NASIONALSUKABUMI

Dentuman Gunung Agung Bikin ‘Ngeri’

BALI – Gunung Agung terus mengalami erupsi. Sejak erupsi freatik pertama, Sabtu (25/11) pukul 17:30 Wita dengan ketinggian 1.500 meter dari puncak kawah, erupsi susulan terjadi beruntun sejak Sabtu malam pukul 23.00 Wita.

Erupsi terpantau kembali terjadi kemarin (26/11) pagi pukul 05.05 Wita dengan tinggi kolom abu kelabu gelap bertekanan sedang mencapai 2.000 meter. Disusul kemudian pukul 05.45 Wita ketinggian mencapai 3.000 meter. PVMB terus menerus melaporkan perkembangan erupsi kepada Posko BNPB dan kepada masyarakat.

Erupsi kemudian kembali terjadi pada pukul 06:20 Wita dengan ketinggian erupsi mencapai 3.000 meter hingga 4.000 meter dari puncak mengarah ke tenggara dengan kecepatan 18 km per jam. Dentuman keras juga terjadi pada Pukul 20.00-21.00 Wita. Bahkan, suara dentuman terdengar sampai ke pos pantau di Desa Rendang yang letaknya 12 Km dari puncak kawah.

Kasubid Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), I Gede Suantika mengatakan, dentuman ini terekam seismograf. Diperkirakan hal ini terjadi akibat semburan abu vulkanik. “Terekam dua kali ada suara dentuman, spektrum gelombang 20 Hertz. Kemungkinan saat abu keluar dalam volume besar, tapi lubangnya masih terlalu sempit,” kata Suantika.

Ia mengatakan, jika ada abu vulkanik dalam jumlah besar keluar, maka akan terjadi dentuman akibat bersinggungan dengan batuan. Abu vulkanik mengepul bersama pergerakan magma. Namun, dia belum memastikan apakah dentuman keras ini merupakan fase menuju letusan besar setelah letusan pembuka.

Menurut catatan PVMBG sebagaimana tahun 1963, letusan Gunung Agung diawali letusan pembukan sebagaimana yang terjadi saat ini. “Apakah ini gejala menuju letusan besar, kita liat besok ya sampai sebulan ke depan ya,” kata Suantika.

Sementara itu, ratusan pengungsi asal Desa Dukuh, Kecamatan Kubu mulai berdatangan ke Kabupaten Buleleng. Sementara ada 460 orang warga yang mengungsi ke Desa Tembok, Kecamatan Tejakula. Warga itu berasal dari Dusun Dukuh dan Dusun Candigeha. Mereka sudah bersiap mengungsi sejak Sabtu (25/11/2017) malam, setelah terjadi erupsi freatik kedua.

Semula mereka mengungsi di proyek Galian C Bumi Pasir Pertiwi, yang berjarak 12 kilometer dari kaldera. Minggu (26/11/2017) pagi, mereka langsung diungsikan ke Buleleng oleh petugas kepolisian.

Salah seorang pengungsi Made Sutha mengungkapkan, asap sudah membubung dari kawah sejak Sabtu sore. Pada malam hari terlihat pijar api dari kawah. Pagi tadi warga pun melihat bubungan asap yang cukup tinggi. Warnanya hitam pekat. Sehingga warga bergegas mengungsi. “Asapnya sudah hitam. Makanya kami mengungsi. Pak kadus juga mengarahkan pengungsi,” ucap Made Sutha.

Kepala Dusun Dukuh, I Wayan Suarthama mengatakan, warga diungsikan untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan. Apalagi api sudah terlihat dari dalam kawah. “Pokoknya kami ungsikan dulu. Selamatkan jiwanya dulu. Nanti kalau sudah agak aman, baru kami pikirkan masalah harta benda dan ternak,” kata Suarthama.
Ia memastikan seluruh warganya sudah ikut mengungsi. Rencananya warga dari Dukuh akan mengungsi secara bertahap ke Desa Tembok hari ini. (rb/eps/mus/mus/JPR/net)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close