Liputan KhususSUKABUMI

Ini Peristiwa Tragis Dibalik Nama Tanjakan Dini Geopark Ciletuh Palabuhanratu

Reporter : Irwan Kurniawan 

SUKABUMI-Anda yang sudah merasakan sensasi ngaspal di jalan baru menuju kawasan wisata tamanbumi Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, pastilah anda akan merasakan kondisi jalan penuh kelok dansensasi naik turunnya tatkala melewati sejumlah tanjakan di jalan itu.

Suguhan penuh takjub pemandangan alam dengan birunya hamparan laut, hijaunya hamparan pepohonan pada bukit pegunungan lebih dari indahnya lukisan di kertas kanvas, menjadi daya pikat tersendiri manakala melintas di jalan itu.

Dari sekian tanjakan yang ada di lintasan jalan sepanjang 33 kilometer yang membentang mulai daridaerah Loji Kecamatan Simpenan hingga ke Pantai Palangpang Desa Ciwaru Kecamatan Ciemas dengan menelan biaya Rp 200 miliar tersebut, ternyata ada satu nama tanjakan yang memiliki cerita pilu nan tragis.

Tanjakan itu adalah tanjakan Dini, sebuah tanjakan yang di daerah Giri Mukti Kecamatan Ciemas. Tanjakan ini memiliki tingkat kecuraman tinggi apabila dibandingkan dengan tanjakan-tanjakan lain.

Entah siapa yang kali pertama menyematkan tanjakan itu dengan sematan nama tanjakan Dini. Tahu-tahu tanjakan itu kini populer dengan sebutan tanjakan Dini.

Kata Dini untuk tanjakan itu ternyata tidak lain nama seorang ibu muda yang diperkirakan berusia 33 tahuan asal warga Desa Girimukti Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi.

Sebelum disebut tanjakan Dini, konon menurut warga sekitar, tanjakan itu awalnya dikenal dengan tanjakan Legok. Penyebutan tanjakan Dini berawal dari kisah pilu memilukan Dini yang saat itu tengah hamil tujuh bulan.

Kala itu Dini tewas seketika bersama jabang bayi yang dikandungnya di tanjakan tersebut, saat ia bersama sanak familinya tahun lalu tepatnya dua hari setelah Idul Fitri 2017, pulang dari silaturahmi dengan keluarganya di daerah Palabuhanratu.

Dini tewas dalam kecelakaan tunggal karena mobil bak terbuka jenis colt mini L 300 yang ia tumpangi jalan di tanjakan yang waktu itu masih berlantai tanah, terbalik dan jatuh ke jurang lantaran tidak mampu menapaki tanjakan tersebut. Ia mengalami luka cukup parah dan pendarahan hebat.

“Sebenarnya kondisi masih belum laik dilalui karena masih dalam proses pemerataan tebing. Tapi sopir yang membawa rombongan tetap memaksakan untuk melintasi tanjakan itu,”ungkap Ocang (50), warga sekitar menceritakan sepintas sejarah nama tanjakan Dini kepada¬†radarsukabumi.com¬†beberapa waktu lalu.

Selain Dini, sebenarnya ada sekira 20 orang penumpang di mobil yang biasa disebut warga Pajampangan dan sebagian warga Palabuhanratu dengan sebutan mobil toring.

Namun, saat mobil itu akan menaiki tanjakan, di mobil itu hanya ada empat orang penumpang perempuan plus sopir. Sementara penumpang lain diturunkan karena pertimbangan menurunkan bebanmuatan mobil ketika menanjak di tanjakan tersebut.

“Penumpang laki-laki disuruh turun dan jalan kaki saat mobil itu akan melintas tanjakan. Hanya Dini dan tiga keluarga perempuannya yang masih ada di mobil,”kata warga Sangrawayan Kecamatan Simpenan ini.

Meski sebagian besar penumpang sudah diturunkan. Akan tetapi tetap saja mobil tersebut tidak mampu menapaki terjalnya tanjakan yang masih berlantai tanah itu, hingga akhirnya mobil tersebutterbalik menewaskan Dini dan jabang bayi dalam kandungannya.

“Penumpang lain selamat hanya luka-luka saja. Hanya Dini yang tewas. Saya kurang tahu saat kecelakaan Dini ada di jok depan atau dibelakang bak mobil, saya hanya membantu mengevakuasi ke
rumah sakit saat Dini sudah tergeletak diatas tanah,”terang Ocang.

Dari kejadian tragis itulah, tanjakan itu oleh masyarakat sekitar disebut tanjakan Dini bukan lagi tanjakan Legok. Menurut Ocang, keluarga Dini pun sudah mengetahui kalau nama anaknya oleh masyarakat dijadikan sebuah nama tanjakan.

“Mungkin karena masyarakat tahunya Dini meninggal dunia di tanjakan itu sana. Jadi disebut saja tanjakan Dini,”tandasnya.

Nama tanjakan Dini juga oleh sebagian masyarakat memiliki pesan dan makna tersirat. Yakni, kalau melewati tanjakan itu, para pengendara harus lebih ekstra hati-hati karena tanjakan itu dirasa tanjakan paling ekstrem.

“Sekarang tanjakan Dini sudah dibeton lebih nyaman dan aman, tetapi tetap kita harus lebih ekstra hati-hati dari dini ketika akan melewati tanjakan Dini. Ini agar kejadian yang menimpa Dini tidak terjadi lagi. Pesan itu yang harus kita renungkan dari nama tanjakan Dini,”kata tokoh penggerak pariwisata Kabupaten Sukabumi, Dadang Hendar.(radarsukabumi)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close