POLITIK

Bulan Ini Golkar Gelar Munaslub

Tetap Jalan Meski Papa Novanto Menang

JAKARTA— Ketua Umum Kesatuan Organisasi Gotong Royong (Kosgoro) Agung Laksono mendesak Partai Golkar menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada pertengahan Desember 2017.

“DPP Partai Golkar harus mendengarkan suara-suara kader di daerah dan saat ini ada 31 dari total 34 DPD I yang meminta diadakan Munaslub. Kami berharap bahwa usulan-usulan harus direspons positif,” tegasnya usai rapat di Jakarta, Sabtu (2/12).

Agung menekankan urgensi menggelar munaslub tinggi.

Pasalnya selain elektabilitas dan marwah partai yang kian tergerus, ada kontestasi politik di tahun mendatang yang harus dihadapi Partai Golkar.

Untuk itu jika Golkar menggelar Munaslub Desember ini, Partai Golkar masih memiliki waktu untuk mempersiapkan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

“Untuk itu kami mendesak Munaslub dilakukan dalam Desember ini supaya dapat memasuki tahun depan dengan bersih. Tugas-tugas kepartaian seperti Pilkada, Pileg, dan Pilpres bisa dilakukan dengan baik,” demikian Agung.

Sementara itu, Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin memprediksi, pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa atau Munaslub Golkar tetap akan jalan, meski nantinya Setya Novanto menang praperadilan untuk yang kedua kalinya.

Pasalnya, permasalahan utama partai berlambang beringin tersebut bukan semata terkait status hukum Papa Novanto (julukan Setya Novanto) yang kembali ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dugaan korupsi pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP).

Namun citra yang kini benar-benar telah runtuh di mata masyarakat, sebagai pemegang hak suara penentu pemerintahan dan legislatif ke depan.

Karena itu untuk mengembalikan marwah Golkar, munaslub untuk memilih ketua umum yang baru harus secepatnya dilakukan.

“Jadi munaslub sangat penting dan mendesak dilakukan tanpa harus menunggu prapradilan. Seandainya SN menang, munaslub harus tetap dilaksanakan,” ujar Ujang kepada JPNN (Group koran ini), Minggu (3/12)

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini meyakini mayoritas kader Golkar mengetahui hal tersebut.

Karena itu tidak heran desakan terhadap penyelenggaraan munaslub terus disuarakan berbagai elemen yang ada di Golkar.

“Nah sekarang pertanyaannya, siapa yang layak menggantikan SN. Saya kira pemegang suara di Golkar perlu berhati-hati. Salah memilih, justru akan membuat partai tersebut bakal makin runtuh,” pungkas Ujang. (gir/jpnn)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close