KESEHATAN

Mengenal Penyakit Appendiksitis

Oleh : Melis Sulastri,Am.Kep
Kepala Ruangan Rawat Inap Atas RS Betha Medika

Penyakit usus buntu mungkin merupakan penyakit yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita.

Penyakit ini dapat menyerang semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering pada usia 10 sampai 30 tahun dan jarang terjadi pada bayi di bawah 1 tahun.

Penyakit usus buntu dalam Bahasa medis disebut dengan Appendiksitis adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada umbai apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling sering terjadi.

Penyebab radang usus buntu dimulai ketika usus buntu mengalami sumbatan, paling sering oleh tinja yang keras yang merupakan 30-40% penyebab radang usus pada anak-anak.

Penyebab lainnya adalah bakteri, batu empedu, infeksi, benda asing diketahui pernah menimbulkan sumbatan pada usus buntu.

Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.

Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.

Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut.

(Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).

Apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat.

nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.

Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat dirasakan pada perut kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney.

Gejala-gejala yang identik dengan peradangan usus buntu terkadang hanya ditemukan pada sebagian penderita.

Gejala tersebut juga cenderung mirip dengan penyakit lain sehingga sulit di diagnosis.

Letak usus buntu pada tiap orang berbeda-beda.

Hal ini juga dapat mempersulit proses diagnosis.

Ada yang terletak di bagian lain, misalnya pada rongga panggul, di belakang usus besar atau di bawah organ hati.

Pada saat pemeriksaan dokter biasanya akan menanyakan gejala-gejala Anda sebelum mengadakan pemeriksaan lebih lanjut yang berupa:

Pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi, penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi perforasi.

Tes darah, biasanya didapati peningkatan jumlah leukosit (sel darah putih).

Tes urine diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lainnya berupa peradangan saluran kemih.

Pada pasien wanita, pemeriksaan dokter kebidanan dan kandungan diperlukan untuk menyingkirkan diagnosis kelainan peradangan saluran telur/kista indung telur kanan atau KET (kehamilan diluar kandungan) (Sanyoto, 2007).

Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dan CT scan bisa membantu dakam menegakkan adanya peradangan akut usus buntu atau penyakit lainnya di daerah rongga panggul (Sanyoto, 2007).

Pengobatan tunggal yang terbaik untuk usus buntu yang sudah meradang/apendisitis akut adalah dengan jalan membuang penyebabnya yaitu dengan cara operasi pengangkatan usus buntu.

Apabila tidak segera di operasi, maka usus buntu dapat mengalami perforasi atau bolong dan pecah.

Hal ini akan menyebabkan terjadinya perluasan infeksi sehinga timbul abses (akumulasi nanah) atau peritonitis difus (peradangan pada lapisan peritoneum yang menutupi saluran pencernaan).

Tanda suatu perforasi usus buntu adalah adanya peningkatan suhu tubuh yang melebihi 38.6ÂșC, peningkatan sel darah putih leukosit > 14.000 yang disertai dengan gejala peritonitis dapat berupa nyeri perut dan kaku perut.

Dengan mengetahui hal-hal apa saja yang bisa menjadi penyebab radang usus buntu, kami berharap kita semua dapat mencegah penyakit ini dan menjaga perilaku hidup sehat.

Salam Semakin sehat, untuk kita semua dari kami, keluarga Besar Rumah Sakit Betha Medika.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close