga menjabat komandan Brigif Raider 20/Ima Jaya Keramo itu.

Sebanyak 18 guru yang menjadi korban penyanderaan mengalami trauma yang tinggi. Karena itu, mereka minta dievakusi. Meski, dalam waktu dekat anak-anak sekolah di kampung tersebut harus melaksanakan ujian nasional (unas).

EVAKUASI – Para guru berhasil dievakuasi menggunakan dua helikopter Penerbad dari Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura ke Timika, Kamis (19/4) kemarin. (KRISTOFORUS DUTEREM/RADAR TIMIKA/Jawa Pos Group)

Rasa khawatir terhadap aksi susulan KKSB membuat mereka enggan mengambil risiko. Apalagi, setelah melihat seorang rekan mereka nyaris meninggal dunia gara-gara diperkosa secara bergiliran oleh KKSB.

Sejauh ini, Frits menyampaikan, KKSB yang beraksi di Aroanop merupakan bagian dari kelompok yang dipimpin Jhoni Botak dan Nawaker. Kelompok tersebut merupakan gabungan separatis Papua yang biasa bergerak dari Ilaga di Kabupaten Puncak. Selain itu, mereka biasa bekerja sama dengan kelompok lain dari Kabupaten Puncak Jaya.

Secara terperinci, Frits mengungkapkan bahwa 13 guru yang dievakuasi terdiri atas 7 perempuan dan 6 pria. Lalu, ada 5 guru pria lainnya yang masih menunggu dievakuasi. “Lima sisanya masih berada di Aroanop untuk menunggu proses evakuasi selanjutnya,” terang dia.

Evakuasi untuk lima guru tersisa masih menunggu kepastian dari Kodam XVII/Cenderawasih. Itu terkait dengan cuaca dan kesiapan helikopter.

Berdasar keterangan resmi dari Kodam XVII/Cenderawasih, seorang guru bernama Rano Samsul menceritakan betapa mengerikannya peristiwa itu. “Mereka masuk ke kampung dengan cepat,” kenangnya.

Rano mengakui, dirinya dan rekan-rekannya tidak tahu maksud dan tujuan KKSB. Mereka tidak mau berkomunikasi. Tidak memberikan kesempatan untuk bertanya. “Kami semua, para guru, ditodong dengan menggunakan senjata api di kepala,” kata dia.

Para guru pria dan perempuan disekap di tempat terpisah. Saat itulah, guru perempuan mengalami penganiayaan dan pelecehan seksual.

EVAKUASI – Para guru berhasil dievakuasi menggunakan dua helikopter Penerbad dari Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura ke Timika, Kamis (19/4) kemarin. (KRISTOFORUS DUTEREM/RADAR TIMIKA/Jawa Pos Group)

Selain itu, separatis merampas 4 laptop dan 10 telepon genggam. Pakaian dan sejumlah persediaan bahan makanan tidak lepas dari rampasan. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Rano.

Guru lainnya, Eustakhius Lefteu, menuturkan bahwa dirinya dan rekan-rekannya mengajar seperti biasa sebelum KKSB masuk Aroanop. Mereka juga hidup rukun dengan masyarakat setempat.

Meski hanya berstatus guru kontrak, mereka kerasan tinggal di sana. Mengajar ratusan anak di Aroanop. Data yang mereka miliki, sampai saat ini tidak kurang 102 siswa aktif turut dalam kegiatan belajar mengajar.

Kondisi itu membuat para guru tersebut sebenarnya berat untuk meninggalkan Aroanop. Mereka terpaksa pergi karena keselamatannya terancam.

Kepala SD Negeri Aroanop Philipus Lefteuw mengaku terpukul dengan peristiwa tersebut. Kabar bahwa akan ada serangan separatis sebenarnya sudah didengar. Karena itu, sebelum kejadian, pihaknya sempat berkomunikasi dengan para guru melalui telepon seluler untuk mengevakuasi guru ke Timika. Namun, evakuasi belum dilakukan, KKSB lebih dulu datang dan melakukan kekerasan.

“Jumat pagi tidak ada informasi, tapi pada malam harinya kepala kampung telepon dan katakan bahwa Aroanop hancur. Saya tanya hancur apanya, dia bilang ini orang-orang dari luar mereka serang guru-guru di Dusun Omponi dan keterangannya ada guru yang korban.”

Personel Brimob dari Polda DIY yang akan BKO di Timika, saat tiba di Bandara Mozes Kilangin. (MAYER C SARIOA/RADAR TIMIKA/Jawa Pos Group)

(lyn/syn/c10/ang)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close