ARTIKEL

Waspadalah ‘PKI Baru’

Hari ini Minggu Tanggal 11 Maret 2018 saya jadi tersenyum dan ingin menulis soal PKI. Namun PKI yang saya maksud adalah “PKI Baru” dalam versi yang lain. Saat banyak orang masih berkutat dalam PKI lama dalam pengertian Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan pekan ini saya membaca diskursus PKI antara Kivlan Zen dengan Budiman Soejatmiko.

Setidaknya ada dua versi tentang kebangkitan PKI dalam kehidupan bangsa kita. Satu versi meyakini ada kebangkitan PKI dan satu versi PKI adalah masa lalu. Satu versi menyatakan kewasapadaan akan adanya PKI dan satu versi mengatakan kurang piknik bagi yang masih berbicara PKI.

Budayawan Goenawan Mohamad mengomentari sejumlah kelompok masyarakat yang melemparkan isu kebangkitan Partai Komunisme Indonesia (PKI) di Indonesia. Menurut dia, kemunculan isu tersebut konyol dan hanya meneruskan kebencian yang seharusnya tidak ada lagi (Tempo.co).

Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI, Asvi Marwam Adam, menyebut isu kebangkitan PKI adalah khayalan, sementara pemuka agama Syafii Maarif menyebut isu PKI tak bermartabat.

Tetapi anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera, PKS, Sukamta Mantamiharja, menunjuk sejumlah indikator yang ia katakan merupakan “peluang” munculnya lagi PKI. Bahkan Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal (Purnawirawan) Kivlan Zen kembali menyebut beberapa tokoh sebagai antek PKI (Tempo.co).

Saya sendiri memahami akan adanya dua versi tentang kebangkitan PKI. Dua versi inipun akan dipengaruhi oleh perspektif, rekaman masa lalu dan bahkan kepentingan politik saat ini. Tindakan “menggoreng” ideologi PKI, agama, ulama dan gorengan lainnya masih sangat efektif dalam tubuh rakyat kita yang mayoritas wawasan bangsa kita masih cenderung jalan di tempat.

Dahulu kala zaman kolonialisme Belanda politik menggoreng ala “devide et impera” sangatlah mujarab karena masyarakat kita mayoritas sumbu pendek dan belum mengenal pendidikan ala Barat yang rasional dan empirikly. Saat ini sumbu rasionalitas bangsa kita sebagian besar masih pendek, sebagian sudah panjang dan tahan hoaks dan berbagai gorengan.

Terutama masyarakat pinggiran yang pengalaman sekolahnya masih rata-rata belum mengenyam pendidikan menengah atau pendidikan tinggi.

Hoaks mengapa laku di Indonesia diantaranya karen emosionlitas lebih kuat dari nalar dan pengetahuan yang didapat. Kasihan masyarakat kita dijadikan pasar jualan fitnah, hoaks, kebohongan dan SARA. Disaat masyartakat lain sudah berbicara ekonomi, teknologi dan ekspansi budaya, bangsa kita masih terlelap tidur “memeluk” SARA.

Idealnya bangsa kita harus mulai menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Sahabat pembaca mari kita tunda dulu masalah PKI lama, saya ingin membahas tentang “PKI Baru”. Apa itu PKI baru? PKI baru adalah sesuatu yang jauh lebih penting dan akan membawa bangsa ini jauh lebih baik. PKI baru adalah singkatan dari pentingnya Pendidikan, Kreatifitas dan Inovasi dalam kehidupan masyarakat kita. Masyarakat kita cenderung malas belajar, konsumtif dan agresif ketika ada gosip.

Agresif pada gosip dan hoaks adalah kecelakaan yang parah. Ini sangat berbahaya bagi ketahanan bangsa kita. Mengapa demikian? Karena bangsa yang mudah meletup dan mayorutas sumbu pendek akan mudah dimainkan bangsa lain. Main hakim sendiri, bertindak radikal atas dasar hoaks dan gosip harus dihindari dari bangsa kita. PKI atau Pendidikan, Kreatifitas dan Inovasi jauh harus lebih mengemuka dibanding beragam gosip dan kegaduhan sosial lainnhya.

Prioritas pendidikian harus menjadi agenda utama negeri ini mengingat tantangan zaman makin sulit siap menghadang dihadapan kita. Bila bangsa kita masih sumbu pendek dan selalu jadi korban hoaks dan gosip maka akan sangat berbahaya. Mengapa bangsa kita begitu suka mengkonsumsi hoaks dan gosip?

Mungkin karena anak-anak kita sejak dalam kandungan selalu disuguhi tontonan TV yang penuh dengan gosip. Ketika mereka lahir dan tumbuh menjadi anggota masyarakat maka konsumsi yang paling menarik adalah gosip dan hoaks.

Menyedihkan.

Saya lebih setuju membahas “PKI Baru” dibanding PKI lama yang cenderung menyulut konflik yang tidak efektif. Saya pikir korupsi saat ini jauh lebih marak dibanding kebangkitan PKI yang masih prediktif. Bukankah para oknum kepala daerah, legislatif, eksekutif dan sejumlah pejabat ratusan bahkan ribuan terlibat korupsi? Saya pikir hantu “KKN” jauh lebih berbahaya dari “nostalgila” ideologi PKI yang bahkan anak zaman now tak mengenalinya.

Saya lebih setuju mengkritik, memberi masukan pada regim yang sat ini berkuasa. Bukan sebaliknya malah menggosip, memfitnah dan merendahkan derajat kepala negara sendiri sebagai orang PKI. Ini sangat politis yang benar adalah Presiden Ketujuh Indonesia (PKI). Jangan sampai kekalahan dalam Pilpres oleh pihak pihak tertentu digoreng menjadi beragam gosip lebay yang tak nalar.

Atau jangan-jangan untuk menjatuhkan Presiden Jokowi di Pilpres 2019 dengan menyebut PKI.
Sungguh tak beradab dan apakah kita seorang yang beragama? Bukankah diajarkan untuk husnudzhon? Bila kita bodoh berpolitik maka kita akan dimainkan oleh para politisi hitam agar ikut kebawa hitam dengan “mencurigai” Jokowi sebagai antek PKI. Bodoh boleh tapi jangan dipelihara apalagi disebarkan pada orang lain. Bodoh adalah nasib, menyebarkan kebodohan adalah nista yang terlalu.

Dalam pidatonya Presiden Jokowi sangat sedih melihat bangsa kita masih ada yang percaya dirinya terlibat PKI. Ditindak bagaimana, dibiarkan juga bagaimana, kasihan katanya. Presiden mengatakan pada saat kejadian tragedi PKI dirinya masih balita. Masa balita dituduh PKI. Beradabkah kita menghukum seorang bayi suci yang Allah undang ke muka bumi ini dan saat ini jadi seorang Presiden? Tanya pada bathin kita yang paling dalam, kecuali tak ada Tuahan dihati kita.

Jualan gosip, ujaran kebencian dan jualan gorengan “mengoreng” PKI menurut saya kurang efeketif. Namun kita harus tetap waspada karena sebagian bangsa kita pernah menjadikan ideologi PKI sebagai alternatif ketatanegaraan kita.
Waspada harus! Lebay dan berlebihan jangan! Yu kita lebih mengutamakan Pendidikan, Kreatifitas dan Inovasi (PKI). Insayaallah akan jauh lebih baik bagi bangsa kita. Zaman now zaman kreativitas dan inovasi. Kerja-kerja-kerja. Bukak hoaks hoaks hoaks.

Waspadalah-waspadalah!!! Terutama pada “PKI Baru” yakni Pendidikan, Kreatifitas dan Inovasi. Waspadalah hanya bangsa yang pendidikan, kreatifitas dan inovasinya hebat akan “memangsa” bangsa lain.
Karena pendidikan, kreatifitas dan inovasi adalah tuntutan zaman now. Bila masih berkutat pada PKI lama, hati-hati jangan-jangan ini adalah rekayasa Yahudi (maaf lebay meminjam istilah pinggiran) agar kita jalan di tempat atau mundur ke belakang seperti era PKI dahulu yang penuh kebencian, pembantaian dan kebodohan.(*)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close