ARTIKEL

Jalan Buntung, ‘Iwit-Iwit Lutung’

Oleh: Handi Salam Redaktur di Radar Sukabumi

PADA suatu hari di Awal bulan Desember 2017 kemarin, saya melihat seorang anak bermain bersama teman-temannya di pelataran rumah tua berciri khas Eropa peninggalan kolonial Belanda. Terlihat tak terurus, tapi rasanya masih laik digunakan untuk sekedar bermain dan menghabiskan waktu. Tembok dan Atap rumah yang melengkung menampakan sentuhan arsitektur eropa yang menempel di dinding luar dan sejumlah sudut rumah. Batu alam hingga Clapbord siding mempercantik. Meski sudah tidak utuh lagi, tapi setidaknya bangunan itu memberitahukan kepada saya bahwa pernah ada penjajah dinegeri yang amat kita bela ini.

Terlepas dari kesan angker, rumah tua yang memiliki ukuran yang sangat besar memiliki karakter yang sederhana, namun kokoh dan artistik dengan yang menampilkan teknik marquetry dan veneering jadi pembeda dengan rumah lain pada umumnya.

Saat mendekat, saya sempat terdiam sejenak melihat-lihat sekitar. Tersadar ketika ada suara anak-anak memainkan permainan Sunda ‘Iwit-iwit lutung’ dengan asiknya. Wajah anak-anak terlihat ceria tanpa beban dan tekanan. Padahal permainan sunda itu mengharuskan para pemainnya saling cubit tangan bagian atas temannya secara bergantian sambil menyayikan ‘Iwit-Iwit lutung, Si lutung pindah ka luhur. Iwit-Iwit lutung Si lutung pindah ka luhur’. (Saling cubit bagaikan lutung, Lutungnya naik ke atas. Saling cubit bagaikan lutung, Lutungnya naik ke atas’).


Permainan ini merupakan warisan turun menurun asli Sunda. Namun, tak banyak anak-anak jaman sekarang memainkannya, mereka lebih suka memainkan permainan digital dari smartphone-nya ketimbang permainan lokal yang syarat akan makna. Kurangnya edukasi dan faktor kemajuan jaman menjadi alasan yang logis permain ini ditinggalkan.

Terbesit dalam fikiran, bahwa sejujurnya permainan ‘Iwit-iwit lutung’ yang dimainkan anak penghuni rumah tua itu sangatlah cocok dengan situasi saat ini. Mengapa, lihat saja setiap berganti kepimimpian baik itu partai politik, kepala daerah, hingga RT sekalipun selalu saja ada drama ‘Cubitan’ ke Pemimpin sebelumnya ataupun ‘cubitan’ dari yang ingin memimpin selanjutnya.

Selain itu, makna yang tersirat dalam permainan ini adalah Kebodohan yang diciptakan. Bagaimana tidak, kelakuan orang ketika yang berada diatas selalu saja mencubit yang dibawah, padahal dia lupa suatu saat bisa berada dibawah dan mau tidak mau ‘dicubit’ yang berada diatasnya hinga tak berkesudahan.

Jika kita mau menggali apa yang terkadung dalam permainan ini, sungguhlah dalam makna yang tersembunyi disampaikan leluhur kita. Orang dulu sangatlah pintar sebetulnya bisa menyembunyikan hal yang serius didalam seni. Sepintas tidaklah asing permainan ini, hanya permainan biasa untuk anak-anak. Namun, jika kita mau mengkaji pesan yang disampaikan dalam permainan ini tentulah sangat berguna bagi kita semua.

Kritikan yang disembunyikan dalam seni permainan ini menggambarkan situasi dahulu ketika pemimpin kita diadu domba oleh kolonial belanda. Dimana mereka sengaja menciptakan situasi saling ‘cubit’ dengan saudaranya hingga menimbulkan situasi yang tidak kondusif. Tujuannya jelas adalah untuk menjajah dan menjarah kekayaan negri kita.

Tak salah semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari Kitab Sutasoma yang diciptakan pada era Majapahit menjadi semboyan negara ini. Dengan adanya semboyan itu, menandakan bangsa ini memiliki sejarah sering terjadi perpecahan antara suku atau kerajaan di masa lalu. Situasi itulah, yang membuat bangsa kolonilal menyukai politik adu domba hingga bangsa ini berkubu-kubu, saling menghujat bahkan hingga terjadi perang sekalipun. Konflik suku, ras dan agama membuat satu momok yang menakutkan dan membuat bangsa ini tak sempat memikirkan masa depan.

Ketika orang barat menilai bangsa ini tidak berkopenten dan mudah terbawa arus, itu benar adanya. Serperti yang terjadi baru-baru ini misalnya ketika ada kabar Ustad Abdul Somad dihadang oleh sejumlah orang yang mengatasnamakan agama dengan alasan yang tidak jelas. Padahal sebetulnya, justru yang agamanya kuatlah yang bisa menghargai agama orang lain. Masalah pendangan setuju tidak setuju pada saat ini sangatlah liar, banyaknya dan mudahnya mendapatkan informasi hoax mendoktrin masyarakat untuk benci kepada golongan lain dan merasa benar dengan golongan sendiri.

Dan apakah situasi ini sama seperti permainan anak-anak tadi, dalam hitungan kemerdekaan yang sudah berumur 72 tahun ini. Bangsa ini tidaklah dewasa, terlihat lebih doyan saling ‘cubit’ dengan sesama ketimbang dengan bangsa lain. Apalagi di tahun politik mendatang, suasana saling ‘cubit’ akan terasa kembali. Orang yang berada di bawah jelas ingin berada di atas untuk membalas ‘cubitan’ begitupun yang diatas akan mempertahankan ‘cubitannya’.

Mungkin permainan ‘iwit-iwit lutung’ sudah ditinggalkan anak-anak, tapi makna yang terkadung didalamnya masih bisa direnungkan oleh kita. Sebagai rakyat yang mulai diberikan kebebasan bersuara sejak orde baru tumbang, harus kita berhenti untuk berfikir jongkok dan berdiam diri ketika melihat ada drama cubit-cubitan masih dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kita, toh pada akhirnya tidak ada yang akan benar-benar menang yang ada sebuah kebuntungan tak berkesudahan hingga lupa caranya memikirkan masa depan. (*)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close